Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Keliling Istana


__ADS_3

Catatan penulis:


Maaf lama up guyss... sebagai permohonan maaf aku double up yaa... hehe...


btw jangan lupa tinggalkan jejak yaa


---------------------------------------------------------------------------


Aku melihat berbagai bunga cantik yang bermekaran di taman. Begitu menyukakan hati.


Aku memandangi bunga dan kemudian memetik berbagai bunga di sini. Ku kumpulkan sari demi satu dan membuat berbagai jenis bunga dalam sari ranjang yang ku bawa.


"Wah... Indah sekali..." ucap seseorang di balik deretan bunga lain yang tak jauh dariku.


Seorang pelayan wanita yang manis.


Namun, bukankah ini area khusus yang hanya anggota kerajaan dan tukang kebun kerajaan yang dapat ke sini?


Aku menghampirinya dari belakang.


Aku menepuk pundaknya lembut membuat dia menoleh dan terkejut sampai bersujud, "M-maaf Ya Mulia Ratu. S-saya memang salah, s-saya mohon maaf. J-jangan bunuh saya."


Aku terkekeh singkat, "Biasa saja kali. Aku juga lagi butuh teman," ungkapku santai.


Dia masih merundukkan kepala nya takut.


Aku memegang dagunya dan menaikkan wajahnya, "Tenang saja, aku takkan menghukummu. Sungguh."


Dia menatapku haru, "T-terimakasih Ya Mulia Ratu."


Aku tersenyum.


Aku mengenggam tangannya dan mengajaknya ke kursi taman sambil membawa keranjang bunga yang ku petik tadi.


Aku duduk dan kemudian menepuk kursi di sebelahku, "Kamu duduk di sini. Temani aku ya," ajakku padanya.


"T-tapi Ya Mulia..."


"Stt. Ikuti saja," ucapku tak menerima penolakan.


Dia tersenyum dan mengangguk.


Dia duduk di sebelahku dengan wajah yang kembali ceria.


"Oh ya, nama kamu siapa?" tanyaku.


Dia menunduk sopan, "Perkenalkan Ya Mulia Ratu, nama saya Yuri. Saya pelayan di sini."


Aku mengangguk. "Hm... Kau tau bagaimana cara membuat mahkota bunga?"


Dia menganggu senang, "Tentu Ya Mulia, saya tau caranya."


Dia mengambil beberapa bunga dan mulai mengaitkannya sari sama lain. Begitu hebat! Dia bisa merangkai bahkan tanpa menggunakan benang. Dia hanya mengunakan sulur ranting yang tipis.


Aku mempelajari bagaimana cara kerja tangannya dan beberapa saat kemudian kami selesai membuat 2 mahkota bunga.

__ADS_1


"Wah... Punya Ya Mulia sangat indah. Ya Mulia memang yang terbaik," ucapnya kegirangan.


Aku tersenyum lebar, "Sungguh?"


Dia mengangguk, "Tentu Ya Mulia! Dikau sangat hebat!"


Aku terkekeh, "Terimakasih."


Tiba tiba beberapa pengawal menyergap dan menarik Yuri dengan paksa, "Dasar tak tau diri! Bagaimana kau sangat tak sopan pada Ya Mulia!"


Yuri terkejut dan hanya diam ketakutan.


"Tidak tidak! Aku yang menyuruhnya menemaniku. Dia ada di sini karena aku menginginkannya. Lepaskan dia!" ucapku.


Semua mata pengawal terkejut dan langsung melepaskan Yuri.


Aku melihat lengan tangan Yuri merah karena cengkraman pengawal tadi. Aku menatap Yuri kemudian melihat pengawal marah, "Lihatlah apa yang kau lakukan padanya. Lengannya memerah!"


Pengawal menatap singkat lengan Yuri dan kemudian menunduk, "Maafkan kami Ya Mulia."


Aku mendesis kesal, "Jangan minta maaf padaku. Tapi pada Yuri!"


Mereka menatap Yuri, "Maafkan kami."


Yuri menggeleng, "T-tidak. Saya juga salah karena bersikap lancang mendekati Ya Mulia."


Aku mengelus pundak Yuri, "Tidak, kau tak salah. Sudah ku katakan aku memang sedang membutuhkan teman berkomunikasi tadi. Di sini sangat bosan."


Yuri menunduk, "Walaupun begitu, memang seharusnya saya tidak pantas bersama dengan Ya Mulia. Itu sudah sewajarnya saya menjaga jarak dengan bangsawan. Itu sudah ketetapan Ya Mulia."


Mereka mengangguk dan kemudian pergi meninggalkanku.


***


Aku berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Dion sambil memegang mahkota bunga yang ku lingkarkan di tanganku. Bosan sekali.


Dia tersenyum melihatku.


Aku memasang muka murung dia mengambil kursi yang lainnya untuk duduk di sebelahnya yang tengah berkutat dengan berbagai lembar kerjaannya.


"Cantik bunganya," kata Dion dengan masih tersenyum.


Aku melihat ke arah bunga yang ku bawa, aku tersenyum kecil, "Hm. Aku dan Yuri yang buat."


"Yuri? Siapa dia?" tanya Dio. Curiga seperti aku kepergok ingin berselingkuh.


Aku memutar mata malas, "Dion... Yuri itu perempuan. Dan dia pelayan di sini."


Dion tetao memasang muka kesal, "Tetap saja aku cemburu. Aku tak suka kamu dekat dengan siapapun kecuali aku."


Aku tersenyum kecil dan mencubit pipinya, "Dasar berlebihan."


Dia menghadapku dan mencium pipiku, "Tak perduli," dia memelukku erat.


Aku tersenyum.

__ADS_1


Dia ini manja sekali.


Dia melentikkan jarinya dan membuat kamu teleportasi ke kamar. Dia memelukku erat, "Sayang aku rasanya lelah.... sekali hari ini. Pijatin ya?"


Aku terkekeh, "Mana yang mau di dipijat hm?"


Dia mendusel mempererat pelukannya, "Semua yang... Pegel pegel semua."


"Gimana aku bisa pijatin Dion... Kamu meluk gini."


Dia terkekeh, "Kalau gitu gimana kalau cium saja?"


"Itu mah namanya modus."


Dia terkekeh singkat, "Oh ya, aku sudah mengundang seorang penasehat wanita untuk membimbing kamu dan juga beberapa guru yang akan memberikan pelajaran yang harus kamu ketahui di kerajaan sayang."


Aku mendengus lemas, yah... Nambah kerjaan lagi dong...


Tapi ngak apa juga sih. Dari pada bosan terus terusan di sini, lebih baik aku ngisi waktu luang kan?


"Hm.. baiklah."


Dia tersenyum puas, "Mereka akan datang besok. Dan jika kau tak menyukai mereka, katakan saja. Aku akan memecat mereka dan bahkan bisa memenggal kepala mereka jika mereka mencoba macam macam denganmu."


Aku menutup mulutnya dan mengeratkan pelukanku, "Sayang... Jangan berlebihan deh. Aku yakin mereka takkan berani macam macam denganku."


Dia tersenyum, "Hm..."


Kemudian Dion tiba tiba menatapku nakal, dia mencium bibirku, "Yang..." Dia mengelus pinggangku perlahan.


Kalau sudah begini aku tau maksudnya. Dia pasti mau...


Pipiku rasanya memerah seketika.


Bukannya aku tak mau melayani suamiku, namun rasanya sangat malu saja ketika dia tersenyum kecil mendengar aku mendesah nikmat saat beberapa hari lalu kami berhubungan. Dia membuatku jadi ketar ketir sendiri.


Tanpa aba aba, dia menciumku lagi. Kali ini dia langsung memperdalam ciumannya.


Jantungku berdegup kencang.


Dia bahkan kini berada di atasku.


Dia menjauhkan sedikit wajahnya untuk kami dapat bernafas karena ciuman panas tadi.


Aku menunjuk ke arah jendela, "Yang itu apa?" Ucapku bohong mengalihkan pandangannya.


Dia menatapku bingung dan kemudian melihat arah yang ku maksud tadi.


Saatnya untuk kabur!


Aku langsung bergegas pergi.


"Yah sayang..." adunya terdengar samar karena aku sudah menjauh.


Astaga... Malu banget...

__ADS_1


__ADS_2