Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Dia Nyata Bukan Mimpi!


__ADS_3

...Author POV...


Ryan berjalan menuju penginapan yang telah anggotanya sewa untuk mereka beristirahat. Namun tubuh Ryan seakan menolak untuk istirahat walaupun dia sangat lelah, dia ingin melihat pemungkiman penduduk sebelum dia benar benar ingin istirahat.


"Kalian bisa lebih dahulu berjalan menuju penginapan, aku ingin berjalan jalan sebentar sendiri." Ucap Ryan pada anggotanya yang di angguki oleh mereka.


Ryan mengangguk sekali dan mulai berjalan meninggalkan mereka.


***


Ryan mulai menyusuri wilayah pasar yang di mana banyak menjual berbagai macam jenis makanan, minuman, bahkan beberapa pakaian dan sepatu maupun aksesoris.


Banyak wanita yang memperlihatkan dirinya. Lelaki tampan dengan alis tebal, bulu mata yang melentik dengan tatapan mata elang sangat mendominasi indah dengan hidung yang mancung di tambah dengan sentuhan bibir yang tebal dan terkesan sangat seksi. Rahangnya yang tegas membuat siapa saja meluluh ingin menyentuhnya. Terutama tubuh tegap dan atletis, siapa yang tak ingin memiliki pria sepertinya?


Seorang wanita datang menghampiri Ryan dengan keberanian yang termaksud dalam kategori nekad. "Selamat pagi Tuan." Sapa wanita itu.


Ryan yang menoleh dan menatapnya dingin. Dia sungguh tak ingin berurusan dengan wanita dulu sekarang, dia sungguh badmood karena dia sama sekali tak berjumpa wanita impiannya dalam mimpi belakangan ini.

__ADS_1


Kemana wanita itu?


Kenapa dia tidak lagi muncul dalam mimpinya? Padahal dia sangat merindukan wanitanya itu.


"Pergilah." Ryan membuang wajah acuh. Bosan dengan tingkah laku wanita yang murahan seperti wanita ini.


Wanita itu terkejut dan merasakan sesak di bagian dada. Rasanya sakit saat dia di tolak oleh seseorang pria. Padahal wanita ini termaksud wanita cantik dan seksi di mata lelaki normal pada umumnya. Dan bahkan sebenarnya banyak yang mengejar wanita ini.


"M-maaf Tuan?" Ucap wanita itu. Dia masih berharap kalau Ryan salah bicara dan beralih menjadi menerima sapaannya.


Ryan yang hendak pergi tadi jadi tambah kesal dan muak dengan wanita ini. Kenapa wanita ini keukeh sekali mendekatinya?!


Wanita itu tampak semakin shock karena malah di tinggal begitu saja. Bagaimana bisa dia di tolak lagi bahkan dia sama sekali belum memperkenalkan dirinya?


Wanita itu kembali mengejar Ryan dan menahan tangan Ryan dengan tangannya menarik sedikit lengan baju Ryan. "Alangkah baiknya kita berkenalan dulu Tuan."


Ryan menoleh membuat wanita itu tersenyum bahagia karena di respon, "Nama saya..." Kalimat wanita itu terhenti saat Ryan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Apa kau tuli?! Jika aku katakan pergi ya pergi! Apa kau bodoh atau tolol huh?!" Amarah Ryan membuat wanita itu terlonjak takut dan kemudian merundukkan kepalanya. Wanita itu tak sanggup menatap wajah Ryan lagi. Dia ketakutan.


Ryan tersenyum miring dingin dengan tatapan melotot, "Pergi." Ucapnya di akhir pembicaraan mereka.


Wanita itu kembali terlonjak padahal Ryan sama sekali tak menguatkan suaranya, malahan suara Ryan itu terdengar berat walaupun dengan sensasi menusuk.


Wanita itu segera mengangguk dan pergi meninggalkan Ryan dengan si mata yang tertahankan. Sungguh menyeramkan bukan jika suasana hati Ryan sedang kesal?


Ryan kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya, matanya melihat ke seluruh penjuru pasar.


Lama berjalan jalan Ryan tiba tiba terdiam. Kakinya kaku dan matanya terbelalak tak percaya, mulutnya terkatup dan jantungnya berdegup kencang sekali dan bahkan ingin meledak rasanya.


'Dia wanita dalam mimpiku!' batin Ryan.


Ryan menggelengkan kepalanya beberapa saat agar memastikan bahwa dirinya tidaklah menghayal atau cuma halusinasi belaka.


Ryan kembali melihat ke arah wanita yang barusan membuatnya kaget itu.

__ADS_1


Ryan memegang dadanya semakin berdebar, "Dia nyata!" Ucap Ryan tak percaya.


__ADS_2