Tautan Takdir

Tautan Takdir
Baby Coming Soon


__ADS_3

Guys mau bilang


Bab 114 gak lulus2 reviewnya😫😫😫


Padahal aku udah revisi....


Gimana woi???


♡♡♡


Teriakan menggema dari dalam kamar sepasang suami istri itu membuat ketiga orangtua yang berada di ruang tamu tampak kaget.


Ketiga orang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka untuk persiapan kelahiran cucu mereka itu tampak saling pandang dengan ekspresi bingung.


"Sassya sama Aska,di dalam sana kenapa ya?" Tanya nyonya Ghatama membuka suara.


Melissa menggeleg tak mengerti juga.


"Ayo kita lihat,jangan-jangan terjadi sesuatu lagi." Ujar Melissa dengan ekspresi panik.


Nyonya Ghatama dan tuan Ghatama mengangguk setuju dan dengan sedikit berlari mereka menuju ke kamar Aska dan Sassya.


Beruntung pintu kamar tidak di kunci,jadi dengan sekali putar. Handle pintu kamar langsung terbuka.


"Astaga!! Aska,Sassya!!" Nyonya Ghatama berteriak panik saat melihat kedua putra-putrinya itu sama-sama duduk bersimpuh di lantai dengan posisi mengenaskan.


Wajah Aska tampak memerah karena pergelengannya dan bahunya di cengkeram erat oleh kuku-kuku Sassya. Sedangkan Sassya duduk di hadapan Aska dengan keadaan yang juga berantakan sambil terlihat meringis beberapa kali.


"As,ayo bangun. Gendong istri kamu ke luar,mobilnya sudah kami siapkan."


Nyonya Ghatam berusaha membatu Sassya berdiri sambil melepaskan cengkeraman tangan Sassya dari pundak dan pergelangan Aska.


Wajah Sassya memerah dengan derai air mata memenuhi wajahnya.


Ia menggenggam tangan mertuanya itu dengan cukup kuat membuat wajah nyonya Ghatama ikut memerah.


Aska yang sudah berdiri,kini beralih bersiap menggendong sang istri dan dengan cepat kelima orang itu akhirnya keluar kamar dan langsung meluncur ke rumah sakit dengan posisi tuan Ghatama menyetir mobil.


Sedangkan di kursi paling belakang,ada Aska,Melissa dan Sassya yang saat ini kembali mencengkram erat lengan Aska.


"Shhh.."


Aska kembali meringis menahan sakit saat kuku-kuku Sassya menusuk kulit lengannya.

__ADS_1


"Sayang,ss..sakit." Lirih Sassya terbata-bata.


Aska mengangguk sambil berusaha menahan rasa sakit di lengannya. Satu tangannya ia gunakan untuk mengusap-usap perut Sassya dengan gerakan selembut mungkin.


"Tahan dulu ya,bentar lagi kita nyampe kok." Ujar Aska sambil sesekali meringis menahan tusukan kuku sang istri.


Melissa ikut mengusap-usap punggung sang putri dengan gerakan lembut.


"Tarik napas pelan-pelan sayang,buar ngurangin ketengangan di tubuh kamu." Ujar Melissa lembut.


Sassya mengikuti saran mamanya,namun rasa sakit yang di rasakannya tak kunjung ilang malah semakin bertambah dan intens.


"Sayang,sakit banget..." Sassya berteriak nyaring sambil memeluk dan menggigit bahu Aska membuat Aska ikut berteriak dengan suara lakiknya.


"Sayang!! Aku juga sakit." Teriak Aska kuat membuat mommynya yang berada di depan meradang dan memukul pelan kepala Aska.


"Kamu jangan ikut-ikutan teriak dong. Sakit nih kuping mama,tahan aja sakitnya. Jadi laki-laki kok lemah,giliran pas buat semangat banget,nemenin istri lahiran malah meleyot. Dasar!!" Ketus nyonya Ghatam sambil menoleh ke belakang dengan tatapan melotot.


"Tapi beneran sakit mom." Ujar Aska memelas,sambil berusaha menjauhkan kepala Sassya dari bahunya.


"Astaga!!" Aska kembali berteriak saat sebuah gigitan terasa menyengat lengannya.


Kini Sassya sudah meringkuk dengan posisi kepala menempel di lengan Aska. Tangan-tangannya mencengkram erat kedua rusuk Aska membuat Aska geli sekaligus sakit.


"Mama sakit!!" Teriak keduanya kompak bersamaan  dengan masuknya mobil ke pelataran rumah sakit.


Namun penderitaan Aska belum selesai karena ia masih harus menggendong Sassya masuk ke dalam.


Beruntung di lobi rumah sakit,para perawat dan brankar sudah di siapkan. Sassya langsung di baringkan di brankar dan di bawa ke ruangan yang sudah di siapkan oleh dokter Zara.


"Sakit banget dok.."


Sassya yang saat ini sudah berada di ruangan dokter Zara tampak merengek dengan air mata bercucuran.


Satu tangannya ia sempatkan untuk meraih tangan sang suami yang posisinya berada di tepi ranjangnya. Aska kembali meringis saat merasakan betapa kuatnya tancapan kuku sang istri di tangannya.


Dokter Zara tersenyum lembut sambil mengusap-usap perut Sassya mencoba menenangkan calon ibu itu.


"Sabar ya bu..,sakit sebentar aja. Nanti sakitnya ilang kalau udah wajah si ganteng. Tahan ya bu." Ujar dokter Zara dengan suara lembutnya.


Anak Aska dan Sassya memang sudah di ketahui jenis kelaminnnya adalah laki-laki. Calon penerus kerajaan bisnis Ghatama itu sedang dalam perjuangan keluar dari perut sang mommy.


Sekali lagi dokter Zara mengusap perut buncit Sassya membuat Sassya sedikit tenang. Apalagi beberapa ucapan dokter Zara mampu membuatnya merasa jika ia wanita kuat yang akan melahirkan bayinya dengan sehat dan selamat.

__ADS_1


"Kita periksa dulu ya bu,buat liat udah pembukaan berapa sekarang." Ujar dokter tersebut sambil menggerakkan tangannya hendak melebarkan paha Sassya.


Namun Sassya mengunci kakinya membuat dokter Zara menatapnya bingung.


"Bu,biar saya periksa dulu." Ujar dokter Zara yang di sambut gelengan kepala dari Sassya.


"Malu dok." Rengeknya sambil menatap sang suami dan dokter dengan tatapan memelas.


"Loh kok? Tapi saya harus periksa jalan lahirnya dulu,biar tau proses pembukaannya sudah sampai berapa."


Ujar sang dokter mencoba memberi pengertian.


"Tapi saya malu dok."


"Sayang..,aku gak mau di liatin sama dokternya. Kamu aja yang periksa." Ujar Sassya konyol membuat Aska dan dokter Zara saling tatap. Begitupun dua orang perawat yang ada di sana,kedua perawat muda itu tampak menahan senyum mereka.


Aska ikut mencoba menenangkan sang istri.


"Sayang,aku mana ngerti yang begituan. Itu kan tugas dokternya,gak papa ya. Kan cuma ada kita di sini,gak ada yang lain juga. Sama dokter Zara gak perlu malu,kalian kan sama-sama perempuan." Ujar sang suami berusaha dalam mode bijaknya.


"Tapi.."


Sassya hendak protes namun tertahan saat merasaka mulas kembali mendera perutnya. Aska ikut memejamkam mata karena kuku-kuku sang istri kembali menancap di pergelangannya.


"Mama!!"


Sassya berteriak nyaring sambil membuka kedua kakinya,kesempatan itu di gunakan oleh dokter Zara untuk memeriksa jalan lahir bayi Sassya.


"Tarik napasnya bu." Perawat yang berada di sebelah Sassya ikut memberi instruksi.


Sassya mengikutinya dengan susah payah.


Dokter Zara mulai memeriksa jalan lahir Sassya dengan memasukkan jarinya yang sudah di pasang sarung tangan ke dalam organ intim Sassya.


Sassya sedikit meringis ngilu.


Dokter Zara mengeluarkan tangannya dari bawah sana kemudian menatap Sassya dengan senyuman lembutnya.


"Sudah pembukaan lima ya. Cepet juga pembukaannya,mungkin bayinya udah gak sabar buat ketemu mommy sama daddynya.


Sambil menunggu pembukaan sepuluh,dokter Zara menyarankan agar Sassya di bawa jalan-jalan di sekitar ruangan dulu untuk mempermudah proses melahirkan nanti.


Sassya pun mengikuti saran dokter Zara dengan bantuan Aska mereka berdua berjalan pelan berkeliling kamar

__ADS_1


♡♡♡


Like vote komen...


__ADS_2