Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Kebenaran dari Pembuktian


__ADS_3

...Author POV...


Fian semakin tak fokus bekerja. Sudah dua hari dia bergadang tanpa sebab. Dan ya, dia tengah pusing memikirkan Vie.


Kemarin Fian menyuruh salah satu bawahannya untuk melacak keberadaan Vie. Tempat tinggal, rekan kerja, partner yang menjalin kerjasama dengan Vie, menguntit apa saja yang Vie lakukan dalam satu harian penuh dan tak lupa mencari kebenaran mengenai anak Vie.


Dengan keahlian orang bayarannya itu dia dapat berbagai informasi yang ada. Dan bahkan Fian tengah menunggu hasil DNA.


Ya. DNA.


Bagaimana bisa? Bawahannya telah mendapatkan sampel rambut bocah kecil itu dengan cekatan tanpa di curiga siapapun termasuk anak itu sendiri. Tidak sia sia Fian membayar mahal untuk pekerjaan mereka.


"Gimana? Apa hasilnya?" Tanya Fian pada Danang yang sekarang ada di hadapannya.


Mereka tengah duduk di ruangan Danang setelah Danang menyuruhnya untuk datang sore ini.


"Anakmu." Kata Danang singkat.


Fian membolangkan matanya, "Serius kan? Ngak ada yang salah atau hilaf nih data?"


"Ngak ada. Udah paling konkrit. Dia positif anakmu."


Fian tersenyum miring. "Oke. Ini cek untukmu." Fian memberikan cek 200 juta. "Apa lagi yang kau mau, katakan saja."


Danang melihat cek itu. "Buset. Cek DNA doang 200 juta. Bego kau ya."


"Ini nih. Mentang mentang orang kaya suka suka buang uang." Sambung Danang menggelengkan kepalanya.


Danang memutar bola matanya malas, "Ya elah. Aku bercanda kali mengenai biaya." Danang kembali menggeser cek itu ke hadapan Fian, "Gak setipis itu pertemananku sampe minta uang. Orang cuma cek DNA doang. Aku gak butuh nih lembaran."


"Apaan. Kau harus terima lah, kan udah di kasih. Itung-itung tanda terima kasihku." Fian kembali menggeser ceknya ke arah Danang, "Di mana mana kalau tes DNA itu mah bayar."


Danang kembali menggeser ceknya, "Kalau aku bilang gak ya ngak."


"Terima." Fian kembali menyodorkan sepotong kertas mahal itu.


"Gak." Danang kembali mendorongnya kekeuh dengan pendiriannya.


Fian membolangkan matanya memaksa Danang menerimanya, "Nang."


"Enggak usah." Danang tak kalah keras kepala.


"Ngeselin banget. Terima aja napa."


"Gak mau. Maksa amat."


"Danang jangan paksa aku.."


"Udah udah. Mending kita bahas istri mu aja. Gimana tuh dia? Udah dapat pengganti baru apa enggak."


Fian menoyor kepala Danang, "Sembarang kalau ngomong! Gak ada yang bisa nikah sama dia!" Kesal Fian.


Danang meringis kesakitan sambil memegangi jidadnya, "Ish... Biarin lah. Toh juga kau ngak mau balik sama dia kan? Ngapain dia sih di tahan tahan."


Fian juga tak tau alasan yang jelas atas pertanyaan Danang. Di satu sisi dia masih sangat amat mencintai Vie, di sisi lain dia sangat membenci Vie karena menganggap Vie bersengkongkol dengan ibunya untuk merusak hubungan antara Mamanya dengan Papanya dulu.


"Elah.. malah diem nih orang. Woy!" Panggil Danang memecahkan lamunan Fian.

__ADS_1


"Ck. Udahlah, aku mo balik." Fian bangkit berdiri dan segera meninggalkan Danang.


Danang menggelengkan kepalanya, "Aneh... Memang tu anak. Dia yang buat keputusan jauhi istrinya sendiri, lah dia sendiri yang suntuk. Ckckc. Gak jelas memang."


Fian berjalan menuju arah parkiran mobil. Di saat yang bersamaan dia melihat Claire tengah sibuk mencari seseorang,


'Ngapain dia ke rumah sakit?' batin Fian.


Fian kembali menggeleng, 'Biarkan saja. Toh bukan urusanku.'


"Claire!" Panggil seseorang yang suaranya tak asing di telinga Fian.


Fian menoleh dan mendapati Vie tengah berjalan ke arah Claire, "Maaf nunggu lama. Tadi masih mastiin obatnya."


Vie?! Ngapain dia sama Claire?!


"Iya ngak apa. Kita pulang sekarang ya?" Ucap Claire sambil tersenyum kecil dan mengelus rambut Vie.


Fian yang melihat itu auto sangat panas membuat dia mencengkram tangannya kuat kuat hingga ujung kukunya memutih.


Segera Fian berjalan ke arah mereka dan menarik Vie menjauh dari Claire dengan sorot mata Fian menatap tajam Claire, "Ngapain berduaan sama istri orang huh?"


Fian menunjuk Claire, "Jangan pernah dekati Vie atau kau akan dapat akibatnya."


Fian menarik tangan Vie meninggalkan Claire.


Ingin sekali Claire membanting Fian sekarang juga. Emosinya sudah meluap. Namun dia tak mau terlihat kejam di mata Vie sebelum dia benar benar mendapatkan Vie seutuhnya. Jadi dia terpaksa diam di tempat.


Claire membuang obat penenang hingga hancur berantakan di lantai parkiran. Obat yang dia beli di apotik tanpa sepengetahuan Vie itu akan dia gunakan untuk anak Vie tadinya. Dia ingin segera melenyapkan anak itu agar tak menjadi penganggu. Yang Claire inginkan hanyalah Vie dan dia selamanya. Tidak ada yang lain.


Claire akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan Vie, apapun itu.


Dia bahkan tak segan segan membunuh pekerjaannya jika dia ingin melakukannya.


Di hukum pidana?


Tentu itu takkan terjadi. Claire buang sangat pintar dan jenius bisa memanipulasi data dan kejadian yang terjadi menjadi sebuah kecelakaan yang wajar.


Sungguh kejam. Itulah Claire.


Claire menarik nafas dalam-dalam menutup matanya. Kemudian bdia mengeluarkannya secara perlahan dan membuka matanya, "Tahan... Kau akan memilikinya Claire. Kau akan memilikinya."


Di sisi lain Fian masih menahan tangan Vie paksa.


Dengan kekuatan yang dia miliki Vie mengentakkan tangannya membuat gandengan mereka terlepas, "Jangan pernah memaksaku melakukan sesuatu. Aku bukan barang!"


Fian yang masih di bakar api cemburu tak perduli dengan kalimat Vie dan segera menggendongnya dan memasukkannya dalam mobil.


Fian mengunci mobilnya segera setelah Vie dan dirinya masuk.


"Fian kau gila!"


Fian menutup telinganya sesaat mendengar suara melengking Vie.


Dia melepaskan tangannya dari telinga dan menatap Vie, "Sebutkan alamat rumahmu."


"Gak! Aku akan pulang sendiri! Cepat buka kunci mobilnya!

__ADS_1


"Tidak akan sebelum kau mengatakannya." Fian berkeras kepala.


Vie mengentakkan kakinya, "Cepat! Kalau tidak aku akan.."


"Akan apa." Sambung Fian cepat dengan wajah datarnya.


"Akan memukulmu."


Fian diam sejenak kemudian tersenyum miring menaikkan salah satu alisnya, "Kau takkan pernah bisa lakukan itu."


"Kenapa tidak?! Aku akan mematahkan tulangmu mulai dari leher hingga kaki!"


Fian tersenyum tipis, salah satu yang Fian rindukan adalah sikap cerewet Vie juga.


"Aku tak perlu dengan jawabanmu. Aku tau kita harus kemana."


Deg!


Tanpa pikir panjang Fian menancap gasnya, dia melajukan mobilnya dengan kencang menuju apartemennya.


Karena terlalu brutal di jalan Vie jadi jantungan sendiri, "Baiklah! Jalan Cempaka putih persimpangan jalan raya! Itu rumahku!" Ucap Vie.


Fian menaikkan salah satu alisnya melihat Vie dengan senyuman jahil.


"Jangan main main dengan nyawa Fian! Aku masih punya anak yang harus di besarkan!" Ucap asal Vie membuat Fian ingin tertawa.


Vie menutup matanya takut dengan kendaraan ini semakin melaju kencang. "Fian... Hu hu hu..." Vie menahan tangisnya karena takut.


Fian yang tak tega pun memelankan laju mobil dan menepikannya.


"Hu hu hu... Takut..." Tangis Vie. Dia takut jika mati di jalan.


Membayangkan tertabrak truk, bus ataupun trotoar yang akan menghancurkan tubuh nya hingga terpisah seperti video video emak emak di Whatsapp membuat dia bergidik ngerih dan ketakutan.


"Sudah. Aku sudah menghentikan mobilnya." Ucap Fian.


Vie masih menangis.


Fian mendekatkan dirinya dan memeluk Vie, "Maaf."


Vie mendongak membuat wajah mereka saling tatap lekat.


Fian mengusap air mata Vie. "Makanya jangan buat kesal. Tadi di tanya bukan di jawab bener bener."


Vie seunggukan.


Fian mengecup bibir Vie tanpa sadar beberapa kali. Itu yang sering di lakukan Fian terhadap Vie jika istrinya dulu menangis.


Vie tersadar. Dan kemudian mendorong tubuh Fian.


"Kau sialan! Bisa bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Ucap Vie.


Fian mengedikkan bahunya, "Itu belum kesempatan. Ciuman singkat begitu mana terasa." Kata Fian santai tanpa beban.


Vie hendak memukul Fian.


"Eits... Mau aku ngebut lagi?"

__ADS_1


Vie terdiam dan menahan dongkol di hati. Sungguh Fian sangat menyebalkan.


__ADS_2