
...Author POV...
Spontan Claire menarik tubuh Ana dan menggendongnya. Rasa ketakutan mulai di rasakan jiwanya.
Claire segera keluar dari apartemen dan beberapa saat kemudian para petugas pemadam kebakaran datang dan mengevakuasi tempat.
Beberapa petugas medis datang dan kemudian mengangkat Ana dari pelukan Claire sedangkan Claire masih melihat Ana yang di bawa mereka menjauh dari tempat kebakaran.
Tangan Claire di bopoh oleh petugas medis lain, "Pak. Mari ikut saya. Saya akan mengobati bapak."
Claire mengangguk mengerti.
***
Claire diam dalam ruangan rawat inap. Masih dalam pikiran kenapa Ana malah menolongnya? Padahal dia sendiri sangat trauma dengan kejadian kebakaran.
"Apa yang dia lakukan? Dasar wanita bodoh." Claire terdiam membayangkan kebaikan Ana. Padahal Claire sama sekali tak pernah berbuat baik padanya.
Claire keluar kamar inapnya dan berjalan ke kamar inap Ana tepat saat terdapat dokter yang baru selesai merawatnya.
Dokter itu melihat Claire dan kemudian kembali melihat Ana. Claire berjalan mendekati tempat ana berbaring dan melihatnya masih belum sadarkan diri.
"Dia sudah tak apa. Hanya saja dia mengalami shock akibat trauma yang di alaminya dulu mengenai kebakaran." Ucap sang dokter.
Claire menaikkan salah satu alisnya, bagaimana lelaki ini tau Ana memiliki trauma kebakaran? Ana tak mungkin memberitahu dia karena Ana masih pingsan bukan?
"Dia sahabatku sejak kecil. Kami sangat dekat sampai kejadian itu membuat dia harus pindah." Kata sang dokter yang memeriksa itu.
Claire membaca pikiran lelaki yang ada di hadapannya ini.
Pandangan mengenai Ana dan dia tengah bermain bersama, tertawa dan bercanda, terlihat sangat bahagia.
Dan... Kebakaran terjadi.
Terjadi perpisahan yang teramat sedih baginya saat memeluk Ana untuk terakhir kalinya.
Dan penerawangan Claire pun berhenti.
"Anda siapanya Ana? Bagaimana bisa dia di apartemen anda?" Tanya sang dokter pada Claire.
"Bukan urusanmu." Kata Claire singkat.
Dokter itu menatap Claire datar, ntah mengapa dia tak suka melihat Claire.
"Bisakah kau keluar. Aku buruh privasi dengan dia." Kata Claire dengan sorot mata tajam.
Karena mengingat pembelajaran Erika dan Hukum kedokteran, dia terpaksa memperbolehkan Claire untuk mendapatkan privasi dengan Vie walaupun dia sangat kesal.
"Baiklah. Jadwal kunjungan 3 sampai jam 5. Setelahnya anda harus kembali ke.."
"Ya ya ya. Terserah. Pergilah sana, kau membuang waktuku." Ucap Claire dengan tangan yang di kebas kebaskan di udara mengusir sang Dokter.
Merasa sangat kesal namun sang dokter tetap berusaha propesional. "Baiklah."
__ADS_1
Sang dokter pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Claire duduk di kursi yang berada di tepi ranjang Ana.
Claire meratap wajah Ana dan berusaha membaca pikirannya.
Namun tak terbaca, "Mungkin karena pingsan." Ucap Claire.
Claire mengelus kepala Ana. Tentu dia merasa sangat bersalah pada Ana.
"Maafkan aku." Kata Claire.
Itu di ucapkan Claire karena Ana masih tertidur, kalau tidak mana mungkin Claire katakan itu.
Dia berjanji pada dirinya untuk tidak mengerjai Ana lagi.
Cukup. Dia takkan mengulangi kejahatannya itu.
Ana terbangun membuat Claire segera menjaga jarak.
"Aku di mana?" Tanya Ana.
"RS."
"K-kok bisa?"
Claire memutar bola matanya, 'Kenapa pertanyaan manusia satu ini begitu bodoh?' batin Claire.
"Ya karena kau pingsan lah."
Arh bagaimana dia lupa. Dia yang tadinya mau ambil HP ke rumah Claire kini malah ke rumah sakit. Dan sekarang nasib HP nya gimana pun dia tak tau, ck. Dia terpaksa harus membeli HP kentang lagi.
Ingin marah ke Claire namun kemudian tidak jadi, dia kasian juga melihat Claire. Tempat tinggal Claire terbakar bukan, pasti dia kini sangat kesusahan. Pikir Ana.
Claire tersenyum kecil samar, lihatlah, Ana masih saja berpikir baik untuk Claire.
"Kau tak perlu kuatir mengenai tempat tinggal ku," ucap Claire, "Aku punya lebih dari satu Apartemen." Sambungnya lagi.
Ana mengangguk, kemudian kembali melihat Claire, "Lah. Kok. Tau apa yang ku pikirkan?!"
Claire memutar bola matanya malas, "Ekspresimu sangat mudah di tebak."
Alasan Claire.
Ana mengangguk, "Oo.."
Ana berfikir, 'Eh! Bu Bos! Gimana keadaannya?! Aku belum ke sana lagi!' Ana baru teringat dia sama sekali tak menjenguk Vie. Dia padahal sudah janji.
"Vie dan anaknya sudah ku tangani. Ada Dokter khusus yang ku biayai untuk kesehatan mereka. Dan ada pengawal juga yang menjaga mereka." Ucap Claire.
Ana menghembuskan nafas lega.
"Eh! Kok tau lagi?!" Tanya Ana shock.
__ADS_1
"Kapasitas otakmu itu kecil. Siapapun tau apa yang kau pikirkan." Hina Claire.
Mendengar itu Ana berdecak kesal.
Dari pada dia semakin kesal Ana memilih untuk berbalik badan memunggungi Claire dan tidur.
Claire mengedikkan bahunya acuh dan kemudian kembali ke ruangannya.
***
"Pagi." Sapa seorang dokter yang membuat Ana sedikit kaget dari aktifitasnya membaca buku.
Ana mengangguk, "Pagi Dok."
Nerren duduk di tepi ranjang Ana, "Kau lupa denganku huh?" Tanya Nerren sedikit kesal. Karena dari masa Ana yang membalas sapaannya terdengar begitu formal.
Ana menelisik Nerren. Namun dia tetap tak ingat.
"Aku lupa. Memangnya kita pernah bertemu?"
Nerren menghembuskan nafas berat, kemudian mengembungkan pipinya membuat dia terlihat gemuk. Kemudian memakai kacamata bulat. Dia mendekatkan wajahnya pada Ana.
Ana membolangkan matanya, "Nerren! Astaga!!!" Ana baru mengingat sesuatu.
Nerren. Teman terdekatnya dulu.
Kenapa mereka bisa berteman dekat, itu karena Ana memiliki jiwa sosial yang tinggi dan suka menolong Nerren yang sering menjadi bulan bulanan anak anak lainnya.
Nerren kecil yang bertubuh gempal itu sering di bully karena pendiam dan tak mau melawan. Oleh sebab itu Ana selalu membantunya.
Bahkan pernah suatu kejadian Ana melemparkan batu balok ke arah lawan Nerren yang membully Nerren habis habisan. Kepala lawannya itu bocor tapi Ana dengan cengkalnya malah tertawa terbahak bahak.
Sungguh bar bar memang si Ana dulu.
Namun Nerren sering kali menasehatinya agar jangan bertindak seperti itu, karena itu akan membuat dirinya kena marah guru kalau ketauan.
Karena Ana juga takut kena marah akhirnya Ana menuruti apa kata Nerren, namun kalau sudah keterlaluan Ana tak segan segan akan melempar kepala lawan Nerren lagi dengan batu.
Karena kebaikan Ana membuat Nerren menjadikannya cinta pertama.
Terpisah dari Ana dan melanjutkan sekolah di luar negeri membuat Nerren menjadi sosok yang lebih mudah bergaul dan di tambah dia menjadi Playboy sekarang.
Transisi yang sangat jauh dari sikap polosnya dulu.
"Gila... Jadi kurus kering gini kau ya. Wkwk" ledek Ana.
Nerren terpesona melihat senyuman Ana. Cinta pertamanya kini menjadi semakin cantik bukan.
"Enak aja. Aku makin ganteng tau."
Ana hanya menggeleng menanggapi Nerren. Sejak kapan lelaki ini menjadi narsis? Ana terkekeh.
Nerren memeluk Ana tiba tiba dan menatapnya lekat, "Jadi pacar aku ya?"
__ADS_1
Deg!
Ana memerengkan kepalanya bingung. "Huh?"