Tautan Takdir

Tautan Takdir
Ulah Chintiya


__ADS_3

Sekitar jam tiga sore,Alex kembali lagi ke ruang kerja miliknya. Ia sempat tertegun sebentar di depan pintu,netranya menangkap keberadaan Sassya yang tengah tertidur dengan posisi meringkuk di atas sofa,entah apa saja yang di lakukan gadis itu semalam hingga ia kini nampak begitu mengantuk dan kelelahan.


Alex berjalan mendekati Sassya dan mencoba membangunkan gadis itu."Nona."Panggilnya pelan,"nona ayo bangun. Badan anda bisa sakit jika tidur di sofa." Panggil Alex sambil menepuk-nepuk lengan Sassya.


Namun bukannya bangun,Sassya malah menarik tangan Alex dan memeluknya erat.


Alex hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat saat merasa tangannya menempel di gundukan milik Sassya.


"Cobaa apalagi ini,Tuhan." Batin Alex resah.


Pria itu sampai tidak berani menatap wajah Sassya lebih dari lima detik."Kuatkan aku,jangan sampai aku menjadi pebinor dengan merebut istri bos ku sendiri." Alex lagi-lagi membatin.


Dengan sabar Alex menarik tangannya dari genggaman Sassya,ia membuka jasnya dan menutupi tubuh Sassya bagian atas kemudian menggendong gadis menuju ruang di belakang meja kerjanya,di situ ada ruangan tempatnya biasa beristirahat. Sama seperti milik Aska.


"Nah,tidurlah dengan nyenyak di sini nona. Jangan coba-coba menggodaku lagi. Aku ini pria normal,tidak lucu jika aku sampai 'memakan' istri bos ku sendiri." Omel Alex pada Sassya yang tampak tak terganggu sedikitpun saat ia pindahkan.


Setelah selesai menyelimuti Sassya,Alex langsung buru-buru keluar dari ruangan tersebut. Berada terlalu dekat dengan Sassya membuatnya panas dingin. Tak di pungkiri,ia cukup tertarik dengan gadis itu sejak awal mereka bertemu. Tapi ia cukup sadar di mana posisinya,apalagi wanita itu sudah menjadi istri dari tuannya.


Waktu terus berlalu hingga jam pulang kerja pun tiba. Sesaat setelah Alex membereskan meja kerjanya,Sassya tampak keluar dari ruang peristirahatan sambil menguap.


"Hoaammm. Kak Alex,siapa yang memindahkan aku ke kamar?" Tanya Sassya dengan suara sedikit serak.


Alex menoleh malas."Tentu saja saya,memang nona melihat ada orang lain di sini? Selain saya?"


"Emm,tidak ada. Tapi kenapa kau tidak bangunkan aku? Aku kan bisa pindah sendiri."


"Bagaimana bisa saya membangunkan nona,kalau nona saja tidur seperti mayat."


Mata Sassya sontak melotot tak terima."Cih,kau pikir ada mayat secantik aku?"


Alex mengendikkan bahunya acuh."Daripada nona terus mengoceh tidak jelas,lebih baik sekarang nona bersiap-siap. Saya akan mengantarkan nona pulang setelah ini."


"Tidak mau!!" Jawab Sassya cepat."Aku tidak mau pulang,untuk apa aku pulang ke rumah sedangkan suami saja masih asyik dengan kekasihnya. Aku tidak mau terlihat menyedihkan."


"Tetap saja nona,anda harus pulang. Nona sudah membuat keputusan untuk setuju menikah dengan tuan Aska,berati nona juga sudah siap akan konsekuensinya."


"Tapi!!"


"Nona mau pulang di antar saya,atau pulang jalan kaki?"


"Ih!! Kau sama saja dengan tuan mu itu. Sama-sama menyebalkan!!"


Sassya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai persis seperti anak kecil.


"Tolong jaga sikap anda nona,jangan bersikap menggemaskan. Aku takut tidak bisa menahan diri."Batin Alex putus asa.


Ia memilih melangkahkan kakinya meninggalkan Sassya yang masih merajuk. Karena tak punya pilihan lain,mau tak mau Sassya akhirnya menyusul langkah Alex dan langsung bergelayut manja di lengan Alex yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


♡♡♡

__ADS_1


Hampir jam setengah delapan malam Alex mengantarlkan Sassya kemnali ke kediaman Aska. Gadis itu sebenarnya merengek tak mau  pulang,namun Alex juga tak mungkin membawanya ke apartemen milik Alex. Bisa di gorok Aska nantinya.


"Selamat malam nona muda,selamat beristirahat." Pamit Alex sambil menundukkan kepalanya,sebelum akhirnya membiarkan istri majikannya itu masuk ke dalam paviliun.


Sassya juga begitu,ia menunggu sampai mobil milik Alex hilang dari pandangannya. Setelah memastikan Alex benar-benar pergi barulah Sassya membalikkan badannya.


"Anak anjing!!" Umpat Sassya kaget.


Matanya membola sempurna saat mendapati Chintiya ada di belakangnya.


"Ngapain di sini?" Tanya Sassya dengan nada sinis. Demi resep craby petty nya tuan Crab. Sassya tidak takut pada makhluk bernama Chintiya ini."


"Berani sekali kamu berbicara setidak sopan itu padaku? Sudah merasa hebat karena bisa menjadi istri Aska?"


"Hebat darimananya? Dengar ya cewek udik. Gue juga kalau gak terpaksa,gak sudi nikah sama pacar lo itu. Cuma orang gak waras yang suka sama cowok aneh kayak dia."


"Kamu!!"


"Apa?!!"


"Plak!!" Satu tamparan mendarat di pipi Sassya.


Merasa tak terima,Sassya balas menjambak rambut Chintiya dengan kuat hingga wanita itu menjerit sakit.


"****** murahan. Lepaskan tangan kotormu itu dari rambutku!!"


"Lo yang ******!! Udah matre,gak punya malu lagi." Balas Sassya tanpa melepaskan jambakannya.


"Cewek tua keriput!! Sakit pipi gue!!"


Sassya berteriak sakit saat pipinya di cakar oleh kuku-kuku panjang milik Chintiya.


"Kamu bocah ingusan!! Berani-beraninya mengacau hubungan aku dan Aska."


"nenek sihir."


"Bocah sialan."


"Turunan mak lampir.


"Gadis cabe!!"


"Ibu piranha!!"


Kedua wanita itu terus bergelut hingga terguling di atas rumput halaman. Suara gaduh keduanya berhasil membuat para pelayan keluar dari paviliun dan para penjaga di pos penjaga juga berusaha melerai.


"Pukk!!" Sassya melepaskan sendalnya dan memukulnya denhan kuat ke kepala Chintiya.


"Krakkk." Tak mau kalah,Chintiya merobek lengan baju Sassya hingga bahu mulusnya terkena cakaran kuki Chintiya.

__ADS_1


"Nona muda,Nona Chintiya. Tolong hentikan ini!!" Teriak salah seorang penjaga. Mereka mau menangkap salah satu dari dua gadis itu. Tapi mereka juga tidak berani.


"Nona!! Tolong hentikan!!" Salah stau pelayan perempuan mencoba meraik Sassya agar menjauhi Chintiya.


Namun bukannya berhasil,ia malah mendapat tendangan maut dari Sassya dan berakhir terlentang di atas rumput.


"BODOH!! Apa yang kau lakukan!!"


Aska tiba-tiba keluar dari dalam rumah dengan tampang nyalang membuat semua yang berada di situ gemetaran.


Sassya dan Chintiya bahkan langsung berdiri dari posisinya.


"Sayang!! Huaaa!!" Chintiya tiba-tiba menangis keras membuat Sassya spontan menjauh.


"Eh nenek sihir!! Ngapain lo nagis dibdekat kuping gue!! Lo pikir suara lo merdu apa? Kagak!! Suara lo jelek banget,tau gak!!" Umpat Sassya kejam.


"Bodoh!! Berani-beraninya kau mengatai kekasihku seperti itu." Aska tau-tau tiba di hadapan Sassya dan langsung menghadiahi istri kecilnya itu dengan tatapan tajam.


Melihat kemarahan Aska,Sassya sontak berlutut takut."Ampun tuan. Jangan marah. Saya hanya,...saya..anu...saya..."


"Bersihkan gudang belakang sekarang dan jangan berani keluar sebelu aku menberi izin!!" Suruh Aska tegas.


"Bima,Adi!! Seret gadis bodoh ini ke gudang. Kunci pintunya dan jangan biarkan dia keluar sampai besok pagi."


Seluruh lutut Sassya sontak melemas mendengar ucapan Aska. Pria itu tak mendengar ataupun memberinya toleransi sedikit pun.


Kedua orang yang tadi Aska perintahkan tampak mendekati Sassya. Saat keduanya bermaksud membawa Sassya,Sassya langsung menepis tangan mereka.


"Tidak perlu!! Aku bisa berjalan sendiri." Tolak Sassya tegas. Hatinya sangat sakit saat ini. Sungguh suami kejam,yang tega menyuruh istrinya membersihkan gudang di tengah malam buta begini.


♡♡♡


Otor : Apa kabar kalian?? Baik gak? Semoga baik ya.


Readers : Tumben thor?


Otor : Apanya?


Readers : Sapaannya waras. Kagak curhat.


Otor : Aku lagi sakit. Jadi harus bae-bae,biar sakitnya gak tambah parah.


Readers : Oh lagi sakit. GWS thor?


Otor : Kurang asem!! Doain yang bener!!


Readers : Bodo amat. Kalau pemakanan,jangan lupa makan-makan ya thor.


Otor : Karep mu!!

__ADS_1


Readers : Jangan ngambek thor. Nanti kita kirim like,vote,komen. Okay?


Otor : Hm


__ADS_2