Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Apa yang terjadi padaku?


__ADS_3

...Author POV...


Hari ini Fian berada di toko Vie. Duduk di kursi pemesanan tanpa berniat untuk memesan.


Beberapa saat kemudian pelayan datang menghampiri Fian, "Mau pesan kue apa pak?" Tanya pelayan itu sopan


"Panggil bos kamu ke sini." Ucap Fian dengan nada datar dan dingin.


Seketika hawa mencekam keluar dari Fian.


Sang pelayan menelan salivanya berat dan kemudian kembali berbicara,


"M-mohon maaf sebelumnya pak. Bapak namanya siapa?"


"Suaminya."


Pelayanan itu sedikit kaget. 'Ya ampun Gusti... Cakep pisan suami si bos mah. Baru tau..'


"Cepat! Kenapa bengong!" Telak Fian.


Segera Surti mengangguk cepat, "B-baik pak."


'Kasep sih kasep. Tapi galak bener.' Batin Surti bergidik ngeri.


Tok tok tok


Pelayanan itu mengetok pintu ruangan Vie,


"Siapa?"


"Saya Bu. Surti. Ibu kedatangan tamu Bu." Ucap Surti dari balik pintu.


"Siapa dia?"


"Suami ibu." Ucapnya.


Segera Vie terdiam begitupun Ana yang ada di ruangan Vie.


'Suami Bu bos?' Batin Ana kaget.


'Wow. Ini kesempatan besar! Dia harus memberitahu suami bosnya kalau ada yang mau merebut istrinya nih!' Batin Ana menyeruak.


Ana tersenyum, 'Syukulah suami si bos akhirnya pulang...'


"Suruh pulang." Ucap Vie santai dengan datarnya.


Deg!


Ana membelalakkan matanya, "M-maksudnya gimana Bu? Kan itu suami ibu."


Vie masih tetap fokus pada pekerjaan nya, "Gak penting."


Segera sang pelayan mengangguk dan kembali ke meja Fian.


"Vie mana?" Tanya Fian dengan tatapan tajam.


Seketika bulu kuduk Surti berdiri. "Anu pak. Anu.."


"Anu anu. Apa?! Yang jelas kalau ngomong!" Bentak Fian membuat kegaduhan toko.


"Ibu bilang bapak harus pulang sekarang. Ibu tidak mau berjumpa bapak." Latah Surti cepat karena di bentak Fian.


Fian membelalakkan matanya dan segera berdiri dan berjalan menyudutkan Surti. "Di mana ruangannya." Ucap Fian dengan penuh penekanan.


"M-maaf pak. Bapak harus keluar."


Fian menatap tajam wanita yang ada di hadapannya ini, "Oh... Berani sekali kau menyuruhku."


"Beritahu aku di mana ruangannya kalau tidak aku akan mencincang mu hidup hidup." Ancam Fian tak main main.


Gleg

__ADS_1


Wanita ini menelan salivanya berat. Namun dia tetap diam.


Dia takut kena marah bosnya.


Fian mendorong tubuhnya menjauh dan masuk sembarangan ke ruangan yang di lintasi wanita ini sebelumnya.


Brak


Vie dan Ana terkaget saat pintu ruangannya terbuka dengan kuat.


"Kau berani mengusirku?!" Amarah Fian.


Ana menyerngitkan dahinya. Lelaki ini suami kak Vie? Huh?


Ana bingung.


Vie sedikit takut dengan tatapan marah Fian. Namun dia kembali menguasai dirinya untuk tidak tampak goyah. "Pulang sekarang."


Fian masuk begitu saja. Kemudian dia melihat ke arah Ana, "Kau keluar. Ini urusanku dengannya."


Ana segera mengangguk dan keluar ruangan. Dia pikir mungkin mereka membutuhkan privasi.


Fian menutup pintu ruangan dan menguncinya.


Fian segera menghampiri Vie dan menyudutkannya.


"Apa urusanmu. Jangan macam macam." Ucap Vie dengan mata tajam, namun sungguh kini nyalinya ciut melihat Fian sedekat ini.


"Siapa suami ke lima mu. Dimana dia."


Deg!


Seketika Vie panik. "B-bukan urusanmu." Ucap Vie memalingkan wajahnya.


Fian tersenyum miring samar, 'Lihatkan, dia sungguh tak pandai berbohong.'


Fian terus berjalan maju membuat Vie tersudut di mejanya. Fian menumpukan tangannya di meja mengurung Vie.


Vie semakin panik. Apa yang harus di katakannya?


Ck. Dia menyesal berbohong mengatakan bahwa Andra anak dari suami kelima. Seharusnya dia diam saja kemarin.


Vie kembali ciut. Bibirnya keluh.


Arh! Kenapa dia malah jadi lemah begini kalau berhadapan dengan Fian!


Wajah Vie yang gelagapan dan takut lebih terlihat seperti anak kucing yang menggemaskan bagi Fian.


Fian mensejajarkan wajahnya dengan Vie dan Vie spontan menutup matanya takut.


Fian tersenyum kecil. Seperti ada suatu dorongan yang kuat membuat dia mencium bibir istrinya ini membuat Vie kaget bukan main.


Vie memberontak dan mendorong dada Fian yang semakin menciumnya.


Gejolak hormonnya semakin meningkat. Dia menginginkan Vie sekarang, hanya Vie yang mampu membuatnya bergairah seperti ini.


Fian menggendong Vie naik ke atas meja dan memposisikan dirinya di antara kaki Vie dengan masih menciumnya.


Vie kewalahan dengan ciuman Fian yang sangat ganas. Membuat dia berhenti memberontak.


Fian tersenyum miring dan menatap Vie dengan tatapan sayu, "Jangan melawanku nona. Cukup nikmati saja."


Fian kembali mencium Vie. Memperdalam ciumannya.


Tangan Fian mulai bergerak liar dengan masuk ke dalam pakaian Vie dan gencar mengelus dan meremas hal yang selama ini selalu membuatnya bergairah. Fian bahkan lupa apa alasan dia membenci Vie. Kini dia sungguh tak waras sekarang.


Tok tok tok


"Mama!" Terdengar suara melengking ala anak kecil dari luar pintu membuat Vie tersadar.


Vie berusaha menjauhkan dirinya dari Fian membuat lelaki itu mendengus kesal.

__ADS_1


"Iya sayang. Sebentar Mama bukain pintunya."


Fian semakin kesal, 'Sayang? Itu cuma panggilan Vie untukku. Kenapa sekarang


Vie menatap tajam Fian, "Lepaskan aku." Tekan Vie.


Fian mengeratkan pelukannya dan kembali mendekatkan wajahnya kembali ingin mencium Vie.


Vie segera menutup mulut Fian dan mendorongnya hingga tubuhnya menjauh.


Vie merapikan bajunya dan kemudian membuka pintu dan segera Andra memeluknya, "Mama... Ayo pulang."


"Loh kamu kenapa bisa di sini sayang? Siapa yang anter?" Vie bingung melihat keberadaan Andra dan panik. Bagaimana bisa anaknya ada di sini padahal dia belum menjemput Andra dari sekolah?


"Aku yang anterin." Ucap seseorang membuat Vie menoleh.


Claire.


Fian segera berjalan menghampiri Vie, dia menatap tajam Claire, "Untuk apa kau kesini?"


Senyum Claire menghilang dan menatap datar Fian, "Kau bahkan lebih tak penting untuk ada di sini." Sindir Claire.


Vie segera menengahi, "Claire terimakasih sudah menjemput Andra. Aku juga akan segera pulang mengantar Andra, kalian pulanglah juga."


Claire sungguh tak suka dengan kehadiran Fian sekarang. Sangat di waktu yang sangat tak pas. Sialan!


"Baiklah Vie. Segera hubungi aku kalau sudah sampai di rumah ya." Ucap Claire singkat.


Vie mengangguk, "Oke."


Fian menatap tajam kedua insan yang di hadapannya. Dia sangat tak suka dengan keakraban mereka!


Apa apaan ini!


Sedangkan Claire kembali menyusun rencana untuk dapat merebut Vie di saat yang tepat.


Claire pun pergi.


Fian menatap Vie dengan marah. "Untuk apa berhubungan dengan dia?"


Vie tak memperdulikan Fian dan segera berjalan menjauh sambil menggendong Andra.


Vie melihat Ana dan kemudian mata mereka saling bertemu, "Ana. Saya pulang ya. Jaga toko baik baik."


"Siap Bu." Ucap ana.


Fian mengeraskan rahangnya kesal.


Saat sudah di halaman parkir Vie membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Fian yang mengikutinya sedari tadi."Vie! Aku masih mencintaimu!"


Kalimat itu membuat Vie terdiam dan menghentikan mobilnya.


Namun seketika pandangannya membuyar dan dan Vie terbangun dari mimpinya.


Damn! dark tadi Vie hanya bermimpi.


Vie bangkit dari tidurnya dan mengusap wajahnya, "Kenapa bisa aku memimpikan dia?! Dasar Vie bego..." Vie memukul kepalanya sendiri.


sedangkan di sisi lain Fian pun terbangun dari tidurnya, "Vie!..." Fian masih bergumam dan berteriak merasa dia masih dalam alam mimpinya tadi.


Fian bangkit dari tidurnya dan mengusap wajahnya gusar, "Arh... kenapa malah mimpi yang begini?!... Fian... Otak mu kemana sih?!"


Catatan penulis:


Wkwkw... bisa bisanya dua insan ini bermimpi hal yang sama.


Yuk terus dukung Author biar makin rajin upnya ya guyss...


like, comment dan vote yaaa...


thanks guyssss

__ADS_1


__ADS_2