Tautan Takdir

Tautan Takdir
Perjuangan Aska #2


__ADS_3

Jujur ya guys...,sebelum kalian baca. Aku cuma mau bilang kalau part ini agak gak seru😂


Nah yang seru menurut aku tuh part selanjutnya yang bakalan aku post di hari besok. Ada kejutan di sana,jadi kalau yang ini gak greget. Ya mohon maaf😁😁


Happy reading ajalah...


♡♡♡


"Sassya..." Ucapan Aska tercekat,ketika dua orang lain turun dari mobil bersamaan dengan istrinya.


"Raynand??" Panggil Aska dengan raut tak percaya.


"Hei bung.." Sapa Raynand dengan santainya.


Aska tak menjawab. Ia malah memperhatikan Sassya dan ibu mertuanya dengan lekat.


"Ibu,Sassya. Aku.."


"Emm,sayang. Sebaiknya kamu masuk duluan ke dalam,langsung istirahat ya." Ujar Melissa dengan raut datar dan nada suara yang tak bersahabat. Ia bahkan tak menoleh sedikitpun pada Aska.


Sassya menurut patuh. Tanpa menoleh pada Aska,ia pun melangkah masuk ke dalam. Sempat ingin di tahan oleh Aska,namun tangan Aska di tepis oleh Melissa.


"Jaga sikap anda tuan Aska. Jangan lancang menyentuh putriku!" Tegur Melissa dingin.


Setelahnya ia beralih pada Raynand. Raut wajahnya seketika berubah lunak.


"Nak Ray,terimakasih sudah mau mengantarkan Sassya dan saya hari ini. Sebenarnya ibu mau menyuruh kamu masuk,tapi sepertinya ada sedikit gangguan. Kalau kamu tidak keberatan,besok pagi datanglah lagi kemari." Ujar Melissa dengan ramah.


"Baik bu,terimakasih." Ujar Raynand sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Melissa.


Aska yang melihat Raynand di perlakukan dengan baik jadi merasa berang.


"Bajingan!! Sudah ku bilang jauhi istriku!!" Aska hendak melayangkan pukulan ke wajah Raynand namun di tahan oleh ucapan Melissa.


"Tuan,sebaiknya anda pulang. Jangan membuat keributan di sini. Jangan sampai saya memanggil petugas keamanan untuk mengusir anda."


Aska melotot tak percaya. Sementara Raynand memilih pamit undur diri.

__ADS_1


Melissa hampir berbalik masuk ke dalam rumah namun harus terhenti ketika Aska,tiba berlutut di depannya.


"Ibu,maafkan Aska. Aska tau Aska salah,tapi izinkan Aska perbaiki semuanya. Aska janji Aska akan membahagiakan Sassya dengan sungguh-sungguh." Pinta Aska dengan posisi berlututnya.


Melissa tak bergeming. Aska kembali berbicara.


"Aska..,Aska...,datang ke sini untuk meminta maaf atas semua kesalahan Aska pada Sassya dan juga ibu." Ujat Aska dengan kepala yang semakin tertunduk.


"Setelah semua yang kau lakukan pada putriku? Kau masih bisa bilang 'ingin memperbaiki'? Bagian mana lagi yang mau anda perbaiki wahai tuan Aska? Sejak awal fondasi hubungan yang anda dan putri saya bangun itu sudah rusak dan sekarang hanya tersisa puing-puingnya. Tidak ada yang perlu di perbaiki." Ujar Melissa dengan nada tenang namun raut wajahnya menunjukkan kekecewaan mendalam.


"Bu,Aska mohon. Aska salah,sangat-sangat salah. Aska akui itu,tapi belum terlambat. Jika menurut ibu bangunan yang kami bangun sudah hancur maka masih ada cara lain,kami bisa membangunnya kembali. Tolong beri Aska kesempatan,sekali lagi. Aska berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aska mencintai Sassya dan mau memulai semuanya dari awal. Aska benar-benat ingin minta maaf."


"Satu bulan Aska di pisahkan dari Sassya,dan Aska sadar sepenuhnya jika Sassya berati bahkan sangat berati untuk Aska. Karena itu Aska mau berjuang sekali lagi untuk membangun semuanya,Aska ingin minta maaf langsung pada istri Aska. Aska.."


"Minta maaflah pada orangtuamu tuan Aska. Mereka sama kecewanya dengan kami. Perbaiki hubungan mu dengan keluargamu terlebih dahulu,anak saya dan saya punya pilihan masing-masing. Tidak semua hal yang retak bisa di perbaiki dan tidak semua hubungan yang rusak bisa di bangun kembali. Permintaan maaf tuan Aska,mungkin bisa saya dan putri saya terima. Tapi untuk mengulang semuanya dari awal,saya sebagai ibu dari wanita yang anda sakiti tidak bisa memaafkan anda semudah itu."


Setelah mengatakan hal itu,Melissa melangkah meninggalkan Alex yang masih bersimpuh di tanah. Saat sudah di ambang pintu,Melissa kembali berbicara.


"Minta maaflah pada kedua orangtua tuan. Mereka juga tak kalah di kecewakan dalam hal ini. Jika tidak bisa menopang semuanya,setidaknya pertahankan salah satunya." Ujar Melissa sebelum benar-benar masuk ke dalam.


♡♡♡


"Kok kamu gak tidur? Mama kan udah bilang,istirahat Sassya." Ujar Melissa dengan raut enggan.


Sassya tau mamanya pun masih kesal dengannya,karena secara tidak langsung Sassya ikut membohongi mamanya. Bahkan mungkin jika Delice tidak memberitahu mamanya dan orangtua Aska. Mungkin sampai saat ini baik orangtua Aska maupun Melissa masih mengira jika hubungan Aska dan Sassya berjalan baik.


"Ma,Sassya minta maaf." Ujar Sassya lirih.


Melissa mendengus."Sudahlah Sassya,mama tidak ingin membicarakan apapun saat ini. Kembalilah ke kamar dan istirahat. Kasihan cucu mama." Ujar Melissa masih dengan raut enggannya.


Sassya tampak belum puas dengan respon mamanya. Apalagi ada yang mengganjal di perasaannya saat ini.


"Mama.." Panggil Sassya pelan. Melissa menoleh.


"Ada apa?"


"Aska masih di luar?" Tanya Sassya takut-takut,tanpa berani mengintip di luar.

__ADS_1


Melissa kembali melengos malas. "Berhentilah menjadi wanita lemah Sassya. Mama mohon sama kamu,sekarang kembali ke kamar dan beristirahatlah. Aska salah jadi biarkan dia menerima konsekuensinya."


"Tapi ma,dia masih sua.."


"Kembali ke kamar,mama bilang!!"


"Ma.."


"Sassya,jangan buat mama marah."


Tak ada pilhan lain,Sassya akhirnya menurut untuk kembali ke kamar. Sekilas ia menoleh dari celah gorden,dapat ia lihat jika Aska masih ada di sana. Tertunduk dengan posisi berlutut di tanah,ada setitik rasa kasihan di hati Sassya. Tapi ia tak bisa juga melawan Melissa. Melissa benar,Aska salah dan harus menerima konsekuensinya.


♡♡♡


Aska pulang dengan tangan kosong. Tidak mendapatkan maaf ataupun kesempatan,semuanya menggantung. Dengan langkah gontai,ia memaksakan kakinya untuk terus melangkah menjauhi rumah sang istri.


Tujuannya sekarang adalah pulang ke rumah. Ada masalah lain yang harus ia selesaikan juga,amarah orangtuanya,penjelasannya,dan banyak hal lain yang harus Aska selesaikan satu persatu.


Dengan pikiran yang masih berkecamuk,Aska berusaha mengontrol dirinya. Dihentikannya sebuah taxi yang kebetulan lewat,setelah memberi petunjuk arah taxi itu pun melaju meninggalkan halaman rumah Sassya.


Tanpa di sadari oleh siapaun,sepasang mata yang sedari tadi mengintip dari balik jendela sebuah kamar tampak mulai berkaca-kaca.


Sepasang mata itu adalah mata milik Sassya,wanita itu kini tengah menangis sambil mengusap-usap perutnya yang sudah sedikit menonjol.


Sekuat apapun keinginannya untuk menjauh,sekuat itu juga sisi egoisnya membantah. Sassya tidak bisa berbohong,ia mencintai laki-laki bejat itu.


♡♡♡


Di sisi lain,Aska kini sudah sampai di depan rumahnya. Tepatnya rumah kedua orangtuanya,walaupun sudah bisa menebak apa yang selanjutnya akan terjadi.


Keputusan Aska sudah bulat,ia ingin membangun semuanya dari awal,menyatukan keretakan yang ada dan membangun fondasi yang lebih kuat.


Berbekal nasehat yang Melissa berikan tadi,Aska yakin jika dirinya bisa menopang semuanya dan karena itu langkah pertama yang harus ia lakukan adalah berdamai dengan kedua orangtuanya.


Cara itu adalah cara paling jitu yang Aska pilih agar dia punya patner pendukung.


♡♡♡

__ADS_1


Jangan Lupa Like Vote Komen....


__ADS_2