Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Permintaan Dion Pada Claire


__ADS_3

...Author POV...


"Itu dia," Claire menunjuk Vie yang berada di seberang jalan dengan tak minat.


"Kek, Kakek puas puasin aja lihat dia. Aku mau makan siang di sana," Claire menunjuk restoran yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang, "Jika sudah selesai telpon aja ya kek." Ucap Claire mengakhiri kalimatnya.


Claire berjalan meninggalkan Dion. Kemudian kakinya terhenti karena terpikir satu hal, "Ck. Dia mana ada hp. Gimana mau nelpon... Bego."


Claire kembali berbalik badan untuk menjumpai sang kakek. Matanya terbelalak panik karena sang Kakek menghilang ntah kemana, dan Claire kembali melihat ke arah posisi Vie tadi, Vie juga tidak ada. Claire menepuk jidatnya, "Aduh! Kenapa ngilangnya cepet amat sih!"


Claire pun segera mencari keberadaan mereka.


***


Dion mengikuti Vie yang berjalan ke arah taman. Mata Dion sangat berbinar melihat Vie, sungguh itu Vie... Belahan jiwanya, cinta pertama dan terakhirnya.


Kemudian saat Dion hendak berjalan lebih dekat pada Vie, kakinya terhenti karena seseorang memeluk Vie dari belakang.


Kemudian,


Cup


Lelaki yang memeluk Vie itu mencium bibir Vie tanpa rasa bersalah.


Deg!


Rasanya sangat sakit melihat kejadian yang ada di depan matanya ini. Ingin rasanya marah dan memukuli lelaki yang berani mencium Vie, namun Dion sadar dia bukan siapa siapa di dunia ini.

__ADS_1


Tanpa di sadari Dion, sang cicit alias Claire melihat semua kejadian yang barusan terjadi. Dia melihat rasa kekecewaan sang Kakek dan kemudian melihat Vie dengan tatapan marah. Apa yang di lakukan Vie telah menyakiti hati sang Kakek yang sudah jauh jauh di undang Claire ke masa depan.


Tapi sebenarnya itu sungguh bukan kesalahan Vie, itu kesalahan Fian! Fianlah yang mencium Vie tiba tiba tanpa rasa bersalah. Bahkan sekarang pun Vie meninju perut Fian dan melarikan diri.


Sedang Fian. Dia malah terkekeh.


Namun Dion tetaplah Dion, dia juga pencemburu seperti dulu. Jadi dengan cepat Dion berjalan ke arah Fian dan menahan tangan Fian saat hendak berjalan mengejar Vie.


Seketika kepala Dion berdenyut dan sepenggal memori terbesit dalam alam pikiran Dion saat menyentuh tangan Fian.


Suatu kejadian di masa lalu saat Ryan mendidik seorang anak kecil. Dan anak kecil itu tumbuh besar menjadi orang hebat dan kemudian menikah. Keturunan demi keturunan Ryan bergantian di perlihatkan pada alam bawah sadar Dion. Dan berakhir pada anak remaja ini. Lelaki yang baru saja mencium Vie dengan cara tak sopan.


Deg!


'Dia keturunan Ryan!' batin Dion.


Alam bawah sadar Dion menghilang saat seketika anak remaja ini menepis tangan Dion. "Kau siapa?! Berani sekali menyentuhku!"


Jantung Dion berpacu kencang. Sungguh... Apakah ini suatu kenyataan di masa depan? A-apa sungguh anak ini akan menjadi pasangan Vie nantinya?!


Tidak. Tidak! Dia tidak terima!


"Dasar gila," ucap Fian sambil pergi meninggalkan Dion yang masih berkutat dalam pikirannya.


"Kakek!" Panggil Claire sambil berlari menjumpai sang kakek. "Kau tak apa? Apa yang dia lakukan padamu?"


Claire melihat kepergian Fian dengan tatapan bengis. "Dasar Brengsek!" Maki Claire pada Fian yang sudah jauh dari mereka.

__ADS_1


Claire kembali melihat ke arah sang Kakek dengan prihatin.


Dion menggenggam tangan Claire. "Nak. Ada satu pesanku padamu. Dan kau harus tanggung itu sebagai amanah ku padamu," ucap Dion dengan tatapan berkaca kaca.


Claire yang tak ingin menjadi cicit yang durhaka mengangguk pasti. Tak mungkin kan sang kakek meminta hal yang aneh aneh.


"Jaga Vie. Itu keinginanku. Pastikan dia dapat menempuh hidup layak bersama pasangan yang layak pula."


Deg!


"T-tapi kek.."


"Ku mohon padamu... Bantulah dia jika dalam kesusahan... Jangan biarkan dia sendirian menempuh hidupnya."


Sungguh Claire membenci hal ini. Dia benci pada Vie karena menyusahkan menurutnya. Wanita itu lemah! Dia membencinya.


"Ku mohon nak..." Ucap Dion yang kemudian mulai terbatuk batuk hingga dia menutup mulutnya sebentar dengan sopan, kemudian saat telapak tangannya di jauhkan dari mulutnya Dion terkejut melihat darah di tangannya itu.


Sedangkan Claire sangat shock, "Kek! Kita harus ke rumah sakit!"


Dion menggeleng, "Tidak... Sebentar lagi ajalku menjemput nak. Sudah di pastikan ini tanda tandanya..."


Dion tersenyum kecil, "Nak... Ku mohon padamu. Jangan biarkan Vie menderita. Ku mohon... Itu permintaan terakhirku..."


Dengan terpaksa Claire mengangguk dan membuat sang Kakek tersenyum lebar, "Terimakasih..."


Kemudian Dion menegakkan kembali tubuhnya, "Kau tunggulah di sini. Aku akan kembali..."

__ADS_1


Claire menganguk dan Dion pun pergi ke suatu tempat.


__ADS_2