Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Fian dan Kedua Orangtuanya


__ADS_3

...Author POV...


Mendengar penuturan dari Fian membuat Papa Fian semakin semangat untuk kembali menjodohkan Fian karena yakin Dia. Akan kembali pada mereka.


Fian berjumpa dengan kedua orang tuanya hari ini.


Kedua orang tua Fian telah menunggunya dan melihat Fian dari kejauhan sedang berjalan ke arah mereka. Fian menyalam kedua orang tuanya itu, "Pa ma." Ucap Fian sopan.


Kedua orang tua Fian tak berkata apa-apa dan hanya diam dengan tatapan datar.


Fian duduk di hadapan kedua orang tuanya, "Ma pa. Fian cuma mau ngomongin sesuatu."


Fian menghela nafas sebelum dia akan kembali melanjutkan kalimatnya, "Fian sudah terlanjur cinta sama Vie. Sangat mencintainya. Fian tau papa sama Mama membenci Vie karena Fian terus ngotot waktu SMA untuk ngak mau di jodohkan makanya Fian paksakan untuk memenuhi syarat untuk tidak di jodohkan walaupun syaratnya itu menikah dini."


Fian menatap sungguh kedua orang tuanya, "Fian salah. Iya Fian salah.


Fian salah dulu ngak pernah ngomong baik baik sama mama dan papa. Tapi sungguh ngak suka di jodohkan.

__ADS_1


Perlu Papa sama Mama ketahui, Vie ngak ada hubungannya dengan tingkah Fian yang melawan. Fian malah maksa dia untuk menikah sama Fian dengan menjebaknya agar mau menikah sama Fian." Fian memelankan suarannya sambil menunduk menyesal.


"Menjebak?" Tanya Papa Fian tak percaya.


Fian mengangguk, "Fian... Menidurinya sebelum menikahinya."


Kedua orang tua Fian teridiam.


Mereka saling tatap, rasa iba pun muncul dalam benak kedua orang tua ini. Mereka membayangkan betapa tertekannya Vie di posisi sekarang.


Namun dunia sekarang adalah bebas. Terutama mereka telah lama tinggal di luar negeri, jadi melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan itu hal biasa walaupun di Indonesia itu masih tabu.


Fian mengenggam tangannya erat. Dia tak bisa membayangkan jika hidup tanpa Vie.


"Fian mohon sama Mama dan Papa biar bisa menerima Vie sebagai menantu kalian."


Orang tua Fian kembali saling tatap.

__ADS_1


Kemudian Mama Fian menggeleng, "Tidak Fian. Yang kamu rasakan itu bukan cinta, tapi kasihan." Ucap Mama Fian. Wanita paruh baya itu masih kekeh dengan pendiriannya ingin menjodohkan Fian dengan wanita pilihannya.


"Kami juga merasakan iba padanya sayang. Tapi kamu juga harus memiliki masa depan. Kamu tak bisa hidup bersamanya, dia bukan wanita yang cocok dengan kamu." Ucap Mama Fian.


Fian menyerngitkan dahinya, "Mama tau dari mana dia bukan wanita yang cocok dengan Fian. Mama bahkan belum pernah berjumpa secara langsung dan berkenalan lebih dekat. Bagaimana mama bisa menilai Vie ma?" Fian lumayan kesal dengan penuturan kalimat mamanya.


"Baiklah kalau begitu. Kami ingin berjumpa dengannya. Kami akan menilai seberapa pantaskah dia untukmu."


Fian menatap tajam kedua orang tuanya. Kecewa? Tentu saja Fian kecewa. Bagaimana mungkin orang tuanya masih tak percaya akan hubungannya dengan Vie. Padahal dia sudah menjelaskan segalanya.


"Baiklah. Fian akan buktikan Vie lebih baik dari baik bahkan 1000 persen lebih baik dari apa yang kalian pikirkan." Ucap Fian menyetujui pertemuan antara istrinya dan orang tuanya.


"Kapan kalian mempunyai waktu untuk berjumpa dengan Vie?" Tanya Fian.


Papa Fian tampak berfikir beberapa saat sebelum kemudian dia berbicara, "Senin depan. Jadwal Papa ada kosong di hari itu."


Fian mengangguk, "Baiklah. Papa sama Mama datang ke rumah Fian Senin depan."

__ADS_1


Mereka menyetujui hal tersebut dan kemudian kembali melakukan segala aktivitas mereka.


__ADS_2