Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Here We Go


__ADS_3

catatan penulis:


jangan lupa di like komen dan vote yaaa... jangan lupa loh... semakin banyak kalian memberi dukungan kalian semakin aku sering up ceritanya guys...


sooo, jangan lupa yaaa


 


...Ryan Lewis POV...


Plak!


Dia menampar pipiku hingga wajahku berpaling karena tamparan nya yang keras, "Mampus! Makanya jangan macam macam!"


Aku memegang pipiku dan tersenyum miring menatapnya tajam mengintimidasi, "Berani sekali kau."


"Sudah ku katakan! Lebih baik aku mati dari pada harus memuaskan ***** bejat mu! Bangsat! Brengsek!"


Brugh


Dia menendang selangkanganku.


Akh.. sakit sekali!


Dia menjauhkan diri dari nya dan memasang kuda kuda sambil memegang tongkat billiar yang ada di sisi kamarku.


Aku terkekeh walaupun menahan sakit.


Baru kali ini aku berjumpa dengan wanita sepertinya.

__ADS_1


Menarik. Menarik untuk di basmi.


"Kenapa ketawa?! Gila ya?! Dasar setres!" Cetusnya.


Aku menghentikan tawaku dan menatapnya tajam. "Kini kau akan menjadi babu ku khusus pekerjaan kantor. Karena menurutku kau lumayan ber-akal di bandingkan pribumi yang ku perkejakan.


Ditambah, kau harus membersihkan semua yang ada di kamar ku. Baik baju, lantai, dekorasi kamar ini, semua harus kau atur.


Jangan pernah keluar dari sini kalau bukan aku yang menyuruhmu. Pakaian mu ada di lemari kecil di sudut sana, makananmu akan di antar dan tempat tidur mu di lantai dengan alas karpet dan ambal di tambah selimut. Itu semua cukup untuk babu sepertimu." Jelasku panjang lebar. Aku mau kembali menge-tesnya.


"Enak aja! Itu mah penyiksaan namanya! Malah ngak di gaji lagi, belum lagi masa aku ngak boleh keluar kamar! Mana mungkin! Ngak masuk akal!"


Hahaha... masih seberani itukah dia?


Tapi itu bagus. Kebanyakan wanita seperti nya mudah di permainkan. Aku akan memberikannya pelajaran setelah perbuatan tidak sopannya padaku.


"No comment. Just do that. Understand?" Jelasku.


Aku duduk di meja kantor minimalis yang ada di kamarku, "Jika kau menolak penawaran ku dan keluar dari rumah ini. Aku takkan segan segan menembak kepalamu dengan pistol ini." Aku menunjukkan pistol yang ku ambil dari kantong pistol yang ku sematkan di celanaku.


Dia terdiam dengan pandangan lurus ke depan.


Cih, ekspresi wanita lemah.


"Ya udah tembak aja. Toh juga aku ingin mati. Apa enaknya hidup di sini!" Dia menatapku tajam.


Jawabnya di luar dugaanku.


Dia berjalan mendekatiku.

__ADS_1


Brukk...


Dia memukul mejaku.


Sangat tak sopan.


Dia memegang tanganku yang masih memegangi pistol, "Tembak saja! Aku juga membenci hidupku! Semua sama saja, tak ada hal yang membuat aku yakin bahwa hidup di dunia lebih baik dari pada di akhirat!"


Dia mengeratkan tangannya, "Cepat lakukan!"


Tangannya bergetar dengan mata tertutup. Dan mulai menangis.


Cih, sudah lemah kenapa sok kuat, hm?


Aku melepaskan tanganku darinya.


"Kau pikir aku akan bersimpati saat kau menangis huh?"


"Sudah aku bilang, kalau mau tembak ya tembak aja! Aku tak perduli!" Dia menatapku tajam dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Aku sama sekali tak perduli. Ku alihkan pistolku ke atas lampu yang ada di atap.


Dor!


Membuat dia menghentikan tangisnya sambil menutup telinganya dan hanya mengungkapkan isakkan.


"Aku belum menembakmu karena kau masih menetap di sini. Jika kau sudah keluar dan kabur dari kamar ini, kepalamu akan hancur seperti lampu itu."


Aku tak perduli.

__ADS_1


Aku keluar dari kamar dan meninggalkan dirinya sendiri.


__ADS_2