Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Claire Save Vie


__ADS_3

...Author POV...


Vie berangkat pagi pagi buta ke sekolah. Sungguh malu rasanya mengenai tadi malam. Bagaimana bisa dia menikmati permainan Fian tadi malam?!


Arh... Memalukan sekali.


Vie menelungkupkan wajahnya di mejanya.


Kembali terngiang lagi wajah Fian yang tersenyum kecil dengan salah satu alisnya naik nakal saat Vie mendesah nikmat.


Vie memeras rambut di kepalanya prustasi. "Kenapa malah kebobolan gini sih Vie?! Argh... Bego!!!"


Kesal Vie sambil memukul mukul meja.


Di sisi lain Fian baru terbangun dari tidurnya. Dia melihat Vie di sisi ranjangnya namun tak di jumpainya. Seketika Fian panik dan mencari keberadaan Vie ke lantai bawah melewati dapur, saat melihat bibi yang memasak di dapur Fian segera menghampiri pembantunya itu. "Vie di mana?"


Segera pembantu itu menunduk hormat, "Selamat pagi Tuan. Nyonya tadi sudah berangkat, katanya terburu buru."


"Pergi sama siapa?"


"Sendiri Tuan. Nyonya tadi seperti gugup begitu Tuan, sempat saya tanya kenapa dia jadi gugup nyonya menggeleng dan mengatakan tidak apa apa sambil tersenyum kaku." Jelas sang Bibi.


Fian yang mendengar itu tersenyum kecil. Istrinya sangat malu ternyata karena kejadian tadi malam.


Sungguh Vie sangat seksi malam itu. Tubuhnya menggelinjang nikmat saat sentuhan Fian mulai menguasai tubuhnya.


Fian mulai mempelajari sang istri. Sang istri menyukai permainan yang lembut dan sedikit menantang di akhir.


Bibi Minah bingung melihat tuannya yang tersenyum terus. Aneh sekali.


"Tuan?" Tegur bi Minah.


Fian tersadar dan kembali memasang wajah datar, "Ehem. Lanjutkan masaknya. Saya mau balik." Pamit Fian lalu pergi.


Bu Minah kembali bingung. Sejak kapan sang tuan izin sebelum dia pergi. Bisanya mah kan dia pergi gitu aja?


Bi minah kembali menggeleng, "Ah sudahlah. Lebih baik aku lanjutkan saja masaknya." Ucap bibi pada akhirnya.


***


Fian tersenyum melihat Vie yang terus memukul meja dan mengacak rambutnya prustasi.


"Lucu sekali bukan? Kan udah sah. Kenapa malah malu?" Fian terkekeh.


Fian menghampiri kelas sang istri yang di pastikan sang istri tak menyadari keberadaan Fian,


Dengan sengaja Fian duduk di sebelahnya dan memeluk Vie. Vie segera menegakkan badannya kaku.


Vie menoleh ke arah Fian. Fian tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


Argh... Malu banget!


Kelasnya sepi kenapa serasa malu di liatin 1000 orang?!


Vie terus berkutat dalam pikirannya dan rasa malunya.


Fian meletakkan kedua tangan Vie agar melingkar di lehernya membuat wajah mereka sangat dekat.


Tanpa basa basi Fian mencium Vie dan mengeratkan pelukannya. Vie terkejut dan meremas baju belakang Fian dengan mata terbelalak kaget.


Sungguh Fian tak tau kondisi dan malah memperdalam ciumannya seakan belum puas dengan pergulatan kemarin.


Sial! Bagaimana jika ada murid kelas lainnya yang masuk dan memergoki mereka?!

__ADS_1


Vie mengigit bibir Fian membuat Fian meringis, "Aw."


Vie menatap Fian tajam. "Ini di kelas! Jangan macam macam!" Bisik Vie dengan tajam.


Fian terkekeh, "Kenapa? Wajar kali suami istri ciuman."


"Ini di tempat umum Fian..." Vie membolangkan matanya marah.


"Berarti kalau di kamar bebas ya. Janji?" Fian tersenyum dengan ekspresi bertanya nakal.


Dia sungguh menyebalkan. Vie bahkan tak habis pikir dengan otak Fian yang sangat kotor.


"Fian!" Vie membolangkan matanya.


"Iya sayang," Fian malah tersenyum.


Vie mendorong tubuh Fian saat salah satu teman kelas Vie hendak masuk, "Sana. Temen temen udah pada masuk."


Fian mengusap kepala Vie gemas, "Sayang kamu."


Vie membuang wajahnya karena sudah sangat merona. Sesungguhnya Fian ingin sekali menerkam istrinya sekarang, sungguh Vie sangat menggemaskan. But really, Fian tak ingin Vie kesal dan berujung tak memberikan jatah nanti malam. So dia memilih menahan diri.


***


Vie berjalan di koridor sekolah santai dengan mengigit permen karet yang baru di belinya tadi di kantin.


Tiba tiba tangan Vie di tarik oleh seseorang dan bibirnya di bekap oleh orang yang menarik tangan Vie.


Rasanya kepala Vie sangat pusing. Sepertinya orang tersebut telah menuangkan cairan bius pada sapu tangan yang membekap Vie.


Kemudian setelah itu Vie terbangun dari tidurnya dan melihat cahaya remang remang di ruangan tempat Vie duduk sekarang.


"Kenapa kau coba coba dekati Fian. Dengar ya. Fian itu milik aku!!!" Bentak seorang wanita menggunakan masker dan Woody.


"Kamu siapanya Fian huh? Kenapa belakang ini akrab banget?!" Tanya temannya yang ada satu lagi.


Ketiga wanita yang berada di depan Vie mendengus dan melotot, "Kau tak mengenal kami?"


Vie berfikir sejenak hingga dia mengingat sesuatu. "Ah! Fans fanatiknya Fian ya?"


"APA?! DASAR BODOH!" pekik mereka bertiga.


"Kami mantannya Fian. Dan kami sangat tak terima jika kau menjadi wanita Fian. Kau sangat tak pantas." Ucap salah satu dari mereka.


Vie hanya diam. Vie bahkan tak perduli dengan mereka.


"Dengar ya gembel. Kau lebih baik menjauh dari Fian, atau kami akan menyiksamu."


Vie menyerngitkan dahinya, "Kalau kau merasa pantas dengan Fian, dekatin aja dia. Kalau memang kau pantas pasti Fian akan kembali padamu." Kata Vie santai.


Plak


Suatu tamparan melesat pada pipi Vie. "Aku peringatkan untuk jangan macam macam denganku sialan! Aku memiliki kekuasaan bukan seperti kau miskin! Aku akan membuatmu menderita jika kau mencoba kegenitan dengan Fian!"


Tamparan itu sangat sakit membuat ujung bibir Vie berdarah. Wanita itu sangat kasar.


Plak


Tamparan kembali melesat pada pipi yang masih panas dengan tamparan tadi, "Dasar ******!"


Vie tak dapat melakukan apa apa karena tangan dan kakinya di ikat.


"Jika kau merasa sempurna dan dapat mendapatkan apa yang kau mau dengan mudah, ya coba saja dapatin Fian dengan hartamu!" Kecam Vie marah pada akhirnya. "Perlu kau ketahui. Fian bahkan lebih berkuasa di bandingkan dirimu, jangan harap kau dapat dengan mudah memilikinya."

__ADS_1


Merasa di hina, Wanita yang ada di hadapan Vie itu mengangkat tangannya ingin menampar wajah Vie lebih kuat.


Tap


Tangan wanita itu di tahan oleh seseorang yang ada di belakang wanita itu.


Semua orang di sekitar ini mendongakkan kepalanya termaksud Vie,


Seseorang menatap Wanita yang mau menampar Vie dengan tajam, "Minta maaf padanya, kalau tidak aku akan membunuhmu." Ucap Claire tajam.


Ya. Lelaki itu ialah Claire.


Claire dapat melihat wajah Vie yang berdarah kemudian menatap tajam ketiga orang yang membully Vie, "Cepat. Minta. Maaf." Tekan Claire.


Ketiga wanita itu masih berlaga sombong, "Oh. Jadi kau salah satu lelaki yang menggilai wanita ****** sepertinya juga huh?"


Claire tersenyum sinis, "Kau sebut dia ******?"


Salah satu dari mereka berkacak pinggang, "Tentu."


Claire terkekeh singkat dan kemudian menatap tajam, "Dan kau yang mengemis cinta pada pria disebut apa? ****** propesional? Cih."


Ketiga wanita itu terdiam dan wajah mereka memerah marah. Tertampar dengan kata kata Claire yang sangat tajam membuat mereka emosi.


Claire berjalan mendekati mereka dengan tatapan menusuk kemudian mencengkram rahang salah satu dari mereka membuat sang wanita itu meringis kesakitan, "Aku bisa mematahkan kepalamu dengan mudah kalau kau mau."


Namun salah satu dari ketiga wanita lainnya mengambil balok kayu untuk memukul Claire.


Claire menyadari itu, bukankah dia indigo?


Dengan cepat Claire mengubah posisinya dengan wanita yang di cengkram rahangnya itu.


Brugh


Wanita itu segera pingsan saat mendapat pukulan balok dari temannya.


"Caca!" Teriak teman yang memukulnya itu. Dia tak sangka bisa salah orang seperti ini.


Claire tersenyum miring,


Claire membuka ikatan tangan Vie dan ikatan kakinya, "Ayo." Claire menarik tangan Vie membuat Vie mengikutinya.


Vie melihat ke arah Claire, persepsi buruknya berubah mengenai lelaki ini.


Claire pun berhenti setelah beberapa saat mereka berjalan. Claire mendudukkan Vie di kursi taman sekolah sedangkan dia berlutut di hadapan Vie menatapnya dalam, "Mana yang sakit?" Tanya Claire.


Vie melihat Claire sendu, "Em. Maafkan aku."


Claire menatap Vie bingung, "Kenapa?"


"Karena aku selalu berfikir buruk mengenai mu." Vie merundukkan kepalanya, "Aku pikir kau orang aneh. Jahat dan menyebalkan."


Claire tersenyum kecil mendengar kejujuran Vie. Claire baru menyadari bahwa Vie itu wanita yang polos.


Claire kembali menatap datar Vie, "Aku tau kau berfikir seperti itu."


Vie terbelalak, "Serius?! M-maaf ya.."


Claire bangkit dari sikap berlutut dan duduk di sebelah Vie. Dia mengusap kepala Vie lembut, "Hm. Sudahlah."


Claire melihat ke arah Vie. Seperti ada getaran aneh dalam dirinya, rasanya seperti nyaman terlintas di raga Claire saat berdekatan dengan Vie.


Namun segera Claire mengalihkan pandangannya. Claire sadar bahwa Vie adalah istri Fian, dan dia tak berhak untuk apapun terhadap Vie. Lagipun, Vie adalah buyutnya walaupun tak memiliki ikatan darah karena anak Vie di zaman dahulu tak memiliki keturunan dan mengadopsi anak untuk meneruskan keturunan.

__ADS_1


Vie tersenyum kecil, "Makasih ya."


Claire mengangguk, "Sama sama."


__ADS_2