
Perusahaan Ghatama Group.
Satu bulan berlalu,setelah kepergian Sassya.
Aska tampak sedang duduk di ruang kerjanya. Matanya menatap kosong pada laptop yang ada di depannya,raga dan tubuhnya memang berangkat bekerja tapi tidak dengan pikirannya.
Semenjak kepergian sang istri,sikap Aska berubah drastis. Kinerja kerjanya menurun drastis begitu pula dengan kesehatannya.
Seringkali Aska jatuh sakit,bahkan dalam satu bulan ini. Terhitung,sudah 5 kali Aska di rawat di rumah sakit karena asam lambungnya naik. Pola makan Aska sungguh tidak teratur bahkan kadang tidak makan sama sekali,yang pria itu lakukan hanyalah bekerja,bekerja dan sisa waktunya ia gunakan untuk mencari keberadaan Sassya yang entah kemana rimbanya.
Sementara hubungannya dan Chintiya? Tidak perlu di pertanyakan lagi. Semenjak persetereuan antara Aska,Chintiya dan Rama malam itu. Hubungan mereka resmi berakhir,bahkan kabar terakhir yang Aska dengar adalah Chintiya di boyong ke Surabaya oleh Rama dan keluarganya.
Rama tidak main-main soal tanggung jawab,pria itu menepati janjinya untuk bertanggung jawab pada Sassya sekaligus memberikan jaminan pada Aska bahwa Chintiya 100% tidak akan pernah kembali apalagi untuk menjadi orang ketiga di antara Aska dan Sassya.
Harusnya berita itu jadi berita menggembirakan jika saja hubungan Aska dan Sassya baik sejak awal. Namun sayang seribu sayang. Semuanya tinggal angan.
Di saat Chintiya sudah membuka lembaran barunya. Aska malah kini terjebak dalam kubangan masalah yang ia buat atas keegoisannya sendiri.
Sebulan sudah berlalu,pencarian tentang keberadaan Sassya tidak membuahkan hasil apapun. Tidak ada jejak,tidak ada tanda bahkan petunjuk apapun.
Baik Aska,ataupun Zee dan anggota Dark Night tidak berhasil menemukan Aska. Entah siapa dalang di balik itu semua,tidak ada yang tahu.
Satu hal yang pasti,hingga kini Aska adalah satu-satunya orang yang belum mau menyerah dan sangat yakin jika ia dan Aska pasti bisa bertemu.
"Ceklek."
Pintu terdengar di buka,bersamaan dengan itu tampak Alex berjalan masuk ke dalam ruangan sang presdir.
Tak ada respon atau pergerakan apapun dari sosok Aska. Laki-laki itu masih setia melamun dengan tatapan kosongnya. Beberapa kali Alex menyarankan tuannya agar ke psikiater,ia khawatir jika mental Aska terganggu. Namun semua niat baik Alex di tolak mentah-mentah bahkan tak jarang berakhir jadi amukan menggila dari Aska.
"Fyuhh.." Alex menghela napas berat.
Satu tangannya terulur menyodorkan beberapa buah berkas ke atas meja kerja Aska.
"Tuan,ada beberapa berkas yang harus tuan periksa dan di tanda tangani."
Hening....
Aska masih melamun tanpa menyadari keberadaan Alex.
Sekali lagi Alex menghela napas dan dengan sedikit lancang,ia memberanikan diri untuk mengguncang bahu Aska.
__ADS_1
"Tuan.."
"Hah..." Aska tersadar dari lamunannya dengan ekspresi cukup kaget.
"Alex? Kapan kau masuk ke sini?" Tanya Aska dengan raut bingung.
Tangan Alex refleks memijit pangkal hidungnya yang mendadak terasa berdenyut. Tingkah Aska berhasil membuatnya harus menghela napas berat,lagi dan lagi.
"Tuan Aska,sepertinta tuan perlu ke psikiater secepatnya. Semakin hari saya semakin melihat jika kondisi mental tuan terganggu,saya takut jika berita ini sampai ke telinga tuan besar. Jika itu sampai terjadi maka..."
"Alex cukup!! Sekarang berikan berkas yang harus aku periksa lalu keluarlah dari ruanganku! Aku tidak butuh nasihat mu!" Sentak Aska kasar.
"Mana berkasnya?" Tanya Aska sekali lagi,dengan nada membentak.
Alex lagi-lagi harus extra sadar dalam menghadapi kelakuan Aska. Dengan lembut ia pun kembali berkata.
"Tuan,maaf. Berkasnya sudah saya letakkan di meja anda." Ujar Alex sambil menunjukkan tiga buah map yang sudah terletak di atas meja kerja Aska.
"Kapan kau meletekkannya di situ?" Tanya Aska bingung. Seingatnya Alex belum mengatakan apapun sejak tadi.
"Tuan sudahlah. Saya sedang malas berdebat dengan anda,jadi segera periksa dan tanda tangani berkasnya kemudian bersiaplah. Setengah jam lagi anda ada meeting dengan pimpinan Aston Company." Ujar Alex mengingatkan jadwal tuannya.
"Hm.." Aska menanggapi segala ocehan Alex hanya dengan deheman.
Alex menuruti dengan senang hati. Bagi Alex sekarang,berada di satu ruangan dengan Aska dalam waktu yang lama adalah bencana. Otak Aska sudah konslet.
"Drttrrt." Telepon yang ada di meja kerja Aska terdengar berdering.
Dengan malas Aska pun mengangkatnya.
"Halo.."
"Halo tuan.." Terdengar suara Alex dari seberang telepon membuat Aska mengernyit.
"Ada apa lagi Alex? Kau sudah gila ya?" Tanya Aska berang karena merasa di permainkan.
"Tuan,saya hanya ingin mengingatkan jika besok pagi kita akan terbang ke Bali untuk menghadari acara pernikahan tuan Zergan Ivander."
Hening...,telepon di tutup sepihak oleh Aska. Mendengar kata 'pernikahan' otaknnya langsung di penuhi oleh nama Sassya.
Tanpa sadar Aska mengusap foto pernikahan yang ada meja kerjanya. Fotonya dan Sassya. Sudut mata Aska kembali berair.
__ADS_1
"Sasa,aku merindukanmu."
Guman Aska sambil terus mengusap foto pernikahannya dan Sassya.
"Kau di mana? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan anak kita?"
♡♡♡
Sementara itu,di tempat lain tepatnya di sebuah Villa yang jauh dari pemukiman warga. Seorang perempuan cantik dengan dress hamil tampak tengah mengusap-usap perutnya yang sudah mulai buncit.
Senyuman terbit di wajahnya saat melihat sekumpulan burung merpati memasuki halaman Villa. Langkah kakinya mendadak tergerak untuk mendekati salah satu unggas menggemaskan tersebut.
"Nona.."
Sebuah panggilan mengehentikan langkah wanita itu. Dengan malas ia menoleh ke belakang.
Tampak ada dua pelayan yang saat ini sedang berjalan ke arahnya sambil membawa dua buah baki.
"Waktunya makan siang nona. Sebaiknya anda kembali ke dalam Villa! Kami takut nona kecil akan kembali marah jika tahu nona belum makan sedari pagi." Ujar salah satu pelayan dengan raut memelas.
"Aku bosan berada di dalam Villa tanpa melakukan apapun. Aku ingin jalan-jalan,tidak bisakah kalian memberitahu nona kecil kalian untuk mengizinkan ku jalan-jalan?"
"Gak bisa!!"
Bukan pelayan yang menjawab,melainkan seorang gadis cantik seusia Sassya yang kini tampak sedang berjalan ke arah Sassya dengan gaya angkuhnya.
"Lo sendiri yang minta ikut sama gue,terima konsekuensinya lah. Lagian ya Sya,lo udah aman di sini. Jangankan suami lo yang bego itu,Zee yang pinter aja gak bakalan nemuin lo di sini. Kurang bersyukur apalagi coba? Lo masih mau mikirin rencana jalan-jalan lo itu? Emangnya udah siap ketemu sama tuan Aska lagi?"
Saasya menggeleng cepat.
"Gue gak mau ketemu dia lagi."
"Good. Makanya nurut sama gue,paham kan lo?"
Sassya hanya bisa mengangguk pasrah. Jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa menyesal sudah pergi sejauh ini,ada secercah rindu yang membuatnya ingin kembali namun sayangnya ia terperangkap dan ia tidak tahu sampai kapan.
Melihat raut wajah Sassya yang tampak sedih,gadis tadi tersenyum.
"Sedikit lagi Sya,sejujurnya gue juga gak tega liat lo kayak gini." Batinnya sambil menyunggingkan setitik senyum misterius yang hanya di sadari oleh dirinya sendiri.
♡♡♡
__ADS_1
Like vote Komen