Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Need You


__ADS_3

catatan penulis:


hallo my readers ku terzeyenggg... jangan lupa di like, comment, vote dan beri hadiahnya ya guys... semakin banyak kalian tinggalkan jejak semakin sering aku up ceritanya guyss..


ayolah guyss... buat aku semakin semangat update cerita dong...


oke guys... happy reading 🤗😁👍


jangan jadi pembaca gelap ya say... 🥺


---------------------------------------------------------------------------


Aku bercermin memperhatikan wajahku. "Kenapa bibirku makin gede anjir?!"


Apa karena di cium mulu?


Ck. Kenapa jadi murahan begini sih?!


Tok tok tok


Aku berbalik badan dan melihat ke arah pintu yang di ketuk, "Siapa?"


"Bu Minah nak." Ucap bu Minah dari luar.


"Iya Bu, masuk aja."


Bu Minah masuk dan menatapku girang. "Ibu punya kabar bagus non." Kata Bu Minah heboh.


Bu Minah memang sangat baik padaku saat aku di sini karena memang Bu Minah juga yang di tugaskan Ryan untuk mengantar makanan padaku karena aku di tugaskan tak boleh keluar.


"Gimana perkembangannya nak? Udah mulai dekat belum?" Kata Bu Minah.


Aku memutar mata malas. "Ibu, Vie ngak suka sama Ryan. Untuk apa coba?! Dia itu jahat. Menjengkelkan dan semua hal negatif melekat padanya." Jawabku. Bu Minah selalu saja menjodohkanku dengan Ryan. Ntah apa motivasi Bu Minah dalam hal ini. Ntahlah.


"Aduh... Udah udah. Ibu ngak mau mendengarkan kamu bilang benci kepada Ryan. Dia itu sebenarnya orangnya baik."


Aku mendengus kesal.


"Vie dengar. Ryan itu tumbuh dan berkembang bersama bibi. Dia begitu karena pengaruh keluarganya." Kata Ibu dengan wajah tertunduk dan sedih.


"Maksudnya Bu?"


Bibi menggeleng lemah, "Keluarga yang hancur membuat dia hidup tak teratur dan tak terarah. Melimpah harta orang tua membuat dia menghabiskannya dengan berfoya foya dan sangat bebas. Dengan bermain wanita membuat dia melupakan kekesalannya dan menghiburnya."


Ibu menghentikan kalimatnya sebentar sebelum kembali berbicara, "Ibu melihat kamu adalah orang baik, ibu yakin itu. Kamu percaya kamu sangat cocok dengan Ryan. Ryan pasti berubah."

__ADS_1


Aku melihat ibu Minah sangat tulus pada Ryan. "Tapi kenapa ibu begitu peduli pada Ryan bu?"


"Karena Ryan dari kecil ibu yang merawat. Ibu tau apa yang dirasakan Ryan, sedih ataupun senang." Jawab Ibu.


Ibu memberikan aku satu kotak besar. "Ini ada make up. Kamu dandan yang cantik ya... Nanti malam ada tamu yang datang. Jadi kamu harus menawan."


"T-tapi Bu.."


Ibu menutup mulutku dengan saru jari. "St.. ikuti saja ya... Ibu mau pergi dulu... Da daa..." Kata ibu sambil beranjak pergi.


Aih... Apaan lagi ini...


Aku membuka make up dengan ragu.


"KEREN BANGET...  WARNANYA CANTIK... SAYA SUKA SAYA SUKAAA..."


jeritku.


Kemudian aku teringat sesuatu, "Emang siapa yang mau datang ya? Kok Ryan ngak bilang awal awal?"


Aku mengedikkan bahu acuh, "Bodo amatlah. Mending aku pake aja. Hehe."


Mengingat tugasku sudah selesai, aku langsung saja ber-make up.


Beberapa menit aku mandi aku langsung memakai make up, berpakaian rapi dan akhirnya selesai.


Aku melihat ke arah jam, "Damn, lama juga aku berbenah ya. 2 jam anjir."


Creakkk


Pintu kamar terbuka, dan aku melihat ke arah pintu.


Ryan berhenti melihatku dan memperhatikan aku dari atas sampai bawah.


Kemudian berjalan perlahan ke arahku. Mendekatkan wajahnya kemudian menlap bibirku dengan ibu jarinya perlahan, "Lipstikmu ketebalan."


Aku menjauh wajahku, "Tangan mu kan kotor."


"Siapa bilang." Dia menatapku tajam.


"Iyalah, kan tadi banyak megang sesuatu. Jelas lah kotor."


Dia mendekatkan kepalanya hendak mencium namun ku tahan. "Apaan! Mau ngapain huh?!"


"Menghapus lipstik mu dengan bibir."

__ADS_1


Katanya santai.


"Dasar gila!! Bisa ngak ngak usah keseringan mencium ku!! Bibirku jadi membesar kau tau!!"


Dia memperhatikan bibirku dan tersenyum miring, "Pantesan lebih empuk."


Dia menarikku menuju ranjang dan memelukku dan mendorong tubuhku bersama dengan nya menindihku.


"Udah seminggu aku tak memuaskan libido ku." Desahnya di leherku membuat aku meremang.


****!


Aku ini kenapa?!


"Diamlah!! Jangan aneh aneh!! Aku.."


Dia langsung menciumku.


Namun kali ini sungguh berbeda, dia lebih lembut dan seperti menikmati setiap detik luma*tannya.


Tunggu. Kenapa aku jadi tau bedainnya anjir!


Dia memperdalam ciumannya.


Dia menghentikan ciumannya dan manik mata kami saling bertatap.


Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, "Cukup di depan aku aja kau menggunakan make up. Paham."


"Karena aku benci saat ada lelaki yang melihatmu dan menginginkan ku, kau milikku." Katanya sambil kembali mengecup kecup leherku dan mengelus perutku.


Damn! Ini ngak boleh terjadi!


Aku menahan tangannya dan menjauhkan wajahnya dariku. "Jangan lakukan itu! Aku membencinya!"


Dia menarikku dan memelukku. "Kalau peluk tak suka juga?"


Aku mendorongnya, "Iya! Aku membencinya!"


Dia kembali menarikku dalam pelukannya, "Kenapa kau terlalu banyak protes. Jangan membuatku kesal."


Dia mengeratkan pelukannya, "Diamlah, aku mau tidur." Katanya sambil menenggelamkan wajahnya di leherku.


Jantungku berdebar kencang.


Sial! Aku ngak akan mau menyukainya!

__ADS_1


__ADS_2