
Catatan penulis:
Hai my readers ✨... jangan lupa like komen dan vote ya... Di mulai dari hal kecil dulu yaitu like dan comen, ingat guys like dan komen itu gratis (Tapi komen yang mendukung ya.. xixixi)
Author sebenarnya ada senangnya ada sedihnya. Senang karena makin hari makin banyak yang baca 😆, tapi sedih karena likenya tak sebanyak yang membaca 🥺...
So.. ingat dong guys.. jangan lupa tinggalkan jejak kalian...
semakin banyak kalian tinggalkan jejak semakin sering aku up cerita tiap hari 🤩👍...
Dukung terus author nya ya guyss...
Thanks... Happy reading guys 🤗✌️
Aku sedikit menoleh ke belakang melihat Ryan yang kupunggungi. Aku menarik nafas panjang saat aku melihat Ryan telah tidur dan mulai tidur terlentang.
Aku sedikit membuka selimut yang membaluti tubuhku tadi dan menatap langit langit kamar. Aku memikirkan bagaimana aku bisa sampai di sini, mulai dari terbangun di sungai sampai aku jadi nyai di sini.
Aku teringat satu hal. Kakek yang aku jumpai beberapa waktu sebelum aku bunuh diri di sungai.
Aku berjumpa dengannya 2 kali dengan kakek itu. Kalimatnya yang paling teringat di memori ku adalah, "Kau akan mendapatkan kehidupan yang sama di manapun kau berada... Itulah garis kehidupanmu," ucapku pelan.
Dia benar. Hidup di jaman ku sebelumnya dengan di jaman sekarang sama saja, sama sama menjadi wanita mainan lelaki.
Aku menghela nafas berat sekali lagi.
Apa aku harus dapat menerima garis kehidupan ini dan menjalankannya dengan nyaman?
Yang perlu ku lakukan adalah melepaskan diri dari kutukan hidup ini dengan keluar dari ikatan dengan Ryan dan mencari kehidupan layak di luar sana.
Bukan lari dari kehidupan dan bunuh diri.
Aku menoleh ke arah Ryan.
Deg!
Aku terkejut saat melihat dia dari tadi menatapku datar. "S-sejak kapan kau bangun?" tanyaku kaku.
Dia melepaskan selimutku dan menimpaku. Dia menenggelamkan wajahnya di dadaku"Kau memikirkan apa," tanyanya dengan suara berat.
__ADS_1
Jantungku berdegup kencang.
Dia mendongak dan kemudian mensejajarkan wajahnya.
"Kau pikirkan apa, dan kenapa kau tadi berhenti menciumku?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
Dia mendekatkan wajahnya dan berhenti saat wajah kami saling bersentuhan dengan bibir yang sangat dekat, "Aku benci saat kau mengabaikanku. Dan benci saat bukan aku yang ada di pikiranmu."
Aku hanya diam. Aku tak tau mau jawab apa. Karena yang ada di pikiranku pun sebenarnya adalah dia.
Dia mengecup bibirku singkat, dan kembali menatapku, "Apakah kau lupa dengan kalimatku di pesta tadi hm?" Dia kembali mengecup bibirku lebih lama dan menatapku lagi, "Aku milikmu saat acara tadi, dan kau milikku saat kita sampai di rumah nanti. Dan bukankah sekarang kau menjadi milikku sekarang?"
Dia kembali mencium bibirku dan sekarang dia tak melepaskannya. Ciumannya semakin dalam dan kemudian dia berhenti, "Aku ingin kau membalas ciumanku ini. Aku ingin merasakan bibirmu dan lidahmu lebih. Kumohon..." Dia menatapku dalam dan kembali menciumku.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan membalas ciumannya.
Aku membalikkan tubuhnya dengan membuat aku berada di posisi atas. Aku menciumnya dan membuka kancing bajunya perlahan bersamaan dengan celananya yang menyisakan ****** *****.
Aku membuka bajuku tepat di hadapannya membuat dia tersenyum karena menjadi sangat agresif. Hanya pakaian dalamku yang tersisa dan kemudian aku kembali menciumnya.
"Aah... Sayang..." Desahnya dengan bibir menganga saat tanganku mengelus bagian bawahnya yang tampak menonjol dengan sensual. Dia menutup matanya dan kembali menuntun tanganku agar lebih memuaskannya.
Aku menatapnya datar.
Dan ini akan menjadi malam terakhir aku memuaskan mu pula.
Aku tak bisa terlalu lama bersamanya. Aku bukan boneka yang di ajak bermain saat di inginkan tuannya. Aku bukan wanita pemuas nafsu belaka, aku tak tahan hidup seperti ini!
Aku mulai merasakan sesak di dada. Sakit sekali membayangkan betapa kejamnya garis kehidupanku.
Aku menahan air mataku dan kembali menciumnya.
Ryan menghentikan ciumannya membuat aku membuka mataku dan menatapnya. "Ini bukan Vie yang ku kenal."
Aku menelungkupkan wajahku di dadanya dan menlap air mataku yang hampir tumpah tadi kemudian kembali menatapnya, "Kenapa?" Aku mengarahkan tangannya ke pahaku dan kembali menatapnya, "Aku akan memuaskanmu malam ini hingga kau puas. Namun ku mohon, lepaskan aku setelah ini dan biarkan aku hidup normal di luar sana." Sambungku sambil kemudian kembali hendak menciumnya.
Saat bibir ku sudah mendekati bibirnya dia mengelak dari bibirku.
Dia menatapku tajam, "Apakah kau memiliki pria lain selain diriku?"
Maksudnya?
__ADS_1
Dia terkekeh singkat seperti menahan kekesalan, "Jadi begini cara licikmu meninggalkanku."
Dia menatapku tajam, "Kau pikir selama ini aku tak tau bagaimana kau berselingkuh di belakangku dengan pria lain huh?"
M-maksudnya?
"Jangan menatapku seolah olah kau adalah wanita baik baik Vie. Bukankah selama ini kau juga bersama pria lain?"
Aku menatapnya marah. "Kau bicara apa?!"
Dia menyingkirkan tubuhku darinya dengan kasar, "Lelaki berambut pirang dengan mata hijau itu adalah kekasih gelapmu bukan? Dan itu alasanmu ingin meninggalkanku sekarang bukan?"
Rambut pirang dan mata hijau?
Dion?
B-bagaimana Ryan bisa tau?
Bukankah Dion tak dapat di lihat dengan mata telanjang?
"D-dion itu hantu." Kataku membuat dia terkekeh singkat meremehkan.
"Kau pikir aku bodoh." Dia menatapku tajam.
Ryan memakai bajunya dan berdiri. Dia menoleh tanpa melihat ke arahku, "Sekarang kau menunjukkan sisi aslimu yang sebenarnya. Kau wanita licik."
Dia kembali menghadap depan, "Cih, sepertinya aku terlalu melunak padamu sehingga membuatmu semakin melunjak."
Ryan berbalik dan menatapku tajam, "Mulai sekarang aku takkan mengampunimu atas tindakan penghianatanmu terhadapku. Aku akan menyiksamu sampai kau sungguh membenci kehidupanmu sendiri."
Dia menatapku datar dan menusuk, "Penderitaanmu adalah kehidupan bagiku. cam kan itu." Dia berbalik dan berjalan meninggalkanku.
Ryan keluar dan membanting pintu.
Tunggu. Huh?
Sungguh pikiranku sungguh kacau balau. Semua berputar di kepalaku.
Ryan bagaimana bisa? Dion?
Wait... Sebenarnya siapa Dion?!
__ADS_1
Dan apa yang akan terjadi selanjutnya padaku?
Tuhan... Penderitaan apa lagi ini?