
...Author POV...
Claire datang ke rumah sakit mengunjungi Andra. Tepatnya adalah ibunya Andra.
Claire sama sekali tak pernah perduli dengan Andra sama sekali, sekalipun Andra mati Claire bahkan tak mau ambil pusing.
Vie masih dengan wajah sembab menatap Claire sangat sendu.
Fian hanya diam di bangkunya. Sebelumnya dia telah berbicara dengan Mamanya dua mata karena keinginan Mamanya.
Betapa terkejutnya Fian saat mengetahui kejadian yang sebenarnya. Anak Vie telah menyelamatkan ibunya dari kejadian maut.
Mama Fian sendiri sangat terpukul dengan kejadian itu dan menangis sejadi jadinya.
Dalam hati Mama Fian dia sangat ingin menusuk dirinya sendiri karena kelakuan bejatnya. Mengingat dia dulu pernah merencanakan kejahatan dengan memutuskan hubungan Vie dan Fian tanpa sebab yang jelas, karena semata mata dia membenci ibunya Vie. Belum lagi dia mengarang mengenai ibu Vie yang seakan akan adalah wanita yang sangat bejat padahal tidak sama sekali. Mama Fian bahkan pernah melacak keberadaan Vie untuk segera membunuh Vie dengan pembunuh bayaran agar segala dendamnya pada Ibu Vie yang sama sekali tak bersalah.
Namun segala hal kebusukan dirinya tidak di beritahukan Andini pada Fian. Dia takut anaknya akan membencinya seumur hidup mengetahui begitu kejinya ibunya ini.
Andini hanya menangis setelah menceritakan kejadian kecelakaan itu dan tak mengatakan apapun lagi setelahnya.
*Flashback
"Fian... Kamu harus kembali lagi dengan Vie... Mama minta maaf karena kejadian beberapa tahun silam yang memisahkan kalian. Intinya kalian harus kembali bersama." Ucap Mama Fian di tengah isak tangisnya.
Fian mengerutkan keningnya, "Maksudnya apa ma? Bukannya Mama sangat menderita oleh Vie, namun kenapa mama ingin kami bersama?"
Mama Fian kembali menangis, "Fian... Anak kecil itulah yang menyelamatkan mama dari kematian. Dia menarik tubuh mama ke trotoar jalan sedangkan tubuhnya sendiri terhunyung ke jalan dan tertabrak."
Fian terkejut bukan main, "A-apa?!"
Mama Fian kembali menangis sejadi sejadinya. Betapa kejamnya dia.
__ADS_1
Andini kembali mengingat di mana anak itu sebelum nya berkata bahwa dia sama sekali tak memiliki ayah.
Tak tau apakah feeling Andini benar atau salah, Andini merasa bahwa anak itu adalah cucunya. Wajahnya sangat mirip dengan Fian bukan?
'Nenek macam apa aku Tuhan?!..' batin Andini meringis mengingat sangat sadisnya dia sebagai seorang manusia.
Andini memegang kedua bahu Fian yang sedang menunduk di hadapannya masih dengan tatapan kaget dan bingung.
"Nak Mama mohon... Kembalilah dengan Vie. Jangan pernah tinggalkan dia lagi."
Fian menggeleng, mengingat betapa bulatnya Vie ingin bercerai dengannya membuat Fian juga tak mau semakin membuat kekacauan dalam kehidupannya. Jika di pikir pikir Fian harus bisa melanjutkan hidup tanpa Vie yang juga tak menginginkan keberadaannya. "Tidak Ma. Dia sudah membuat Mama sengsara. Mama sendiri yang mengatakannya padaku lima tahun yang lalu. Dan kenapa sekarang Mama mengatakannya ini? Apa yang terjadi ma?"
Andini menggeleng kepalanya dan menunduk sangat sedih dengan semakin menangis, "Untuk alasannya itu tak penting Fian. Mama mohon sama kamu, kembalilah dengan Vie. Dengarkan saja permintaan Mama!"
Fian hanya diam. Apa yang sebenarnya terjadi pada Mamanya?
Kenapa sekarang Mama ingin kami bersatu?
Mama Fian menangis sejadi jadinya, dia sungguh tak dapat memperbaiki semuanya. Semua telah kacau dan itu semua akibat perbuatannya sendiri.
*And Flashback
"Ana.." Panggil Vie dengan suara lirih.
Ana yang sedari tadi setia di samping Vie segera menoleh, "Iya kak?"
"Kenapa dunia ini terasa berputar... Kenapa semuanya jadi kelihatan gelap Ana?..." Ucap Vie dengan suara yang hampir habis dan bola mata yang bergerak lemah ke kanan dan kiri.
Ana panik. "Kak.. kakak bisa lihat ana kan?"
Vie memegang kepalanya, "Ana.. kamu di mana?.. kamu di ma n.."
__ADS_1
Brukk
Seketika Vie pingsan tepat di bahu Ana.
Ana segera memegang bahu Vie dan menggoyangkan badannya, "Kak! Kak! Bangun kak!..."
Claire sangat panik dan segera menggendong Vie. "Panggil dokter sekarang!!"
Jeritan Claire membuat Fian tersadar dari lamunannya.
Ana segera mencari keberadaan dokter.
"Vie?! Dia kenapa?!" Fian gelagapan.
Claire mendorong tubuh Fian dan melewatinya mengikuti kemana Ana berlari, "Minggir!!"
Fian berlari dan mengikuti Claire.
Claire segera berhenti dan menoleh menatap Fian tajam. "Aku tau kau dan ibumu sama sama membenci Vie! Segera lepaskan hubungan mu dengan Vie dan biarkan dia hidup bahagia bersamaku!!..."
"Jangan pernah dekati dia jika kau akan selalu menyakitinya!!! Brengsek!!!" Jerit Claire dan kemudian meninggalkan Fian dengan berlari kencang karena Ana sudah terlihat jauh di depan.
Fian terdiam.
Apa yang di katakan Claire benar.
Dia hanya selalu menyusahkan dan menyakiti Vie. Kehidupan Vie selalu berjalan menuju kesengsaraan jika bertemu dengannya.
Fian menatap punggung Claire hingga tak tampak lagi karena semakin menjauh.
"Aku rasa kau benar... Perceraian adalah keputusan yang tepat." Ucap Fian lemah.
__ADS_1