Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

...Author POV...


Fian diam dalam kamar setelah dia membersihkan diri. Sungguh masih tak menyangka akan apa yang terjadi.


Cletek


Mata Fian refleks melihat ke arah pintu kamar yang terbuka menampakkan sosok Vie yang menatapnya bingung.


Fian memalingkan wajahnya dan membuat Vie jadi bingung. Vie berjalan ke arah Fian dan duduk di sebelahnya, "Fian?"


Fian masih diam.


Vie menyentuh bahu Fian seketika Fian menepisnya, "Jangan pernah menyentuhku." Ucap Fian membuat Vie tersentak.


"M-maksud kamu?"


Fian menatap tajam Vie, "Kau bodoh atau pura pura bodoh huh?" Hina Fian seketika membuat seperti ada ribuan jarum menusuk jantung Vie.


"Kau tau. Ibumu hampir saja merusak hubungan antara Mama dan Papa ku. Kau tau kalian sangat kejam!"

__ADS_1


"Maksud kamu apa Fian. Aku ngak ngerti. Kamu kenapa?" Vie menahan tangisnya. Sejak kapan Fian kembali menjadi lelaki yang kasar seperti dulu lagi. Apa yang terjadi pada suaminya?


"Kau pikir aku tak tau huh? Ibumu adalah mantan Papaku. Dan aku, aku anak yang ingin kalian hancurkan kehidupannya dengan merusak hubungan pernikahan antara Mama dan Papa ku! Tidakkah kalian malu dengan tingkah busuk kalian?"


Fian berdecih dan mendorong tubuh Vie, "Pantas saja kau hidup menderita setelah kematian ibumu. Itu semua karma karena perbuatan menjijikan ibumu yang mau menjadi perebut suami orang! Begitu sangat rendah!"


Deg!


Kini hati Vie begitu sakit dan di porak porandakan kalimat pedas Fian. "Apa yang kamu katakan Fian?! Kenapa kamu berbicara seperti tanpa berfikir?!"


"Berfikir katamu? Kalianlah yang tak pernah berfikir kebenaran dan menghalalkan segala cara. Kamu pikir kenapa Mamaku langsung kesal saat setelah berbincang dengamu di dapur, pasti karena dia mengetahui bahwa kau adalah anak dari wanita pelakor itu. Dia jijik dengan itu!" Fian menatap Vie dengan jijik.


Fian terkekeh hina, "Aku dulunya sangat mencintaimu Vie. Tapi ternyata kau menyakitiku. Kau sangat licik."


Vie bangkit berdiri. Dia sungguh tak tahan.


Vie segera mengambil bajunya dari dalam lemari seketika membuat Fian sedikit panik, "Apa yang kau lakukan?!" Tanya Fian.


"Aku akan pergi dari hadapanmu hingga kau berhenti melihatku yang menjijikan ini!" Kesal Vie.

__ADS_1


Fian yang hendak mengentikan Vie terdiam. Dia tak mau menghentikan langkah Vie lagi, dia cukup benci dengan sikap brengsek Vie dan Ibunya seperti yang di katakan Mamanya. Dia sungguh membenci Vie yang mengkhianatinya.


Vie pergi meninggalkan Fian. Sedangkan Fian hanya diam dan masih kesal dengan apa yang terjadi hari ini.


***


Hari demi hari berlalu. Vie tak pernah memberikan kabar pada Fian begitupun Fian. Mereka masih bertengkar dan tak ada satupun yang mengalah.


Bahkan Fian sama sekali tak mau mengingat mengenai Vie. Kehidupannya kembali seperti semula, bermain wanita tanpa berfikir akan Vie.


Sedangkan Vie berhenti sekolah dari tempat Fian dan mencoba menghidupi kehidupannya dengan tinggal di tempat yang sangat jauh dari keberadaan Fian dan tinggal di suatu rumah kecil dan sederhana.


Dari tempat itu Vie mencari pekerjaan yang bisa menghidupinya sambil dia tetap bersekolah.


Mereka menjalani kehidupan masing masing dan tak berusaha mencari satu sama lain.


Hati Vie menjadi sangat batu terhadap setiap orang dan bahkan sama sekali tak pernah lagi mencintai siapapun dan fokus pada dirinya. Sedangkan Fian hidup berfoya foya dengan kekayaan orang tuanya.


Bahkan Fian menyetujui untuk melakukan pernikahan kedua kalinya dengan wanita pilihan Mamanya, wanita itu begitu lugu namun sebenarnya memiliki sikap sandiwara yang tinggi.

__ADS_1


Tak dapat Fian pungkiri, sekalipun dia selalu bermain dengan wanita lain di luaran sana pikirannya tak pernah jauh dari bayangan Vie. Fian merutuk dirinya kenapa bisa mencintai seseorang sedalam itu dalam hidupnya, namun pikiran itu dia kubur dalam dalam dan mencoba menghilangkan rasa yang ada walaupun itu sangat menyiksanya.


__ADS_2