
12 tahun kemudian
"Windy! Cepetan!" Andra kesal setengah mati melihat adiknya yang selalu lama bertindak.
Windy yang terburu buru memasukkan roti dan susu ke dalam mulutnya berusaha mempercepat proses sarapannya, "Uhuk. Sabar bang!"
Andra mendesah kesal.
Adik perempuan sungguh merepotkan.
Dan ya... Andra memiliki adik yang terpaut usia 5 tahun darinya. Ini semua akibat ulah Daddy-nya yang terus menerus olah raga malam dengan Vie. Dan berakhir dia memiliki adik yang menyusahkan ini.
"Andra sabarlah sebentar. Kasihan adikmu." Tegur sang Daddy.
Andra memutar bola matanya malas. Bukan karena apa, jika dia berangkat bersama Windy pasti teman temannya seperti Randy, Verren, Mathieu dan Zein akan menggoda adiknya. Padahal apa cantiknya adiknya ini?! Tengil iya! Batin Andra kesal.
Andra dan Windy satu lingkup sekolah yang sama. Sekolah besar yang terdapat TK sampai SMA. Sehingga memungkinkan mereka untuk selalu berjumpa.
Windy segera menyalam kedua orang tuanya, "Pamit Dad, Mom," ucap Windy dengan mulut penuh dan segera berlari ke luar dan mengejar sang kakak yang sudah di kereta.
"Cepet bego! Dasar Lemot!"
Windy kesal dengan sang kakak tapi apa mau di kata, namanya dah nasib.
Windy memasang sepatunya dan segera naik ke kereta sang kakak.
Kereta pun di gas dan menuju ke sekolah.
***
__ADS_1
Andra, Randy, Verren, Mathieu dan Zein tengah bermain basket di lapangan di jam istirahat. Tak berselang lama Windy lewat dengan membawa banyak buku tulis, tampaknya dia di suruh gurunya untuk mengumpulkan tugas teman temannya dan akan di taruh di ruangan guru.
Windy yang melihat sang kakak melambaikan tangan dan tersenyum. Andra membuang pandangannya. Dia cukup kesal dengan adiknya ini, udah selalu semberono, kerja ngak becus dan paling lelet tapi malahan paling di sayang ke dua orang tuannya. Menyebalkan!
Windy yang sudah terbiasa dengan sifat sang kakak hanya menghembuskan nafas berat dan kemudian mengambil ancang-ancang, "SEMANGAT KAKAK AKUUU!!!!!" Teriak Windy bersemangat sambil dengan cengiran lebar.
Andra menahan senyumannya, adiknya memang sangat menyebalkan namun namun kebodohannya kadang sedikit menghibur. Hanya sedikit.
"Adek lo imut banget sih. Pingin karungin." Ucap Mathieu sambil menggunyel pipi Andra seakan akan itu adiknya.
Andra menoyor kepala Mathieu, "Ingat umur! Kaya om pedo Lo!" Bentak Andra dengan tatapan tajam.
Ketiga sahabat nya itu tertawa terbahak bahak mendengar hinaan Andra yang selalu tembak dua belas pas, alias langsung nusuk sampai ke tulang.
Verren merangkul bahu Andra, "Lumayan anjir dapat daun muda. Masih seger." Goda Verren lebih tak berahlak.
Andra kembali menoyor kepala Verren, "Lo lagi."
"Ha. Gini nih.. si Andra kerjaannya suka suka tiba tiba. Suka tiba tiba ninggalin, suka tiba tiba bosan, suka tiba tiba diam walaupun memang sebenarnya pendiam." Ucap Mathieu geram.
"Hooh. Mending kalau pendiam nya kaya diam beneran gitu. Ini pendiam nya ngeselin kan?!" Sahut Zain.
"Bener banget! Setuju!" Ucap teman temannya serentak.
Ya biasalah, namanya juga keturunan Fian. Ya pasti ngeselin lah. Wkwkw.
***
"Sayang badan aku pegel banget. Pijitin dong." Pinta Fian manja.
__ADS_1
Sebenarnya Fian sama sekali ngak pegal. Hanya saja rindu bermanja manja dengan istrinya.
Vie tengah merapikan baju menoleh singkat, "Sebentar lagi ya." Ucap Vie sambil mengangkat beberapa tumpukan baju dan memasukkannya ke dalam lemari.
Fian mengerucutkan bibirnya.
Dan segera menghampiri istrinya, memeluk istrinya dari belakang dan menyenderkan kepalanya di bahu istrinya, "Sayang... Cepetan." Rengek Fian.
Vie hanya tersenyum dan masih mengerjakan tugasnya.
Fian tak sabar menunggu dan mengambil semua baju yang ada di tangan Vie, dengan cepat memasukkannya ke dalam lemari dan segera menggendong istrinya di depan depan dadanya berhadapan.
"Udah siap. Sekarang ayo."
Fian memeluk Vie dengan posisi intim dan mendusel dusel kepalanya di leher Vie sambil tersenyum kecil.
Vie terkekeh, bisa bisanya suaminya ini beralasan ingin di pijat padahal sebenarnya pingin di manjain.
"Tadi katanya mau di pijit. Kok malah jadi tidur?" Ledek Vie.
Fian terkekeh singkat mengetahui kedoknya di ketahui istrinya, "Sayang... Mau eemm.." ucap Fian sambil mengelus elus pinggang sang istri.
Fian menatap sang istri, "Ya?"
Vie mengangguk.
Fian tersenyum lebar dan mencium bibir sang istri.
Fian sangat berbahagia bisa menikah dengan Vie.
__ADS_1
Berawal dari hanya sekedar ingin mencoba Vie, dan kini dia berbahagia bisa menikah dengan Vie. Sungguh ending yang tak terduga.
Fian takkan pernah akan meninggalkan Vie lagi seperti kebodohannya yang dia lakukan dulu, dia akan menjaga Vie dan keluarga nya lebih dari apapun. Tak ada yang bisa mengganggu keutuhan rumah tangga mereka. Tidak akan pernah ada!