
Ryan sibuk dengan menulis nulis kerjaannya di meja kantor yang ada di dalam ruangan kamar.
'Kira kira aku pakai baju apa ya besok?' tanyaku dalam hati sambil melihat lihat bajuku yang ada di lemari.
Ck. Ngak ada yang bagus.
Tak ada jawaban.
Aku menghela nafas panjang.
Ah, mungkin Ryan terlalu sibuk dan juga mana mungkin dia akan membelikan seorang babu baju baru.
Ah sudahlah...
Aku menoleh ke belakang. Yup, dia masih bergumul dengan pekerjaannya.
Aku berjalan ke arah ranjang dan membaringkan diriku di sana.
Paling ngak nanti aku berdiri di bagian belakang aja lah. Malu kalau aku maju ke tengah tengah terutama bajuku baju dress putih tipis ini.
Gembel banget aku.
Aku menutup mataku dan mulai tertidur.
***
Aku terbangun tersentak dari tidurku. Cahaya silau sudah masuk ke dalam kamar membuat aku mengucek-ngucek mataku.
Aku melihat banyak pelayan wanita yang mengelilingiku sambil menunduk hormat, "Selamat pagi nona. Kami di sini akan menyiapkan baju nona untuk malam nanti."
"Nona di persilahkan untuk berdiri. Kami akan menyodokkan gaun mana yang cocok dengan nyonya."
Aku melihat begitu banyak pakaian yang ada di ruangan ini. Seakan akan mereka membawa toko mereka ke sini hanya untukku.
Benarkah Ryan melakukan ini untukku?
Aku tersenyum kecil.
Eh. Kenapa aku senyam senyum? Aku ngak boleh baperan. Dia melakukan ini juga agar dia tak dihina karena membawa gembel ke pesta bukan?
dan kemudian bangkit berdiri. Menyingkirkan hal hal yang membuat aku jadi baper dan mulai memilih baju.
"Bagaimana jika yang ini nona?" Seorang pegawai memberikan aku gaun dengan banyak permata yang menyilaukan.
"Aku ini mau ke pesta apa menjual permata?" kataku kesal.
"T-tapi nyonya, kami di pesankan oleh Tuan Ryan untuk mempersiapkan baju yang mewah dan elit bagi nona."
Aku menggeleng, "Biarkan aku memilih."
Aku melihat lihat gaun yang indah dan tak terlalu mencolok. Dan aku menemukannya...
Gaun indah dengan bagian teratas sedada melekuk ramping pada pinggang dan kemudian mengembang dari bagian pinggang sampai ke bawah. Berwarna hitam pada bagian atas hingga hampir ke bawah dan di akhiri dengan warna pink di bagian bawahnya. Kerlap kelip seperti bintang kecil yang sangat halus menghiasi gaun ini dari atas ke bawah, membuat kesan yang indah dan berkelas. Aku menyukainya. "Aku pilih yang ini." Ucapku.
__ADS_1
"Pilihan yang sangat indah nona."

***
Mereka mempersiapkan diriku sangat telaten layaknya aku seorang ratu.
Mulai dari perawatan tubuhku, mandiku, dan bahkan sekarang mereka mengenakan perhiasan dan make up dengan sangat telaten.
Aku melihat diriku di cermin.
Sungguh cantik...
Cletak
Pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Ryan dengan pakaian yang sangat berkelas dan gagah. Tampan sekali.
Jantungku berdegup kencang. Saat dia berjalan ke arahku.
"Kalian semua sudah bisa pergi." Suruh Ryan membuat semua pelayan pergi meninggalkan kami dan menutup pintu.
Dia menatapku dari atas sampai bawah, mendekatkan diri dan memegang pinggangku dengan kedua telapak tangannya yang kokoh mengikis jarak di antara kami dan tak menyisakan 1 senti pun.
Wajahnya mendekat dan berhenti di telingaku, "Apa kau menggodaku?" Bisiknya membuat wajahku memanas. Dia menatapku wajahku, mencium pipiku singkat, "Setelah ini aku akan menerkam mu."
Deg!
***
Kami menjumpai Andra.
Dia tampak cantik dan elegan. Andra tersenyum pada kami, "Hai.." sapanya.
Kami membalas dengan senyuman.
"Bagaimana pestanya? Indah atau tidak?" Tanya Andra.
Aku mengangguk, "Indah sekali. Dan bahkan kau sangat cantik Andra." Pujiku.
Dia tersenyum, "Terimakasih Vie."
"Ah iya. Sebentar lagi acara dansa," Andra menggandeng Ryan, "Kamu akan berdansa bersamaku."
Ryan melihat ke arahku, "Aku akan berdansa dengannya malam ini." Kata Ryan yang kemudian melepaskan rangkulan Andra dan merangkul pinggangku.
Aku melihat ke arah Andra, dia tersenyum lebar, "Oh oke. Kalian lanjutkan saja malamnya. Aku akan mencari pasanganku yang lain."
Dia tak cemburu?
Ah... Berarti dugaanku yang menyatakan dia baik sungguh tepat. Dia adalah wanita yang cantik nan baik hati.
Cup
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Ryan yang mencium pipiku.
"Lihati apa? Cukup lihat aku saja." Katanya singkat namun rasanya aku sangat malu.
Musik mulai mengalun dan setiap orang mulai berdansa termaksud kami.
"Vie." Panggilnya di sela sela dansa.
Aku mendongak, "Hm?"
Dia membisikkan sesuatu di dekat telingaku, "Aku milikmu di pesta ini. Namun malam nanti, kau milikku dan aku takkan melepaskanmu sedetikpun tidak."
Aku mencubit pipinya, "Jangan bicara aneh aneh di depan umum."
Dia terkekeh singkat, "Kau pikir aku bercanda? Aku serius dan akan kubuktikan nanti."
Dia mendekapku erat. Dan kau tau... Rasanya begitu panas.
***
Setelah berpamitan dengan Andra kami pulang.
Aku merebahkan diri ku di ranjang. Rasanya sangat remuk badan ini karena lelah.
Aku menutup mataku dan kemudian terasa ada tangan yang menarikku ke atas tubuhnya.
Aku membulatkan mataku saat dia berada di bawahku memelukku erat dari bawah. "Kau berat," komentarnya.
Kami saling bertatapan. Dia bangkit duduk dengan aku berada di pangkuannya dengan dia masih memelukku.
Cup, dia mencium bibirku.
Hembusan nafasnya sangat hangat menerpa wajahku dan begitu lembut menyesap bibirku.
Dan aku menyukainya.
Aku tak tau mengapa aku bisa menyukai sentuhan lelaki egois ini. Sejak kapan dan apa alasannya aku juga tak tau.
Aku membalas ciumannya untuk pertama kalinya. Aku begitu menikmatinya sampai sampai aku tak ingin melepaskannya.
Aku tersenyum kecil.
But. NO!
Aku mengehentikan ciumanku dan mendorong tubuhnya. Dia menatapku bingung dan kecewa.
Aku tak boleh menyukainya! TIDAK BOLEH DAN TIDAK AKAN!
"Kenapa?"
Aku bangkit dari posisi ku dan langsung membaluti diriku dengan selimut kemudian berbaring di sisi lain ranjangnya.
Aku kelewatan batas. Aku ngak boleh begini. Aku benci penjajah, penindas dan pemaksa sepertinya!
__ADS_1
Dia telah menghancurkan hidupku. Bagaimana aku bisa menyukai orang yang paling ku benci?!
Tidak. Akan. Pernah!