
Catatan penulis:
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ✨
---------------------------------------------------------------------------
Dia telah pergi bekerja. Segala pekerjaan rumah telah selesai dan sekarang aku tengah memegang cat dan kuas.
Aku melihat seluruh rumah dari halaman depan ini.
Aku menghentak hentakkan kakiku dan meringis, "Ish!! Gimana coba?! Gimana ini bisa siap?!!!!!!"
Arhhhh!!!
"Lagi apa?" Tanya seseorang tiba tiba dari belakangku.
Dion!
Aku memegang tangannya berharap, "Dion pleaseeee.... Bantuin aku mengerjakan semua ini. Bantu aku Cat rumah ini... Please..." Aku merapatkan telapak tanganku memohon dengan kepala ku tundukkan.
Dia tak menjawab, seperti memang keberatan deh dia.
Ck. Mungkin karena aku memintanya terlalu banyak kali ya?
Aku merunduk kemudian mengusap hidungku menahan tangis.
"Kenapa menangis hm?" Terdengar suara yang sangat dekat di hadapanku membuat aku mendongak sedikit, wajahnya sudah ada di hadapanku sangat dekat.
"Aku sudah selesai mengerjakannya," katanya dengan senyuman kecil dan menunjuk ke rumah yang ada di belakangku dengan dagunya.
Aku menoleh ke belakang. Mataku berbinar melihat rumah telah selesai di cat dengan warna putih tanpa tersisa satupun titik di dinding yang tak berwarna.
Aku memeluk Dion, "Aaa.. Makasih banyak Dion! Kau teman terbaikku."
Dion melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku melihat ke arahnya sambil tersenyum.
"Makasih saja?" Tanyanya meminta sesuatu.
Aku mengerutkan keningku, "Memangnya kau mau apa?"
Dia menyentuh bibirku perlahan dengan ibu jarinya dan menatapku dengan senyuman kecil, "Aku mau ini."
__ADS_1
Dia mendekatkan wajahnya sedang aku terus melengkungkan punggung ku ke belakang karena tangannya masih merangkul pinggangku.
Aku menutup mulutnya saat wajahnya tepat di hadapanku, "Hm. Anu. A-aku..." Aku kaku sedangkan dia menaikkan salah satu alisnya.
Aku lepaskan tanganku perlahan. "M-mendingan, kita makan. A-aku masakin, hehe."
Dia mendekatkan wajah, tersenyum sambil memiringkan kepalanya. "Tapi aku maunya cium."
Aku kembali menutup mulutnya, "Sepertinya aku beneran laper deh. Serius." Aku mengacungkan dua jari serius.
Dia menggeser tanganku yang menutup mulutnya, "Iyaa.. Sekarang kita makan."
Dia melepaskan rangkulannya dan kemudian kembali menegakkan tubuhnya dengan aku pun melakukan demikian.
Aku berjalan dahulu ke dalam rumah. Sedangkan dia mengikuti ku dan sekarang berada di sebelahku.
"Mau masak apa?" Tanyaku.
"Terserahmu mau masak apa," jawabnya santai.
Aku berjalan ke dapur dan memasak gulai ayam. Setelah selesai aku menyisihkan untuk Ryan nanti dan kemudian untuk kami.
Aku menyediakan makanan di hadapan Dion dan menyiapkan nasi.
Dia memakannya, "Enak." Jawabnya lagi.
Mataku berbinar. Dia orang pertama yang bilang masakan ku enak. Kalau si Ryan mah palingan kalau ngak diam dia malah menghukum ku. Paling keras pujiannya mah bilang 'Lumayan..' dengan wajah songongnya.
"Oh ya, aku balik dulu. Ada kerjaan yang belum ku tuntaskan," katanya.
Aku mengangguk, "Silahkan."
Dia tersenyum sambil mengedipkan mata kemudian menghilang.
Aku hanya menggeleng sambil terkekeh. Dasar makhluk aneh, but wait...
Kerjaan?
Memangnya makhluk jadi jadian seperti dia kerjaannya apa?
Lah, kok aneh?
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku, "Terserah dia lah mau gimana. Mending aku cepat cepat makan siang dan merapikan semuanya."
Aku segera makan dan kemudian merapikan piring.
Aku bergegas mengerjakan tugas laporan Ryan di ruangannya.
Setelah selesai aku jadi merasa bosan.
Aku menyandarkan badanku di bangku dan mengelus jidadku, "Di rumah ini ada loteng kan ya? Mendingan aku coba aja ke sana, mana tau ada yang bisa di banting. Hahaha..."
Aku berjalan menuju loteng. Mencari anak tangga yang menuju sana.
Dan... Ya! Aku menemukannya!
Aku naik ke atas.
Pintunya tertutup. "Ck, kayaknya di kunci deh," keluhku.
Kemudian aku mencoba membuka pintu ruangan itu.
Cekrek
Owh, terbuka?
Aku kembali membuka dengan lebar.
Walaa... Deretan buku yang sangat banyak memenuhi tempat ini. Sungguh seperti perpustakaan sekolah.
Aku masuk ke dalam.
Banyak sekali debu dan juga barang barang lain yang di letakkan di dalam kotak. Berdebu dan usang.
Aku kembali melihat ke arah deretan buku.
Ada satu buku yang unik sekali. Berwarna ungu dan mengkilap seperti kaca. Tapi bukan kaca... Terlihat seperti plastik transparan di sampulnya.
Aku mengambilnya dan kemudian menlapnya.
Aku melihat rak yang merupakan tempat buku ini. Berlabel 'Kumpulan Sejarah Dunia'...
Aku sedikit terkekeh, "Hehe, bahkan kalian sendiri akan menjadi sejarah kali. Sok sok-an nulis kumpulan sejarah dunia.."
__ADS_1
Mataku langsung mendapat perhatian pada kursi dan meja yang sepertinya memang di sediakan untuk membaca buku ini. Dan aku mulai membacanya.