
Setelah mandi Vie keluar kamar mandi dan melihat Fian telah tertidur.
Fuh... Syukurlah...
Vie dapat bernafas lega.
Vie berjinjit pelan saat berjalan agar suara langkah kakinya tak terdengar oleh Fian.
Fian yang sama sekali tak tidur melihat Vie yang berjinjit seperti maling membuatnya ingin tertawa. Terutama dia sangat ingat saat Vie sungguh malu saat berciuman dengannya.
Vie melangkahkan kaki menuju ranjang untuk mengambil ponselnya.
Dreb...
Tangan Vie di tarik Fian dan membuat Vie terjatuh dalam dekapannya.
Fian membenamkan wajahnya di ceruk leher Vie. "Wanna *** Vie?" Kata Fian dengan deep voice.
Vie langsung merinding seketika dan merontah rontah. "LEPAS!!!"
Tapi Fian memang sudah tak tahan lagi. Fian menciumi leher Vie perlahan dan meninggalkan kiss mark di sana. "Akh..." Pekik Vie saat gigitan itu bercap di lehernya.
Fian melingkarkan kakinya pada kaki Vie dan membuat Vie tak dapat bergerak.
"FIAN!!! LEPAS!!!"
Fian kesal setiap kali mendapat penolakan Vie dan membuat dia ******* rakus bibir Vie sedangkan tangannya dengan cepat mencoba melepaskan baju Vie.
Dan lihatlah. Tak ada sehelai bajupun melekat pada keduanya.
Vie mencengkram erat tubuh Fian saat tangan Fian meremas d*d* nya dengan sensual. Vie terus merontah menendang dan segala hal untuk perlawanan dia lakukan. Tapi semuanya sia sia, Fian terlalu kuat di bandingkan dirinya, "FIAN STOP!!!" Jerit Vie di tengah ciuman ganas Fian.
"Berhenti? Di saat seperti ini? Tentu tidak sayang..." Batin Fian.
Tak perduli Vie akan membencinya atau tidak, dia libidonya sudah naik ke ubun-ubun. Fian terus melancarkan aksinya sampai Vie seperti merasakan ada sesuatu yang menekan daerah sensitifnya. Vie semakin mencengkram bahu Fian. "FIAN... JANGAN..."
"Vie......" Desah Fian di barengi dengan teriakan Vie saat Fian melakukan penyatuan dengan hentakkan.
Darah mengalir dan Vie meringis nyeri.
Fian menatap Vie dengan senyuman miring dan mengusap rambutnya. Puas telah merenggut kesucian Vie.
Vie yang sedari tadi merontah rontah telah kehabisan tenaga melawan Fian. Namun dia tetap terus memukul Fian walaupun sungguh sangat lemah di tambah rasa nyeri jika dia semakin memberontak membuat dia seketika lemah. Dia menangis dan meringis.
Fian sungguh menikmati posisi ini...
Malam ini pun menjadi malam panjang dan panas antara Vie dan Fian.
Vie terus menangis sejadi jadinya sedangkan Fian sangat menikmati tubuhnya.
***
Vie masih tertidur karena sungguh kelelahan dengan perbuatan bejat Fian.
Badannya sangat remuk dan kantuk tak tertahankan lagi bagi Vie.
Sedangkan Fian terus menatap wajah Vie dengan tersenyum nakal.
__ADS_1
Fian menyentuh wajah Vie dan tubuh Vie yang penuh keringat. Kembali menindih Vie dan mendekapnya.
Kulit tubuhnya menempel dengan Vie. Menimbulkan sensasi aneh membuat Fian tak akan pernah membiarkan ada seseorang menyentuh Vie selain dirinya.
"Apakah kau akan hamil anakku Hm?" Bisik Fian di telinga Vie yang masih tertidur dengan di akhiri tawa singkat.
Sejak kapan dia menginginkan anak dari seorang perempuan huh?
Fian kembali menatap Vie yang mulai terbangun karena merasakan sesuatu yang berat menimpa badannya.
Fian masang wajah datar saat Vie tak meresponnya sama sekali. Ntah marah ataupun pukulan, Vie tak melakukannya.
Vie tampak diam dengan tatapan mata kosong.
Yup. Vie telah merasa menjadi manusia paling kotor yang pernah ada. Manusia menjijikan dan berdosa. Itulah yang ada di pikiran Vie sekarang.
Sungguh memalukan dan terasa seperti sampah!
Bodo amat dengan sikap Vie, Fian memeluk erat tubuh Vie terus dan merasakan sangat nyaman. "Kenapa hm?" Tanya Fian pada akhirnya kuatir.
Ntahlah dia jadi tak suka dengan sikap Vie diam pasif.
"Dia masih bertanya?!" Batin Vie geram dan marah.
Vie memilih diam dengan pikiran mengambang ntah kemana.
***
Cukup sudah. Pagi ini Vie dan Fian berangkat ke sekolah dengan Vie yang sangat trauma dengan hal yang terjadi padanya.
Vie termenung di kelas dengan pikiran yang berantakan. Dia tak tau harus apa dan bagaimana.
Menyadari Vie yang diam di kelas saat guru mengajar, Fian merasa Vie sedang memikirkan hal yang buruk.
Ntah kenapa Fian jadi kuatir dan merasa tak nyaman dengan keadaan Vie.
Vie terbesit suatu ide yang terbaik baginya untuk di lakukan.
Sesuatu untuk menghilangkan rasa ketakutannya dan akan menjadi jalan keluar yang terbaik.
Bunuh diri...
Vie mengangkat tangannya membuat gurunya melihat ke arah Vie. "Kenapa Vie?"
"Bu saya izin ke kamar mandi," ucap Vie dengan wajah pucat dan pandangan kosong.
Guru mengangguk karena berfikir Vie sedang tidak enak badan, "Baiklah, silahkan."
Vie bangkit berdiri dan berjalan keluar kelas.
Fian yang masih berdiam dan berfikir mengenai Vie sambil menatap bukunya, tak menyadari bahwa Vie telah keluar kelas.
Sesaat dia menuruni anak tangga dan jauh dari kelas. Vie berlari ke luar sekolah. Memanjat pagar belakang sekolah dan kembali berlari tak tau arah.
Fian kembali melihat ke arah kelas Vie.
Matanya terbelalak saat tak melihat Vie di sana. Membuat dia bangkit berdiri dan izin ke luar kelas pada guru.
__ADS_1
Fian memasuki kelas dengan terburu buru Vie, "Vie kemana ya Bu?"
"Oh Vie, dia tadi ke kamar mandi sebentar. Kenapa Fian?" Tanya guru itu balik.
"Oh. Tadi dia meminjam buku saya Bu. Jadi saya ingin meminta kembali buku saya." Alasan Fian cukup pintar.
Guru mengangguk mengerti, "Oh. Jam istirahat saja kamu minta kembali buku kamu nak."
Fian mengangguk. Feeling Fian sungguh tak baik. Rasa takut menyelimutinya.
Fian langsung keluar kelas dan berjalan dengan langkah cepat menuju kamar mandi wanita.
Betapa terkejutnya Fian saat melihat kamar mandi wanita kosong tak ada siapapun.
DAMN!...
Sepertinya memang ada yang tidak beres!
Fian berlari ke luar sekolah dan mencari keberadaan Vie.
***
Vie melihat ke arah bawah jembatan yang lumayan sepi karena jam kantor.
Vie sudah putus asa dan akan mengakhiri semuanya! Dia ingin mati dengan tenang dan tak merasakan kejahatan dunia ini yang membullynya tak henti.
"Hidup ku sekarang memang sulit nak. Tapi kehidupan mu akan tetap sama di manapun masa yang akan kau tempuh," terdengar suara kakek kakek dari tempat yang tak jauh dari Vie berada.
Vie melihat ke arah kakek itu dengan terkejut. Itu kakek yang sama saat di taman beberapa hari yang lalu. Kakek yang berbicara aneh padanya kini kembali hadir di sini.
"KAKEK TAU APA?! HIDUPKU SUDAH HANCUR!! JANGAN HALANGI AKU!!" Vie menjerit sejadi-jadinya dengan begitu marah sambil menangis meratapi hidupnya.
"Jadi kau ingin hidup lebih baik lagi?" Kakek itu tertawa garing aneh, "Kau akan mendapatkan kehidupan yang sama di manapun kau berada... Itulah garis kehidupanmu." Kata kakek itu singkat.
Vie berfikir sejenak menelaah apa maksud kakek aneh ini. Dia berkata terlalu banyak dan memusingkan kepala Vie.
Langkah Fian sangat lebar dan cepat. Mencari keberadaan Vie dengan petunjuk radar yang telah di setel ya di ponsel Vie sehingga dia tau keberadaan Vie sekarang.
"VIE!!!" Panggil Fian dari kejauhan saat melihat Vie tengah berdiri di pembatas jembatan menuju sungai yang berarus deras.
Fian terus berlari dan hampir mendapatkan Vie.
Melihat Fian hampir mendekatinya Vie langsung memanjat dan melompat dari jembatan. Sungguh keputusannya sudah bulat...
Menghilang dari dunia ini...
Sangat tipis saat tangan Fian hendak mendapatkan tangan Vie.
Vie merasa tenang saat dia bisa melakukan ini... Dia akan terbebas dari kesusahan dunia... Ini adalah jalan terbaik...
Byur..
Vie terjun dan tenggelam di dalam sungai. Dia sama sekali tak bergerak dan membiarkan dirinya kehabisan nafas.
Pandangan Vie memudar dan menggelap.
Sesak terasa di dada.
__ADS_1
Oksigen telah berganti dengan air yang memenuhi di paru paru Vie.
Dan sungguh sekarang Vie bahkan tak merasakan apapun lagi sekarang.