
...Ryan POV...
Aku memperhatikan Vie yang tengah membereskan barang-barangnya.
Aku tersenyum kecil dan mendekati Vie kemudian mendekapnya manja, "Sayang, nanti sore kita ke pilih baju pernikahan ya,"
Vie menoleh dan kemudian mengangguk.
Aku membalikkan badannya, mencium pipinya, "Sayang, nanti pilih baju jangan yang terlalu ribet ya."
Dia menyerngitkan dahinya, "Kenapa?"
Aku berbisikku nakal di telinganya, "Biar mudah langsung di buka malamnya."
Aku langsung memekik kesakitan saat cubitan kecil di perutku, "Mesum." Ucapnya kesal.
Aku terkekeh kecil dan kemudian memeluknya erat, "Iya.. maaf maaf."
Dia membalas memelukku sebentar dan kemudian menepuk punggungku, "Sudah sudah, kau harus segera ke kantor," katanya membuat aku mendengus, "Sayang.. Kenapa kamu jadi gak mau di sentuh sampai hari pernikahan hm?" ucapku sambil memayunkan bibirku sedih.
"Aku mau latih kesabaran kamu. Kan 2 hari lagi nikahnya. Kamu tunggu lah sebentar," dia menoel hidungku dan berbalik membelakangiku kembali mengerjakan tugasnya.
Merasa di acuhkan aku kembali memeluk badannya dan menempelkan daguku di bahunya. "Sayang..."
Dia mengelus kepalaku, "Kamu mandi aja sana. Nanti terlambat."
Aku mendengus kesal dan akhirnya menurutinya. Sedangkan dia.. dia hanya terkekeh melihatku.
***
Aku mengenakan baju kemeja putih dengan berbalut jas hitam beserta celana hitam senada dengan jas.
Dan aku memperhatikan bau pengantin ini cocok untukku.
Tak sia sia aku datang ke toko yang katanya adalah tempat terbaik di tempat ini untuk membeli segala jenis baju apapun.
Aku kemudian keluar dari kamar ganti dan memperhatikan pintu kamar ganti Vie, dia belum keluar.
Aku memperhatikan seseliliku, melihat lumayan bagus pakaian yang ada di sini.
"Ryan. Gimana bajunya?" Tanya seseorang lembut dan terdengar seperti gerogi dari belakangku.
Aku menoleh dan seakan terpaku dengan penampilan.
Terutama melihat bagian lehernya yang terpampang indah dengan bagian belakangnya yang tampak menggoda karena pengait antara bagian satu dengan yang lainnya hanyalah tali putih yang tipis.
Aku memperhatikan pada pelayan yang mengiringi Vio. Memberikan kode untuk mereka pergi menjauh dan menyisakan aku dan Vie sendirian.
Aku mendekati Vie, merangkul pinggangnya dan menatapnya lekat, "Apa kau sedang menggodaku hm?"
Aku menciumnya membuat dia terkejut dan menjauhkan wajahnya, "Ryan, ini di tempat umum." Cicitnya dengan matanya sibuk melihat sekitar.
Aku tersenyum miring, "Kenapa? Mereka juga sudah pergi."
Wajahku ku dekatkan ke telinganya, "Aku suka kau tampak menggoda seperti ini. Tapi aku tak suka ada lelaki lain melihat mu seperti ini."
Kemudian aku tersenyum miring dan berbisik di telinganya, "Atau... Apa kau ingin aku menerkammu saat acara pernikahan nanti hm?"
Aku langsung menciumnya, dia kembali mengelak dan menahan dadaku, "Y-yaudah aku ganti yang lain aja."
__ADS_1
Dia segera menyingkirkan tanganku yang ada di pinggangnya kemudian dengan cepat pergi menuju kamar ganti karena takut.
Aku terkekeh kecil. Wajahnya sangat lucu kalau sedang takut.
Aku bersiul memanggil kembali pelayan untuk kembali melayani Vie di sana.
*** (2 hari kemudian)
Aku berbaring di ranjangku sambil memperhatikan pintu kamar mandi. Tak sabar menunggu Vie selesai mandi.
Cletak
Vie keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Aku menutup mataku, pura pura tertidur agar dia mau berbaring di sebelahku.
Rasanya perutku tergelitik melihat wajahnya yang memerah saat aku mencium bibirnya saat acara puncak pernikahan tadi siang. Padahal aku sudah janji padanya untuk menahan hasratku sampai di rumah. But really I can't, dia terlalu menggoda dengan pakaian apapun.
Aku mencium aroma harum tubuhnya selesai mandi di sebelahku. Aku pikir dia pasti tengah berdiri di sebelah ku sambil menatapku kesal.
"Dasar Ryan mesum!" Pekiknya pelan.
Aku membuka mataku dan menariknya kemudian menindihnya dan mencium bibirnya.
Perlawanan? Tentu dia merontah. But me? Aku terus saja menciumnya hingga berhenti merontah.
Aku menatap wajahnya, "Sayang, kau sangat menggoda. Aku bahkan mati matian untuk tidak menerkammu tadi kah tau..."
Aku kembali menciumnya dan tanpak begitu jelas wajah memerah malu.
Aku kembali menatapnya, "Sayang... Boleh ya malam ini. Aku sudah tak tahan..." Desahku.
Aku tersenyum kecil dan kembali menciumnya. Menyesap habis bibirnya dan menjamah seluruh tubuhnya.
******* demi ******* keluar dari mulutnya menambah kesan tersendiri menaikkan gairah. Sungguh kenikmatan yang tiada taranya...
***
Aku terbangun dari tidurku melihat Vie masih berada di bawah kungkungan pelukanku.
Aku tersenyum kecil mengingat kejadian kemarin malam. Sungguh baku begitu liar melahapnya hingga dia terus mendesah dan menggeliat.
Ahh... Indah sekali.
Aku kembali mengeratkan pelukanku dan mencium bibirnya saat matanya terbuka perlahan, "Pagi sayang.." sapaku lembut.
Aku kembali menindihnya, "Yang.. kita lakukan lagi ya?"
Dia membulatkan matanya, "Jika kau melakukannya lagi aku akan mati kau tau."
Aku terkekeh, dan mencium lehernya dan bibirnya, "Percayalah. Aku akan melakukan lebih lembut sayang..."
Aku kembali menciumnya perlahan dan melakukan halnya perlahan tanpa menunggu jawabannya.
Vie perlahan menutup matanya dan menikmati permainanku.
***
Aku tengah mengerjakan tugasku di ruangan pribadiku di kantor. Aku segera menyelesaikannya dengan cepat agar segera menjumpai istriku di rumah.
__ADS_1
***
Jam kantor telah selesai, aku segera keluar.
"Tuan!" Panggil seseorang dari belakangku membuat langkah kakiku terhenti dan menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam.
Dia segera menunduk saat dia tepat berada di dekatku, "Maaf Tuan sebelumnya, bapak memiliki tamu yang penting untuk di jumpai,"
Aku menaikkan salah satu alisku menahan kesal karena harus tertunda pulang lebih awal, "Siapa?" Tanyaku.
"Beliau sudah ada di ruangan rapat Tuan."
Aku menutup mataku menghembuskan nafas berat dan menatapnya tajam, "Jika ini sungguh tak penting, kau akan ku pecat."
Dia semakin menunduk.
Dengan berat hati aku terpaksa menjumpai tamu itu.
***
Aku membuka pintu ruang rapat dan melihat siapa tamu itu.
Seorang lelaki muda yang tampaknya tak asing, namun ntahlah, aku lupa terhadapnya. Ini tak biasanya aku bisa mudah melupakan wajah seseorang, karena kau tau aku bisa mengingat wajah seseorang dan mengingatnya sampai kapanpun.
"Selamat malam." Ucap lelaki ini.
Aku mengangguk, "Malam."
"Sebelumnya perkenalkan, saya Hasassco. Seseorang yang akan membunuhmu." Tatapannya sangat dingin membuat darahku langsung naik.
Aku menatapnya datar dan tajam, "Siapa kau berani mengancamku huh?"
Dia berjalan mendekatiku dan mendorong bahunya pada bahuku, "Kau bukan tandinganku," Kemudian dia pergi meninggalkanku.
Mataku memanas emosi, "Heh kau! Berani sekali mencoba mengancamku huh?!" Aku berbalik dan melihat ke arahnya. Namun dia tak tampak lagi.
Cih!
Aku keluar ruangan mencarinya dan di koridor sama sekali kosong tak ada orang lalu lalang.
Dasar kurang ajar! Dimana dia?!
Tak menunggu lama, seorang petugas yang memanggilku untuk menjumpai lelaki kurang ajar itu tadi melewati ku. "HEH!" panggilku membuat lelaki itu berhenti dan langsung menunduk takut.
"Kau yang menyuruhku menjumpai orang gila tadi kan?! Kenapa kau bisa begitu teledor membiarkan orang asing yang tak berguna sepertinya masuk huh?! Dan kau bilang dia itu tamu penting?! Apa kau bodoh!"
Lelaki itu menatapku bingung dan linglung, "T-tapi tuan... Saya tak pernah memanggil Tuan hari ini. Dan bahkan kita baru berbicara dua mata sekarang Tuan." jelasnya.
"Cih! Kau pikir aku bodoh?" Aku menunjuk wajahnya, "Mulai hari ini kau ku pecat!"
Lelaki itu langsung terjatuh ke lantai menyembahku, "Tuan saya mohon jangan pecat saya. Cuma ini pekerjaan saya Tuan. Saya sungguh tak berbohong Tuan... Sungguh saya tidak tau."
Aku menendangnya, "Pergi! Kau di pecat!"
Lelaki itu menangis dan bangkit berdiri pergi meninggalkanku.
Bagaimana mungkin dia tak tau, sedangkan dia jelas jelas yang memanggilku tadi.
Dasar sampah!
__ADS_1