Tahanan Sang Tuan Sadis

Tahanan Sang Tuan Sadis
Terpana


__ADS_3

Aku melihat ke arah lain dan memandang hamparan tanaman indah yang ada di hadapanku.


Cantik sekali..


"Suka pemandangannya?" Tanyanya membuat aku berhenti memandang alam dan beralih melihatnya.


Aku mengangguk, "Iya. Cantik dan asri."


Dia tersenyum miring, "Kau tau. Ini tempat bangkai pribumi mati mengenaskan karena kerja paksa."


"Waduh... Serem amat," Ucapku kaget.


Dia menatapku datar, "Tak cuma itu. Bangkai yang di kubur di tumbuhi tanaman karena bangkai di buat jadi pupuk organik."


"Busett... Kok gitu sih? Kenapa ngak di kubur layak seperti mengubur manusia aja," ungkapku tak terima.


Dia tersenyum miring tertawa singkat, "Bangkainya terlalu banyak. Tak ada tempat untuk menguburkan. Mereka membusuk dan akhirnya di kubur secara masal."


Aku menggeleng tak percaya, "Is is is...  Kejam amat penjajahan ini. Bahkan mayat pun bertimbun. Apa mereka ngak punya hati apa?!" Pekikku keras.


Aku melihat Dion yang menatapku datar. Aku terdiam karena baru tersadar kalau ni orang juga salah satu dari penjajah.


Aku menatapnya tajam. Mungkin karena kekejamannya dia jadi mati ngak tenang gini ya kan. Ck ck ck... Kesian... Makanya jangan jadi orang jahat.


Wait. Dia bisa baca pikiran kan ya?


Eh. Ngak juga lah. Kan katanya dia bisa baca pikiran kadang kadang saja.


Dia menggeleng, "Aku bukan salah satu dari penindasan itu," katanya datar.


Damn. Kali ini dia bisa baca pikiranku.


Tapi. Ah.. syukurlah dia bukan bagian dari mereka.

__ADS_1


"Tapi akan sama seperti mereka sebentar lagi," sambungnya dingin.


Mataku terbelalak shock. "Serius?!"


Dia tersenyum kecil, "Kau pikir apa gunanya aku ada di sini."


Eh.. iya juga ya kan?


"Eh. Tapi kan kau hantu. Mana bisa menyuruh orang-orang pribumi. Kecuali kalau kau menyuruh hantu orang-orang pribumi, baru bisa," candaku membuat dia terkekeh singkat.


"Terserahmu." Jawabnya singkat.


Aku melihat sekitar. Aku mengingat sesuatu, "Eh by the way, kok hantu yang kelihatan cuma kau seorang saja. Yang lain mana?" Kataku penasaran.


Iya kan.. mana coba hantu lainnya. Kan aku penasaran juga.


Dia menatapku datar, "Wajah mereka hancur dan berbelatung. Kau mau melihatnya?"


Mataku terbelalak dan kemudian menggeleng capat. "Eh... Ngak ngak usah. Hehe. Aku hanya bercanda."


"Ya iyalah. Kalau hantunya serem mah aku takut." Kemudian aku menunjuknya, "Kalau ganteng kaya dirimu baru aku tak takut. Hehe." Kataku cengengesan.


Dia menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum kecil, "Apa kau menggodaku?"


Aku terkekeh. "Ngak dong. Ini namanya gombal. Alias buat orang bawa perasaan dan membuat melting lawan jenis. Hahaha..."


Dia mendekatkan dirinya padaku dan berdiri di hadapanku, "Terus, jika sudah begitu... Kau harus tanggung jawab bukan?" Dia tersenyum miring.


Dia mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya.


Tep


Aku menutup wajahnya dengan telapak tanganku. "Udah siang. Mendingan kita pulang. Aku udah laper." Kataku menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


Yup. Aku ngak mau terjadi hal yang aneh aneh padaku pagi nantinya.


Sudah cukup aku harus membenci Ryan. Dan memang Ryan pantas untuk di benci karena perbuatannya yang bejat. Aku tak ingin yang terjadi padaku dengan Ryan terjadi pula dengan Dion. Aku masih meyakini Dion itu hantu yang baik walaupun kadang memang lepas kendali.


Dion menjauhkan wajahnya dan kemudian mengangguk, "Baiklah kita kembali."


Seketika angin berhembus ringan dan cahaya silau menyinari kami.


Aku kembali ke kamar tepat saat Ryan masuk ke dalam kamar.


Dia menatapku datar, "Apa yang terjadi tadi pagi?"


Aku mengedikkan bahuku, "Memangnya apa? Aku tak mengerti."


Dia berjalan ke arahku sambil mengingat kejadian yang di alaminya, "Aku pergi ke kantor. Sedangkan seharusnya hari ini aku ke kerajaan Pratayana mengurus perjanjian." Dia menatapku aneh, "Kenapa aku bisa lupa? Aku tak pernah lupa akan apapun. Tapi kenapa hari ini..?" Dia mengusap jidadnya pusing.


Aku melihat ke arah belakang Ryan.


Dion tersenyum miring dan kemudian menghilangkan.


Terdengar suara bisikan di telingaku, "Sekali kali aku kerjain dia tak masalah kan?" Suara Dion terdengar seperti terkekeh.


Aku menyadari, pasti Dion pelakunya!


Aku menahan tawa. Dion ternyata usil juga.


"Kenapa malah tertawa? Apa yang salah?" Tanya Ryan dengan raut wajah tak senang.


"Mungkin kau sudah mulai pelupa kali." Aku tersenyum kecil, "Faktor umur memang tak bisa di tutupi." Ledekku.


Dia menatapku dingin dan marah. "Dan kau sekarang sudah berani menghina majikanmu huh?"


Aku mengedikkan bahu acuh. "Bukan menghina. Tapi kenyataannya." Aku pergi berjalan meninggalkannya menuju meja kerja mulai mengerjakan tugas kembali.

__ADS_1


Dia kesal dan membaringkan tubuhnya di ranjang. Mengumpat tak jelas dengan bahasa Belanda sambil marah marah ngak jelas.


Pasti seluruh kerjaannya berantakan. Wkwk...


__ADS_2