Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Ketika Cinta Jadi Kebencian


__ADS_3

...Author POV...


Vie termangu menatap langit langit memperhatikan bagian itu dengan tatapan kosong.


Fian melihat istrinya jadi bertambah sedih. Fian segera menghampiri istrinya dan memeluknya intens. "Sayang. Peluk dong. Dingin," ucap Fian untuk mengalihkan pikiran buruk istrinya.


Vie menatap Fian dengan mata yang berkaca kaca, "Kenapa ibu kamu kelihatannya benci sama aku Fian? Padahal awalnya baik baik aja, tiba tiba malah jadi begitu."


Fian semakin sedih dan mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Vie. "Udahlah sayang. Gak usah di pikirkan."


"Sayang... Sudahlah. Mama memang suka begitu, jadi kamu gak usah terlalu di pikirkan." Fian mencoba menenangkan.


"Sayang... Udah ya sayang... Please, ngak usah di pikirkan. Ku mohon..."


Vie mengangguk dan membalas memeluk Fian.


Fian tersenyum kecil dan mengeratkan pelukannya dan mencium pipi istrinya dan kemudian mencium bibir istrinya, "I love you. I never left you go, cause I need you and can't life without you."


Fian kembali mengeratkan pelukannya, "By, udah malam. Mendingan kita tidur aja ya."


Vie mengangguk.


Fian tersenyum dan mulai menutup matanya perlahan.


Mereka mulai tertidur dan masuk ke dalam mimpi.


***


Fian tengah berada dalam ruangan rapat OSIS -Akibat Vie yang menyuruhnya harus bertanggung jawab atas jabatannya- sedang melihat pemaparan dari temannya.


Sedangkan Vie tengah berada di rumah. Dia baru sampai dan sekarang hendak membersihkan diri.


Drett


Ponsel Fian bergetar.


Mama


Fian menyerngitkan dahinya, ada apa mamanya tiba-tiba menelpon.


Fian melihat ke arah depan dan kemudian mengangkat tangannya, "Aku ijin, angkat telepon sebentar."


"Oh iya Fian. Silahkan."


Fian bangkit dari duduknya dan keluar ruangan.


Suasana cukup sepi di luar karena memang para murid sudah pulang sekolah, "Iya ma. Ada apa?"

__ADS_1


"Fian. Wanita yang kau nikahi itu adalah darah daging wanita yang merusak hubungan mama dan papa dulu."


Deg!


Fian terdiam sebelum dia mulai emosi dengan kalimat mamanya, "Cukup ma! Fian tau mama ngak suka sama dia, tapi bukan berarti mama malah menghina dan mengada ngada demi kehancuran hubungan kami!"


Mama Fian mulai menangis, "Kamu tau nak. Apa yang Mama katakan adalah sebuah kenyataan. Ayu, mamanya Vie adalah wanita yang berusaha merusak hubungan mama dan papa. Wanita itu adalah mantan papamu dan dia berusaha menyingkirkan mama dengan dalil membawa anak perempuannya agar meluluhkan hari papamu di saat suaminya baru saja meninggal. Mereka bersandiwara dan anaknya begitu licik mencari perhatian papamu dulu.


Fian... Percayalah nak. Mama tak mungkin bohong mengenai hal ini.


Wanita itu licik seperti ibunya!


Papamu hampir meninggalkan Mama dan kamu demi wanita ****** itu!"


"Cukup ma! Cukup! Jangan pernah berkata kebohongan lagi! Fian mulai muak dengan ini semua!"


Mama Fian mulai kehilangan akal. Dia sungguh membenci wanita murahan itu yang dapat merebut ati anaknya hingga lupa akan Mamanya sendiri.


"Jika kamu tidak percaya, silahkan! Tapi tanyakan saja pada Papamu mengenai Ayu, dia sungguh mantannya! Dan pastinya Papamu akan terdiam dan tak berani berbicara!" Bentak mama Fian.


Mama Fian sangat yakin suaminya memang akan terdiam jika membahas Ayu. Wanita yang pernah menjadi dambaan hatinya.


Namun karena suaminya itu masih menghargainya sebagai istri suaminya pasti tidak akan mau membahas lebih selain mengatakan bahwa Ayu adalah mantannya. Jadi kebohongan Andini mengenai Ayu yang di katakannya pada Fian takkan pernah terbongkar.


Fian terdiam dan kemudian langsung mematikan ponselnya.


'Apakah sungguh benar apa yang di katakan mama?' batin Fian mulai bergemuruh.


Apakah yang di maksud mama Fian mengenai papanya sempat ingin meninggalkan dia dan mamanya dulu alasannya adalah karena Ayu alias mama Vie?


Pikiran Fian semakin bergemuruh. Kenapa banyak rahasia yang tidka di ketahui dirinya?!


Apakah sebenarnya Vie mengetahui mengenai kejadian ini?


Sungguh Fian sangat kacau sekarang.


***


Fian pulang ke rumahnya.


"Kamu sudah pulang." Sapa Vie sambil berjalan mendekati suaminya.


Kalimat mamanya kembali terngiang dalam benak pikirannya mengenai kelicikan Vie dan Mamanya.


Apakah itu sungguh benar?


"Fian?" Vie melentikkan jarinya di hadapan Fian menyadarkan suaminya yang melamun dan tak menjawab pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Hm. Iya?" Fian tersadar.


"Ahm. Aku mau mandi dulu. Nanti ada yang mau aku bahas sama kamu. Kami tunggu aku di kamar ya." Kata Fian.


Vie mengangguk, "Okey. Tapi kamu makan siang dulu. Kamu pasti belum makan."


"Ah. Iya iya. Nanti setelah aku mandi aku makan dulu."


Vie tersenyum dan mengangguk.


Fian tersenyum tipis dan segera menuju kamar.


Vie kembali ke dapur untuk merapikan peralatan masak yang di pakainya tadi.


***


Di kamar Fian segera menelpon Papanya,


"Iya Fian. Ada apa?" Tanya papa Fian saat mengangkat telpon dari Fian.


"Pa. Apa papa kenal Bu Ayu?"


Deg!


Papa Fian terdiam. Bagaimana anaknya mengenal Ayu?


Fian mulai bergerak panik, apakah benar yang di katakan mamanya? Kenapa papanya terdiam?


"Apakah benar bu Ayu itu mantan Papa?"


Papa Fian sungguh lemas mengingat wanita itu. Rasa bersalah kembali muncul dalam benaknya. "Iya nak. Ayu itu mantan Papa."


Deg! Fian terdiam.


'Tidak. Apa yang di katakan Mama ngak boleh benar. Itu semua bohong. Kumohon...' batin Fian.


"Nak. Papa mohon. Jangan pernah bahas wanita itu, Papa tak ingin membahasnya." Ucap Papa Fian.


Jantung Fian seakan berhenti berdetak. Apa yang di katakan mamanya benar. Ayahnya tak mau membahas mengenai Ayu sang mantannya. Berarti benar cerita Mamanya mengenai kebusukan Ayu dan Vie anaknya.


Hati Fian sangat hancur sehancur hancurnya. Sangat!


Vie tak seperti yang dia pikirkan.


Bagaimana bisa Vie menghancurkan hidupnya dengan mencuri segala cintanya?


Licik sekali Vie dan Ibunya ingin merusak kebahagiaan keluarga kecil Fian dengan menjadi alat ibunya sendiri yang merupakan wanita perebutan suami orang.

__ADS_1


Kejam sekali.


Seketika cinta Fian hangus ntah kemana. Yang ada hanyalah kebencian dalam hati Fian terhadap Vie.


__ADS_2