
...Author POV...
Vie terbangun dari tidurnya. Kepalanya pusing dan rasanya badannya sangat berat. Vie menoleh ke sebelahnya dan betapa terkejutnya dia Fian tengah tertidur pulas sambil memeluknya yang tergulung dengan selimut tebal.
Vie mengingat sesuatu. Kejadian yang terjadi tadi malam.
Vie sungguh membenci Claire seumur hidupnya! Dia lelaki kurang ajar!
'Lihat saja jika aku bertemu dengannya lagi. Aku akan..' kalimat Vie dalam batinnya terhenti saat mengingat kejadian setelah Claire mencoba memperkosanya, Fian menolongnya.
Sial! Vie bahkan lepas kendali kemarin dan bahkan bergerak ganas menggoda Fian. Sungguh memalukan!
Fian mengerang bangun dari tidurnya. Vie terkejut saat mata mereka bertemu dan segera Vie menutup matanya padahal sudah ketauan bangun tadi.
"Maaf." Kata Fian sambil melepaskan pelukannya.
'Maaf?' Vie bingung, bukannya dia harus yang minta maaf karena bertindak tak sopan?
Vie melihat wajah Fian datar. Tak tau apa yang di pikirkan Fian sekarang.
Fian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Vie sendiri.
***
Fian memilih untuk kembali ke rumahnya dan tidur kembali.
Kenapa di saat dia berusaha menghilangkan Vie dari hidupnya Vie kembali muncul?
Fian kembali di liputi rasa bersalah terhadap Vie terutama karena kesalahan Mama Fian terhadap keluarga Vie. Bibirnya keluh tak dapat mengatakan ini pada Vie. Dia takut Vie semakin membencinya dan terutama Mamanya.
***
Claire memutar otak.
Sudah 2 hari setelah kejadian kegagalan dia meniduri Vie gagal membuat dia sangat jengkel.
__ADS_1
Apa yang harus dia lakukan?! Ck! Kenapa rencananya tak berjalan mulus?!
Claire kehabisan akal. Dia tak bisa menunggu lagi, dia harus mendapatkan Vie! Vie harus berada di tangannya.
Claire masuk ke dalam toko Vie. Hari ini toko di tutup sementara karena sedang ada masalah teknis di ruangan dapur. Sehingga besok aja ada tahap renovasi.
Claire tau hari ini Vie akan ke toko ini di sore hari untuk mengecek keadaan toko, dan kondisi ini akan menjadi kesempatan yang takkan Claire siap siakan. Dia akan membekap Vie dan membawanya ke rumahnya, menjadikan dia tawanan yang takkan pernah di lepas sampai kapanpun.
Gila? Menang Claire sudah gila! Seperti orang yang terobsesi berat pada Vie. Itulah Claire.
Claire menyelinap masuk ke dalam toko. Dan duduk tepat di dapur, Claire yakin Vie akan ke sini karena bagian inilah yang di renovasi total.
Cletak
Pintu terbuka. Mata Claire menangkap sosok Vie tengah masuk ke dalam ruangan ini sedang, Claire sengaja berada di belakang pintu masuk sengaja agar bisa langsung menyekap Vie.
Saat Claire hendak menutup pintu,
Kdebuak
Pintu kembali terbuka karena dorongan seseorang yang lain. Pintu itu menghantam hidung mancung Claire yang membuat pria itu meringis menahan sakit.
"Ana. Buat kaget aja kamu. Emangnya siapa?" Ucap Vie.
"Ada ibu ibu tadi yang nyariin Bu. Lupa namanya siapa. Hehe" Ana cengengesan.
"Hm. Ya udah." Vie segera keluar sedangkan Ana masuk ke dalam dapur.
Ana mengetahui Claire ada di ruangan ini. Sengaja menyuruh Vie keluar, dia memiliki firasat tak baik jika Vie masuk ke dalam.
Sebelumnya Ana melihat Claire sedang mengendap endap masuk ke dalam toko dari pintu belakang. Ntah bagaimana cara lelaki itu bisa masuk ke sini. Sungguh mencurigakan bukan?
***
Di luar ruangan Vie di pertemukan oleh seseorang wanita paruh baya. Wanita itu adalah Ibu Fian.
__ADS_1
Vie sudah tak mau berhubungan lagi tentunya dengan keluarga Fian. Membuat Vie segera menoleh ke arah lain, "Maaf saya ada urusan lain."
Mama Fian menahan tangan Vie, "Nak. Mohon maafkan anakku Fian. Ini bukan salahnya ini adalah salahku."
Vie menoleh ke arah ibu Fian datar, "Oh. Jadi ini cara piciknya lagi dengan melibatkan anda agar saya luluh begitu? Maaf. Saya sudah hilang respect dengan kalian."
Andini dengan air mata yang hampir tumpah, mengingat anaknya juga sudah terpuruk dan seakan akan tak ada semangat hidup setelah berpisah dengan Vie.
Andini menahan kembali tangan Vie, "Ini sungguh salah saya nak. Kalian bercerai itu karena saya yang menceritakan segala hal kebohongan pada Fian. Saya yang mengarang cerita mengenai ibumu yang merusak hubungan saya dengan suami saya. Padahal sayalah yang merusak hubungan mereka."
Vie tidak mengerti dengan kalimat ibu Fian, "Apa maksud ibu."
"Ibumu dan suamiku sebenarnya adalah suatu pasangan yang serasi, namun aku merebut pacarnya itu dan menikah dengan lelaki itu." Andini mulai menangis terisak, "Saya membenci ibumu yang selalu jadi pusat perhatian karena kebaikannya jadi saya selalu berusaha mencelakainya, padahal saya adalah teman baiknya."
Andini tak berani menatap Vie lagi. Dia hanya menunduk sambil menangis, "Saya mencelakakan Ibumu hingga dia kehilangan nyawanya. Dan kini saya malah ingin membuatmu tersiksa pula sama seperti ibumu makanya saya mengarang cerita pada Fian dan menyatakan bahwa ibumu lah yang hampir merusak hubungan saya dan suami saya. Oleh sebab itu Fian sangat membencimu.
"Namun kemudian ntah mengapa saya berjumpa dengan cucu saya. Anak lelaki kecil itu menyelamatkan saya dari kecelakaan dan hampir mengorbankan nyawanya dan juga karena Fian telah mengetahui semuanya dari orang lain membuat saya semakin tersiksa dengan pergumulan batin. Itu yang membuat saya sadar bahwa saya telah dua kali merusak ikatan cinta sejati yang seharusnya di pertahankan. M-maafkan saya..."
Seakan tersambar petir Vie merasakan sesak di dada. Dia baru mengetahui semuanya.
Itulah sebabnya Fian selalu minta maaf padanya sebelum bercerai dan pada dua hari sebelumnya saat meyelamatkan Vie dari Claire.
"Nak... Hukumlah saya. Saya sungguh kejam. Tapi saya mohon jangan membenci Fian. Dia tak bersalah akan semua ini. Ini semua karena saya... Hukumlah saya..." Ibu Fian menangis tak karuan dan tersungkur ke bawah.
Vie tak dapat mengatakan apa apa. Dia pergi meninggalkan ibu Fian.
***
Vie terdiam. Dia ingin marah dan membenci ibu Fian. Bagaimana dia bisa sekejam itu pada keluarga Vie?
Bukankah dia sahabat ibunya sendiri? Bagaimana bisa dia tak memiliki hati seperti itu dan bahkan menyumbarkan tipu muslihat pada anaknya sendiri?
Kenapa dia baru menyadari kesalahannya sekarang?
Jadi selama ini dia kemana?
__ADS_1
Vie sangat panas dengan keadaan ini. Sungguh membuatnya mendidih.
Vie mencoba duduk di sofanya.