
Sassya akhirnya benar-benar meninggalkan kediaman Aska,ia memacu motor dengan kecepatan cukup tinggi. Tujuannya saat ini adalah kembali ke taman,tadi Zee sudah menghubunginya lewat pesan dan mengatakan akan datang sedikit terlambat karena terjebak macet.
Hingga tak sampai setengah jam Sassya sudah sampai di taman kota. Suasana masih sama,masih sepi. Seperti Zee juga belum sampai,gadis itu pun akhirnya melangkah masuk ke dalam taman dan duduk kembali di bangku di mana ia duduk tadi.
Kini jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Cuaca yang tadinya cerah mendadak mendung,angin juga bertiup cukup kencang dan tak lama setelahnya hujan turun.
Sassya segera berlari mencari tempat berteduh di bawah pohon besar yang ada di sudut taman. Tak lama setelahnya ponsel Sassya berbunyi. Ketika ia melihat layar ponselnya,ternyata Zee lah yang menelpon.
"Halo Sya? Lo masih di taman ya?"
"Iya,kenapa Zee?"
"Emm,gimana ya. Mendadak hujan nih,di sini juga macet banget. Tadi gue berangkat dari kantor agak telat soalnya ada meeting,eh sekarang malah kejebak macet. Katanya di depan sana ada yang kecelakaan. Makanya lama banget ini nunggunya."
"Ya udah kalau gitu jalan-jalannya di tunda besok juga gak papa Zee. Gue juga harus pulang ini,kasian mama kalau gue tinggal sendirian apalagi hujan gini. Gue takutnya dia butuh apa-apa,lo kan tau mama lagi sakit."
"Beneran gak papa? Atau gue suruh orang dari mansion buat jemput lo dan ngantar lo sampai depan gang gimana?"
"Udah lah gak usah,nanti ketahuan papa William. Lagi pula gue kan bawa motor Zee,di situ juga ada jas hujan. Amanlah,gue pulang sendiri."
"Tapi sya..."
"Udah gak usah khawatir,sebenarnya gue pengen ngomong sesuatu sih sama lo."
"Apaan??"
"Gak jadi deh,gue tutul ya teleponnya. Bye..."
__ADS_1
Sassya langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawaban Zee. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya,Sassya sangat ingin menceritakan masalahnya dengan Aska barusan. Tapi logika Sassya mengingatkannya pada kesalahan pada keluarga William dulu.
Zee mungkin mau saja membantunya,gadis itu bukanlan gadis pendendam hanya saja ia juga tidak pelupa dan Sassya pun masih punya wajah malu untuk meminta bantuan pada orang yang pernah ia dan ibunya jahati dulu.
Alhasil Sassya memilih bungkam dan memikirkan solusinya sendiri nanti malam,yang terpenting adalah ia pulang saat ini. Ia khawatir dengan kondisi mamanya yang tadi pagi masih sakit saat ia tinggalkan.
Setelah mengenakan jas hujannya,Sassya pun melajukan motornya untuk kembali ke rumah.
Dalam perjalanan pulang,Sassya terus memikirman ucapan Aska dan tawarannya tadi.
Di satu sisi ia mau saja menjadi istri kontrak Aska. Di pikirannya jika ia menikah dengan Aska maka mereka akan terbebas dari kejaran rentenir yang sudah dua tahun ini menghantui hidup mereka,tak hanya itu Sassya pun bisa meminta bantuan Aska untuk mengobati mamanya yang sering sakit-sakitan.
Tidak masalah bagaimama cara ia menebusnya nanti,yang terpenting adalah mamanya harus terbebas dari penderitaan. Jujur ia tak tega melihat mamanya harus bekerja keras menjadi pelayan di rumah orang-orang. Belum lagi cibiran orang-orang tentang mamanya yang merebut posisi nyonya muda dengan cara jahat dan lain sebagainya. Rasanya Sassya ingin sekali memutar waktu untuk memperbaiki semuanya.
Ia tahu di sini mamamya memang bersalah, tapi mau bagaimana lagi. Jangankan orang lain,Sassya sendiri pun kaget saat tau jika dalang kematian ibu kandung Zee dan Grandma Chatterine adalah ibunya.
Namun cara mamanya salah. Mamanya malah di butakan harta dan akhirnya memanfaatkan kebaikan keluarga William,Sassya sangat tau jika mamanya salah namun tak hanya mamanya yang salah. Sassya juga ikut andil dalam merusak kebahagiaan keluarga William.
Ia selama ini selalu membully orang-orang yang berani mendekati Davian. Alasannya adalah karena ia tidak mau jika Davian sampai mengabaikannya,ia juga selalu mencari masalah dengan Zee agar Zee di marahi sang papa,sebenarnya bukan itu niat Sassya. Ia mencari masalah dengan Zee dengan harapan Zee akan takut dengannya dan akhirnya mau berteman dengannya,namun semua caranya salah.
Lalu yang paling jahat adalah saat di mana ia membully Salma semasa SMA hingga membuat gadis itu tertekan dan akhirnya bunuh diri. Itu adalah kesalahan yang paling fatal yang pernah Sassya buat.
Tak terasa satu persatu bulir air mata Sassya jatuh di kedua pipinya. Suara isakannya terdengar samar karena tertutupi oleh derasnya hujan.
"Jahat banget gue hiks!! Gue ngerusak kebahagiaan orang-orang terdekat gue."
Sassya ingat ketika ia berusia tujuh tahun ia sempat merusak kue ulang tahun yang di miliki oleh Zee hingga gadis itu menangis karena gagal merayakan ulang tahunnya. Ia juga ingat bagaimana ia selalu meminta kedua orangtuanya menemaninya mengambil rapot saat sekolah dasar dan alhasil Zee harus mengambil rapot dengan di temani pelayan.
__ADS_1
Masih banyak lagi hal-hal buruk yang pernah ia buat dan kemarin di saat ia melanggar janji nya untuk tidak menemui Zee. Gadis itu malah datang mencarinya dan memaafkan mereka dengan lapang dada. Zee adalah manusia berhati malaikat yang pernah ia dan ibunya sakiti.
♡♡♡
Tak terasa sudah hampir satu jam berkendara, kini Sassya sudah sampai di depan rumahnya. Saat ia sampai,hujan masih sama derasnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam dan suasana di sekitar rumahnya sudah sangat gelap.
Di dalam rumah juga tak tampak cahaya sedikitpun membuat Sassya heran sendiri. Biasanya walaupun ia pulang malam,mamanya sudah lebih dulu menyalakan lampu petromaks yang di kaitkan di dekat pintu sebagai penerangan.
Tapi keadaan di luar rumah dan di dalam rumah benar-benar gelap,jendela depan di buka namun tidak ada tanda-tanda orang di dalam.
"Apa mama pergi ya??" Gumam Sassya sambil melangkah masuk ke dalam rumah dengan bantuan senter handphone sebagai penerangan.
Kakinya terus melangkah hingga kini ia sudah berada dj ruang dapur. Mata Sassya membulat kaget dengan sekujur badan gemetar,ponsel di genggamannya seketika jatuh.
"Mama!!" Pekiknya Saat melihat tubub renta mamanya tengah terbaring lemah di depan pintu dapur di sekitar mamanya ada pecahan piring yang berserakan. Sepertinya tadi mamanya sudah mencuci piring di kali yang ada belakang rumah mereka.
Namun saat pulang mamanya malah jatuh pingsan. Setidaknya ituah yang bisa di simpulkan oleh Sassya saat melihat keadaan Melissa.
"Mah!!" Sassya mengangkat kepala sang mama sembari menepuk-nepuk pipinya dengan pelan. Ia sudah berusaha untuk tidak panik,namun saat merasakan suhu tubuh mamanya sangat dingin Sassya langsung histeris.
♡♡♡
Readers : Emang emaknya Sassya ninggoy kah thor??
Otor : Entah,padahal gue belum puas bikin mereka susah. Napa si ntan Lisa malah terbujur kaku duluan ya?
Readers : Gimana sih thor,kan lu yg buat cerita. Masa elu nanya kita,kasih spoiler dikit lah thor.
__ADS_1
Otor : Bayar dulu pake like,vote komen. Kalau kenceng baru otor bagi tau😂😂