
Aku berbaring di tempat tidurku melihat ke arah langit langit kamar.
Ryan tak pulang malam ini sepertinya. Sudah pukul 12 malam dia masih belum datang. Kayanya lagi banyak kerjaan di sana atau ada yang lainnya aku pun tak tau.
"Perla... Perla apa tadi namanya. Susah amat di sebut."
"Perlak pengalas maksudmu?" tanya seseorang tiba-tiba dari sebelahku.
Deg!
Aku menoleh kesebelahku, Dion.
Aku meneguk air liurku berat.
Teringat kembali akan Dewa Kesaktian dan Kematian.
Ngak mungkin Dion kan?
Kan namanya beda... Please jangan sampe...
"Kenapa?" tanyanya lagi dengan tatapan bingung.
Aku menatapnya serius kemudian menggelengkan kepalaku, "Gak. Ngak ada. Aku cuma mengantuk saja."
Dia menatapku serius, "Kau yakin?"
Dia semakin menatapku serius.
"Bak baik. Aku tadi memikirkan tentang Dewa Kesaktian dan Kematian yang baru aku baca di loteng tadi." Kataku jujur.
Dia tersenyum, "Hm. Baiklah. Terus apa yang kau ketahui dari bacaanmu?"
"Anu... Itu... Dewanya..." Aku jadi bingung mau jawab apa.
"Perlantiotika?" ucapnya membuat nafasku tersendat.
"K-kok kau t-tau?" tanyaku gugup.
__ADS_1
Dia terkekeh singkat, "Ya pasti aku tau. Itu sejarah persihiran terbesar di dunia. Aku sudah baca bukunya sampai habis," katanya santai.
Aku menghembuskan nafas lega dan mengangguk, "Oo... Kau membacanya. Aku pikir tadi apa. Hehe. Shock aku, aku pikir kau itu dewanya... Bodoh memang aku ya, hahaha..."
Dia berhenti tersenyum dan menaikkan salah satu alisnya, "Jadi kau membenci dewa itu?"
"Em. Aku tak tau. Kan aku tak pernah berjumpa, wkwk. Tak kenal maka tak sayang." Humorku padanya.
Dia tersenyum kecil, "Kalau udah kenal dan sayang. Terus apa?" Katanya sembari sedikit bangkit dari tidur dan menghadapkan wajahnya di atasku.
"Cinta mungkin. Hahaha..." Aku terkekeh.
Dia tersenyum.
Aku kembali mencium aroma madu dan melati bercampur aroma lainnya dari Dion.
Deg!
"Dion. K-kenapa harummu seperti ini?" Tanyaku gugup. Bukankah ini adalah deskripsi bau bauan yang melekat pada sang Dewa?
"Oh. Ini. Karena aku menyukai madu dan melati serta campur lainnya, jadi aku meraciknya sendiri saat sebelum aku pergi ke dunia maut," jelasnya.
Dunia maut maksudnya kematian kan?
Fiuh... Syukurlah...
Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku dan memelukku dengan kaki bersilang dengan kakiku.
Deg!
"Apa syarat untuk dicintai oleh manusia harus berwujud manusia?" tanyanya membuatku gugup.
"T-tentu," jawabku pasti.
Dia mengeratkan pelukannya, "Apa yang terjadi jika dia bukan manusia hm?"
"A-am. Eh by the way, tenggorokan ku kering, a-aku mau minum dulu. Hehe," aku menepikan tubuhku untuk terlepas dari pelukannya.
__ADS_1
Dia tak melepaskan ku, "Jangan bohong."
Deg!
"O-oh iya! Aku tadi ada jumpa hantu perempuan cantik loh! Namanya Kunti!" ucapku asal mengalihkan pembicaraan.
Tolol, beneran tolol banget sih aku memang. Kenapa topiknya harus Kunti?
Aku menggeplak kepalaku .
Dia yang tadinya serius jadi terkekeh, "Oh, jadi kau menjodohkan aku dengan kuntilanak hm?" dia mendongakkan kepalanya menatapku langsung.
Aku menggaruk tengkukku. "Hehe, ya kali jodoh ya kan? Jodoh mah siapa yang tau?"
"Kalau kuntilanak di kuburan juga banyak Vie," dia mencubit hidungku.
Aku terkekeh terpaksa menertawakan kebodohan ku sendiri.
Dia kembali tertidur pada pundakku, "Aku akan pulang besok."
Aku berfikir, mungkin dia kesepian kali di kuburan ya?
Dion kembali terkekeh singkat, "Iya. Sepi sekali di kuburan. Makanannya aku hari ini menginap di sini," katanya setelah membaca pikiranku.
Aku terkekeh.
Tapi aku sungguh tak nyaman dengan posisi ini. Ini terlalu... Em. Ntahlah.
Dion melepaskan Pelukannya dan tidur terlentang di sebelahku.
Sepertinya dia juga membaca pikiranku lagi tadi.
Dia menggandeng tanganku, "Hm. Aku memang melakukannya."
Dion melihat wajahku, "Kau tidurlah, aku akan menjagamu malam ini."
Aku tersenyum kecil, "Baiklah."
__ADS_1
Aku menutup mataku.