Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Aku perlu pembuktian!


__ADS_3

...Author POV...


Fian keluar dari kantornya dan mengemudikan mobil menuju taman menghilangkan suntuk


sesampainya dia taman dia mengingat sesuatu. dulu dia dan Vie sering ke taman.


Fian tersenyum miring miris. Kenapa sulit sekali melupakan wanita itu.


Beberapa menit berlalu, Fian melihat ada seorang anak kecil tengah  merapikan bajunya dan berjalan sangat dewasa. Padahal dia tampak masih sangat kecil, seperti masih TK.


Fian tak perduli dan kembali berjalan melewati anak itu.


Bruk


Tak sengaja Fian menabarak sedikit anak itu. Namun anak itu langsung terjatuh karena memang badannya kecil.


Fian melihat anak itu sedangkan anak itu langsung berdiri dan menatap tajam Fian, "Anda sangat teledor. Apakah anda tidak mempunyai mata?" Ucap anak itu.


Fian sedikit terkejut dengan kalimat yang sangat dewasa dari seorang anak bocil seperti ini.


"Kau yang harusnya melihat pakai mata. Tubuhku sebesar ini bahkan bisa kau tabrak." Fian mencoba memancing anak itu.


Anak itu memutar bola matanya malas dan mengebas ngebaskan bajunya dari debu, "Sudahlah. Berbicara dengan Anda sangat membuang waktu berhargaku."


Anak itu pergi.


Wow wow... Bisa bisanya anak ini se-arogan itu berbicara.


Fian menahan kerah anak itu dari belakang membuat dia tersangkut. "Kau sama sekali tak memiliki sopan santun pada orang tua ya."


Anak itu menepis tangan Fian. "Anda bahkan tak meminta maaf jika bersalah, bagaimana saya bisa sopan terhadap anda?"


Lagi lagi Fian menggeleng. Bagaimana ada anak terlahir sebijak ini?


"Hey, siapa orang tua mu. Mana meraka?"


Anak itu memutar bola matanya, "Bukan urusan anda."


Sedikit gemas dengan anak tembam ini yang terlihat imut namun sangat pedas membuat Fian tersenyum miring.


"Andra.." panggil seseorang membuat Fian dan Andra sang anak kecil itu menoleh.


"Mama!" Sahut Andra dengan berlari ke arah Vie dengan kaki kecilnya.


Vie yang melihat Fian sangat kaget. Bagaimana bis dia berjumpa dengan pria sialan ini?!


Fian menatap Vie datar, "Hm. Anak dari suami keduamu huh?" Hina Fian.


Vie tersenyum miring, sungguh licik pikiran suaminya ini. Namun Vie tetaplah Vie, dia akan membuat suaminya ini semakin panas, "Kau salah. Ini hasil dari suami ke limaku." Ucap Vie santai dan pergi meninggalkan Fian yang terkejut bukan main dari ucapan Vie barusan.


Namun Fian tetap diam dan melihat tajam kepergian Vie dan Andra.


Selama perjalanan jalan kaki, Vie memulai pembicaraan dengan Andra anaknya, "Mama sudah bilang, jangan berbicara dengan orang asing."


Andra menunduk, "Maaf ma. Tadi Andra ngak sengaja di tabrak bapak bapak itu. Jadi Andra melawan."


Vie mengusap kepala anaknya, "Hm ya sudah. Lain kali jangan mau di ajak bicara oleh orang asing. Apa lagi pria tadi."

__ADS_1


"Baik ma."


***


"Suami ke lima katanya?! Bagaimana bisa?! Kami bahkan belum ada penandatanganan surat cerai dan dia bisa semudah itu menikah hingga lima kali?!"


Fian memukul ranjangnya gusar. "Brengsek!"


Kemudian Fian berfikir sejenak, "Atau mungkin saja dia sengaja berbohong? Membuatku menjadi panas?"


"Kemungkinan besar iya. Aku sangat mengenal Vie, dia tak mau kalah jika berdebat. Mungkin itu hanyalah alasannya saja."


Fian terdiam sejenak, "Apa... Aku harus cari tau?"


"Gak! Apaan. Ngapain aku penasaran sama hal kaya begitu! Gak! Pokoknya gak!"


"Sampai kapanpun aku takkan pernah perduli lagi dengannya!"


Beberapa jam kemudian...


"Danang....!!" Keluh Fian pada teman karibnya yang merupakan dokter Forensik.


Tok, tok, tok, tok, tok..


Fian mengetuk pintu rumah Danang berkali kali hingga sang pemilik rumah turun ke lantai bawah dengan terburu-buru.


Yup.


Fian tak dapat tidur sama sekali, dia terus memikirkan Vie, Vie dan Vie..


Sial! Kenapa dia harus mengenal wanita itu yang selalu membuatnya selalu kerasukan seperti ini?!


Tanpa menjawab Fian masuk begitu saja tanpa sopan santun dan duduk di ruang tamu. "CEPET KAU KESINI! AKU MAU CERITA!"


Danang memutar bola matanya malas dan kembali menutup pintu untuk segera duduk berhadapan dengan Fian.


"Apa sih?! Ada masalah apa?!" Danang jadi panik.


"Ini masalah keluarga."


Danang menyerngitkan dahinya, "Keluarga ku kenapa? Perasaan kemaren baek baek aja."


Fian mendengus berat, "Ngak kenapa napa. Aku cuma mau curhat dikit doang."


Danang membolangkan matanya dan menimpuk kepala Fian dengan bantal sofanya, "Eh lucknut! Ini jam 2 pagi! Dan kau cuma mau ngomong hal yang ngak penting?!"


Fian melempar kembali bantal yang menimpuknya, "Ini penting setan! Ini masalah hidup dan mati!"


Danang kembali memasang wajah serius, "Sumpah?"


Fian mengangguk, "Hm."


"Ya udah cepet apaan? Jangan buat kepo!"


"Em... Masalahnya, aku ngak percaya kalau mantan istriku sudah menikah."


Brugh

__ADS_1


Fian kembali di timpuk bantal oleh Danang, "Bego! Dasar gak berguna! Karena kau ngak percaya itu langsung jadi masalah besar gitu?!... Sumpah kau 1000% idiot!"


"Ish! Denger dulu Saiton! Masalahnya dia udah punya anak gede, dan dia bilang itu hasil dari hubungannya dengan suami nya yang ke lima."


"Eh buset.." Danang kaget dan memeluk bantal kecil yang mau di lemparnya lagi ke Fian tadi.


"Eh. Tapi kalau memang iya kenapa rupanya? Kok kau sewot."


Fian berdecak kesal, "Bukan gitu. Masalahnya kan Vie belum 100% pisah dari aku, kami belum bercerai secara hukum kau tau. Masa dia seenaknya nikah begitu aja?!"


"Idih... Kau kan juga udah nikah kedua kalinya. Ya impas dong."


"Mana bisa gitu! Aku sama sekali ngak pernah nyentuh istri kedua ku. Dan aku lebih tepatnya menyiksa dia agar dia jera dan pisah dariku. Kau kan tau itu." Jelas Fian.


"Iya emang. Tapi kan kau selalu bermain wanita lain di belakang Vie kan setelah pisah ranjang? Apa bedanya."


Fian membuang nafas berat sebelum dia mulai berbicara, "Sebenarnya aku sudah malas untuk bermain sampai ke atas ranjang dengan wanita lain. Kau tau, aku sangat tak bergairah dengan wanita manapun setelah....," Fian menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, "Vie pergi meninggalkanku."


Danang memegang dagunya, "Em... Seperti impoten beberapa waktu gitu?" Ucap Danang asal.


"Sialan kau!"


"Hehe. Canda bro... Santai..."


Fian mendengus dan menselonjorkan badannya di sofa.


"Kalau masih cinta kenapa ngak balikan aja." Ucap Danang mencoba memahami temannya.


"Mengenai hal ini aku gak bisa ceritain. Batin aku masih ngak bisa terima dia, tapi..."


"Tapi?"


"Ah. Lupakan saja. Intinya sekarang aku mau buktikan bahwa yang di ucapkan Vie itu gak bener!"


"Yang mana?"


"Yang bilang dia udah nikah lima kali lah, dan anak itu hasil dari hubungannya dengan suami kelimanya!"


Danang berfikir sejenak sebelum dia mulai berbicara, "Jangan bilang kau ingin menyuruhku melakukan tes DNA antara kau dengan anaknya itu?"


"Ya. Itulah maksudku!"


Danang menggelengkan kepalanya, "Luar biasa. Sumpah kau orang paling gabut yang pernah ada.


Ngapain coba pake tes DNA segala. Terus kalau terbukti memang bukan anak mu kau mau apa?"


Fian diam dengan berfikir sejenak, "Iya juga sih. Ngak ada faedahnya memang."


"Tapi tetap aja. Kau harus bantuin aku untuk membuktikannya. Setidaknya aku bisa lega setelah mengetahui semuanya!" Ucap Fian yakin.


Danang hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah absurd teman nya yang satu ini. "Gak jelas mah memang otakmu."


"Udah. Ngak usah banyak cerita. Intinya kapan aku butuh kau, kau harus siap sedia melakukannya."


"Terserah lah. Bodo amat. Yang penting kau bayar." Ucap Danang to the point.


"Santai. Kau mau berapa, aku bakalan bayar."

__ADS_1


"Hm. Semua bisa di atur."


__ADS_2