Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Balikan


__ADS_3

...Author POV...


Fian yang udah lumayan kesal pun berjalan menuju dapur. Dia menggerutu, dan tak sengaja bersitatap dengan Vie yang tengah mengambil minuman juga.


Vie menunduk. Fian masih menatap Vie, dia sangat rindu Vie.


Vie memberanikan diri untuk memegang ujung baju Fian, Vie juga tak suka terus terusan begini. "Masih marah?" Tanya Vie tanpa melihat Fian.


Fian tersenyum kecil. Merasa senang bukan main saat Vie mulai mencoba berbicara dengannya. Namun Fian tetap diam dan kembali memasang wajah datarnya.


Vie mendongak dan melihat Fian masih menatapnya datar. Vie mendengus berat, "Ya udah. Aku pergi dulu." Vie mengakhiri kalimatnya dan pergi meninggalkan Fian.


Fian menatap kepergian Vie dengan sedih. 'Kenapa sayang malah pergi..' batin Fian merengek.


Vie menutup kamarnya dan membaringkan tubuhnya untuk segera tidur. Vie pun tertidur pulas. Lelah juga setelah mengerjakan tugas sekolahnya, di tambah lagi pikirannya selalu bercabang memikirkan suaminya.


Fian diam diam masuk ke kamar tamu tempat Vie tidur. Segera Fian berbaring dan memeluk Vie intens saat istrinya ini tertidur pulas.


Fian menatap Vie dan mencium sang istri,


'Rindu banget sama kamu sayang...' batin Fian.


Fian menghirup aroma tubuh Vie dan kembali mencium segala yang bisa di cium. Bibir, pipi, leher semuanya tak terlewatkan oleh Fian.


Dia bisa gila tanpa Vie. Sungguh!


Vie masih dalam alam mimpi hanya mengerang sambil memeluk Fian yang dia pikir adalah guling.


Fian mengeratkan pelukannya, 'Sayang.... Rindu....' batin Fian sambil mengelus tubuh Vie.


Fian tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia terus menudusel dalam pelukan Vie, sungguh nyaman dan hangat.


Ntah rasanya semua telah terobati. Rasa kantuk Fian yang selama ini ntah kemana kini mulai menjalar dalam tubuhnya kembali. Dia mulai mengantuk dan akhirnya tertidur pulas.

__ADS_1


***


Vie terbangun dan mengusap wajahnya. Kemudian mata Vie terbelalak, bagaimana Fian bisa tidur di kamarnya ini?


Namun hati Vie kembali luluh melihat wajah Fian yang tertidur pulas, lelaki ini tampaknya sudah tak tidur berhari hari karena dia tak bersama dengan Fian.


Vie mengelus kepala dan kemudian pipi Fian, "Ngantuk banget ya?" Vie bermonolog. Vie terus mengelus rambut Fian.


Merasa terusik Fian terbangun. Vie terkejut begitupun Fian. Fian terdiam dan merutuki dirinya sendiri.


Kenapa dia bisa ketiduran begini? Dia sungguh malu di depan Vie sekarang. Namun dalam hati Fian dia juga merasa sangat senang, dia mengingat saat Vie yang mengelus rambutnya sebelum dia bangun, itu menandakan Vie juga merindukannya.


Sesi saling diam memenuhi suasana pagi ini. Fian maupun Vie tak mulai berbicara dan masih sibuk dengan menetralkan jantung mereka masing-masing yang berdegup kencang.


Vie tau ke-kikukan yang terjadi membuat Vie mengalihkan pandangannya dan menunduk.


"K-kita harus bersiap. Sebentar lagi mau sekolah." Ucap Vie membuat Fian tersenyum kecil.


"I-iya." Vie masih gerogi.


"Ini Minggu." Ucap Fian lembut.


Vie membolangkan matanya. Malu sekali rasanya, bagaimana dia bisa lupa hari?


"O-oh iya."


Fian menaikkan salah satu alisnya, "Terus?"


Vie mendongak memberanikan diri, "K-kalau gitu. Aku mau olah raga di luar."


Fian gemas sekali melihat istrinya ini. Sungguh lugu dan polos membuat Fian tak tahan. "Kenapa harus di luar kalau bisa di dalam hm?" Tanya Fian dengan nada menggoda.


Vie memiringkan kepalanya bingung, "Memang naik sepeda bisa di dalam rumah?" Tanya Vie spontan. Memang Vie berniat untuk olahraga sepeda seperti biasanya kalau sedang libur. Namun bukankah aneh bersepeda di rumah?

__ADS_1


Fian terkekeh, "Bisa. Enak lagi. Buat ketagihan."


Vie semakin bingung, "Caranya?"


Fian memeluk Vie dan mendekatkan wajahnya, "Sini biar aku tunjukkan."


Fian mencium Vie dan kemudian memperdalam ciumannya.


Barulah Vie sadar maksud dari kalimat Fian. Sungguh suaminya sangat nakal.


***


Fian menatap Vie lekat dengan senyuman kecil. Vie tertidur pulas. Dia kelelahan sedangkan Fian merasa sangat senang.


Fian mencium pipi Vie, "Cape hm?"


Fian terkekeh dan kemudian memeluk sang istri membuat Vie terbangun,


"Tidakkah kamu merindukanku?" Tanya Fian.


Vie mengangguk, "Kalau kamu?"


Fian menggeleng, "Tidak juga." Fian berbohong.


Vie mengerucutkan bibirnya, "Jahat."


Fian tersenyum kecil, "Bukan saja rindu. Tapi hampir sakit paru paru, jantung, bahkan usus dan pankreas."


Vie tersenyum. Kemudian Vie mantap serius, "Kita jangan marahan lagi ya. Lupain aja yang kemarin."


Fian mengangguk, "Iya sayang."


Mereka pun saling berpelukan membuat para kaum jomblo merana.

__ADS_1


__ADS_2