
Catatan penulis:
Hehe, aku up 2 yauu
...Ryan POV...
Aku mendengus membuang rasa amarahku pada bawahan yang tadi. Bahkan aku merutukinya karena ulahnya yang menunda aku pulang.
Aku membuka pintu kamar sedang Vie duduk bersender di ranjang sambil membaca sesuatu. Dia menatapku heran.
Aku berjalan ke arahnya merebahkan diriku di atasnya, "Sayang..." Keluhku.
Vie menyingkirkan bukunya dan membalas pelukanku sambil mengelus kepalaku, "Kenapa?"
Aku menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya, "Sayang, aku berjumpa dengan orang aneh tadi. Dia bilang..."
Kalimat ku terhenti membuat Vie menatapku intens pemasaran. Aku bilang saja atau tidak ya?
Sebenarnya aku bukan takut, namun hanya saja aku hanya tak ingin Vie jadi kuatir. Lebih baik aku diam saja.
Lagipula bukankah itu tak penting?
Tapi aneh, aku sangat mengingat kalimat dari mulutnya, namun aku melupakan wajahnya. Huh?
"Sayang?" Tanya Vie membuat aku tersadar dari lamunanku.
Aku menatap wajahnya Vie kembali.
"Biasalah anggota di kantor. Ada aja tingkahnya yang lama. Jadi aku merasa sedikit emosi saja," jawabku santai membuat Vie mengangguk percaya.
Vie mengelus kepalaku, "Pati hari ini kau sangat lelah kan?" tanyanya perhatian.
Aku tersenyum kecil. Rasanya sangat indah jika seorang istri yang bertanya bukan?
Aku mengangguk dan mencium bibirnya, "Makanya layani aku lah."
Aku kembali menciumnya sambil mengeratkan pelukanku.
"Sayang, kamu istirahat sana. Udah malam." Ucapnya menolak tubuhku.
Aku kembali memeluknya, "Justru karena malam enaknya sayang..."
Aku menatapnya nakal, "Sayang tenagaku belum habis sayang..." Aku mendekatkan wajahku di ceruk lehernya, mencium aroma tubuhnya, bibirku mengulum senyum miring. Harum...
Aku menatap wajahnya yang memerah, "Ryan. Jangan aneh aneh. Aku mau tidur." Dia membuang wajahnya malu.
Aku terkekeh, tak perduli apa jawaban mulutnya, tapi aku tau dia menyukainya.
Aku mencium bibirnya lembut singkat, "Sayang... Aku mau... Yah?" Aku memohon.
Dia menatap ke arah lain dan mengusap lehernya kaku, "T-tapi pelan pelan."
Aku tersenyum kecil dan kembali menciumnya, "Iya sayang..."
__ADS_1
I love her so much...
***
Aku terbangun dari tidurku dan mataku langsung tertuju pada Vie.
Aku tersenyum dan melingkarkan kakiku di pinggangnya sambil kembali memeluknya.
Dia masih tertidur karena memang masih sangat pagi buta.
Aku menyentuh wajahnya perlahan dengan jari jemariku. Kenapa dia selalu membuatku tergoda bahkan di saat dia tertidur hm?
Dia membuka matanya perlahan sambil mengucek matanya.
Aku mengeratkan pelukanku dan mencium lehernya dan bergelayut di bahunya hanya dengan tersenyum tanpa bicara.
Manik mata kami saling bertatap dan sambil tersenyum satu sama lain.
Ntah kenapa Vie semakin terlihat cantik. "Kamu semakin memukau saja sayang. Apa kau melakukan perawatan?"
Dia tersenyum kecil, dia mengelus leherku dan membuat aku menutup mataku menikmati setiap sentuhannya, "Tentu. Aku ingin terlihat cantik dan membuatmu kau tak berhenti memandangku." Ucapnya di akhiri dengan melingkarkan tangannya di leherku.
Aku menaikkan salah satu alisku dan tersenyum miring, "Hm... Jadi kau sengaja menggodaku hm?
Dia tersenyum kecil dan terkekeh singkat, "Aku bercanda sayang... Aku ngak ngapa ngapain. Palingan cuma maskeran dan makam makanan yang alami."
Aku tersenyum dan kembali menciumnya gemas. "Buat aku geram saja."
Aku kembali merangkul pinggangnya erat, "Sepertinya aku takkan pernah mau memperbolehkanmu keluar rumah."
Aku mengingat pembantuku yang telah ku panggil kembali ke rumah, memang begitu banyak sehingga membuat Vie hanya diam di rumah. Tapi aku beneran tak suka jika ada yang melihat istriku bahkan lebih dari satu detik.
"Pokoknya gak boleh, yang penting kamu lakukan saja apa yang kukatakan. Jadi istri yang baik dan melayaniku dengan baik..." Aku menaik turunkan alisku.
Dia mencubit perutku membuatku sedikit meringis karena kaget, karena memang sama sekali tak sakit.
"Dasar mesum," dia menatapku tajam.
Aku terkekeh dan mencium bibirnya sambil kemudian mengukungnya di bawahku, "Mesum sama istri sendiri masalah hm?"
Wajahnya memerah dan kemudian di medorong dadaku, "Pergilah. Aku mau mandi," kayanya sambil menutup wajahnya.
Aku memeluknya dan menggendongnya keluar dari selimut yang menutupi tubuh kami tadi.
Matanya terbelalak kemudian menatapku shock, "Ryan!"
Cup
Aku tersenyum miring setelah menciumnya, "Mandi bersama pasti menyenangkan hm?"
Wajahnya kembali memerah dan membuatku semakin gemas untuk kembali menerkamnya.
***
__ADS_1
Vie memasang dasiku dengan serius, and I like it.
"Selesai," Dia menatap mataku tepat setelah dia menyelesaikan memasang dasi.
"Makasih sayang," aku mencium keningnya.
Aku merangkul pinggangnya, "Jangan keluar rumah. Bahaya." Ucapku serius.
"Sayang.. tapi aku bosan di rumah..." Keluhnya membuat hatiku luluh seketika.
Tapi karena mengingat akan banyaknya lelaki yang mungkin akan merusak hubungan kami, aku kembali berkeras. Aku mengusap wajahnya lembut, "Nanti kalau mau jalan jalan kita langsung ke Prancis saja. Aku akan mengambil hari libur."
Wajahnya berubah bahagia, "Serius?!"
Aku mengangguk pasti. Setidaknya aku bisa memantau Vie jika jalan bersamaku bukan? Kalau aku membiarkan dia jalan jalan sendiri di lingkungan ini akan berbahaya.
Vie memelukku erat, "Makasih sayang..." Dia menatapku dengan senyuman sangat manis.
"Ciumnya mana?" Aku menyentuh bibirku meminta ciuman.
Tanpa pikir panjang dia menciumku sangat lembut membuatku tersenyum dan terbuai olehnya.
Dia begitu manis...
Aku terus menuntunnya ke atas ranjang tanpa melepas ciumanku. Kemudian menindihnya, "Kalau saja hari ia ini aku lembur aku takkan membiarkan sehelai benang pun menutupi tubuhmu sekarang sayang..."
Dia mencubitku, "Dasar."
Aku membangkitkan diriku dan duduk di sebelahnya, "Aku pergi dulu ya sayang. Kamu jangan kelelahan dan jaga kesehatan. Jangan malas makan dan minum. Ingat juga jangan mandi malam malam nanti masuk angin. Dan..." Dia menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
"Stt... Sayang, kamu ini ada saja, aku cuma di rumah sayang..."
Aku memeluknya dan meletakkan kepalaku di bahunya, "Tapi aku kuatir sayang... Rasanya sulit meninggalkanmu."
Dia tersenyum kecil, "Hm.. Jadi kenapa dulu malah kamu serinh ninggalin aku. Di tambah lagi kalau aku ingat ingat kamu tega memberikanku tugas sampai badanku rasanya remuk." Ledeknya.
Aku membelalakkan mataku menyadari kejahatanku itu. Aku menatapnya dan mengeratkan pelukanku manja, "Maafin sayang... Aku memang salah... Sayang maafin aku ya... Ku mohon... Please...."
Dia diam dan membuang wajahnya.
Aku jadi takut beneran dia marah.
Jantungku berdegup kencang panik.
Aku mengecup kecup pipinya, "Sayang maafin. Sayang... Aku memang salah... Jangan marah sayang."
Dia terkekeh, "Iya... Aku bercanda tadi."
Aku membuang nafas lega dan kembali menyenderkan kepalaku di bahunya, "Kamu buat aku takut saja. Hampir aku pingsan tadi."
Dia mengusap pipiku lembut, "Ada saja kamu."
Aku tersenyum dan sambil terus menatap wajahnya seakan terhipnotis olehnya.
__ADS_1
"Sayang. Cepat pergi ke kantor sana. Nanti terlambat," katanya membuat aku menghembuskan nafas berat dan terpaksa mengiyakan.