
Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi,namun Sassya sudah lebih dulu terbangun. Setelah melepaskan tangan Aska dari pinggangnya,perempuan muda itu pun akhirnya turun dari kasur.
Seperti biasanya,ia langsung beranjak ke dapur. Membuat sarapan tanpa menunggu pelayan lain datang. Tekadnya sudah bulat. Pagi nanti,setelah Aska berangkat ke kantor. Ia juga akan pergi dari rumah ini.
Hampir jam lima pagi,Sassya selesai membuat sarapan untuk sang suami. Saat akan masuk kembali ke kamar,telinga Sassya tak sengaja menangkap pembicaraan antara Aska dengan seseorang yang ia duga adalah Chintiya.
"Kembalilah ke sini aku menunggumu."
"...."
"Sesuai kemauanmu sayang,aku hanya memanfaatkannya sebagai penghangat ranjang."
"...."
"Lagi pula ada untungnya juga,aku menidurinya malam itu. Kalau tidak begitu,mungkin sampai sekarang fasilitas ku belum kembali."
"...."
"Kau benar sayang...dia memang wanita paling bodoh yang pernah aku kenal.
"...."
"Tidak mungkin. Aku memperlakukannya begitu,hanya untuk pencintraan. Wanita bodoh itu mana sadar kalau aku memanfaatkannya."
"...."
"Sekali bodoh,tetaplah bodoh."
"...."
"Tenanglah dia tidak akan hamil,karena aku sudah mewanti-wanti wanita itu agar jangan lupa meminum obatnya."
"...."
"Setelah aku mendapatkan perusahaan papa,aku akan menceraikannya. Membuangnya dan membawa kamu ke sini. Memang siapa yang butuh wanita bodoh seperti dia? Pantas saja keluarga William membuangnya dan ibunya. Mereka memang parasit yang merugikan."
"...."
"Baiklah-baiklah. Aku akan menjemputmu nanti. Kita bisa menginap di hotel biasa,tempat kau biasa menginap. Aku akan menyuruh Alex untuk mengurus semuanya."
"..."
"Aku juga mencintaimu. Chintiya Gabriella Ghatama."
♡♡♡
Sassya mencengkram erat-erat handle pintu di depannya. Tidak,ia sama sekali tidak menangis. Ucapan Aska tadi,tidak lebih menyakitkan dari kejadian dua tahun lalu.
__ADS_1
Malah ia sangat bersyukur,bersyukur karena ia dapat mengetahui kebusukan Aska saat ia hendak melarikan diri. Dengan ini,ia sudah memantapkan hatinya. Seratus persen,keputusannya untuk pergi tidaklah salah. Aska tidak akan pernah menganggap keberadaannya. Sampai kapanpun.
"Lo emang butuh di kasihani Sya." Batin wanita itu mencoba menghibur dirinya.
Daripada masuk ke dalam dan melihat muka Aska. Sassya memilih berbalik lagi ke dapur,lebih baik ia menunggu bi Sumi dan pelayan lain datang. Setidaknya berbicara dengan mereka jauh lebih baik daripada melihat wajah Aska. Menjijikan.
Sassya sampai berlari ke dapur saking mualnya setelah membayangkan wajah Aska.
"Huek.." Gadis itu memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Non." Bi Sumi yang baru datang langsung memijat tengkuk Sassya. Membantu gadis itu mengeluarkan isi perutnya.
"Sudah baikkan?" Tanya bi Sumi ketika melihat Sassya sudah membasuh wajahnya.
Sassya mengangguk."Mendingan bi."
"Bibi buatin teh anget mau?"
"Boleh deh bi,tapi gulanya dikit aja ya. Sassya lagi gak pengen minum yang manis-manis." Ujar Sassya sedikit lemas.
"Siap non." Jawab bi Sumi dengan senyum cerahnya.
Sassya berjalan ke luar dari ruang dapur menuju ruang makan.
Sementara wanita paruh baya itu langsung menuju pantry untuk membuatkan teh hangat.
Saat bi Sumi tengah membuatkan teh hangat untuk Sassya. Aska tampak keluar dari kamar,namun tak seperti biasanya. Pria itu tampak begitu buru-buru keluar rumah,ia bahkah tak melirik Sassya yang saat yang saat itu berada di ruang makan.
"Sepertinya ulat bulu itu datang pagi ini. Jika tidak,tidak mungkin suami laknat itu berangkat terburu-buru. Jahat gak sih kalau gue doain lo berdua kecelakaan di jalanan. Biar mati sekalian,eh tapi jangan deh. Kasian dong anak gue nanti,masa jadi yatim sebelum lahir. Amit-amit jabang bayi dek ya."
Sassya membatin sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata. Ia sedikit merutuki mulutnya yang suka sembarangan dalam berbicara.
"Non Sassya kenapa? Sakit perut?" Bi Sri yang sepertinya baru datang dari luar sambil membawa bahan masakan tampak menatap Sassya khawatir.
Begitupun dengan bi Sumi yang baru selesai membuat teh. Wanita itu buru-buru menghampiri Sassya dengan raut khawatir.
"Non sakit perut?" Tanya bi Sumi.
"Eh? En..enggak kok bi. Sassya cuma laper,iya laper." Ujar Sassya sedikit salah tingkah sambil terus-menerus mengusap perutnya yang masih rata namun terasa kencang.
"Oh laper..." Ujar bi Sri sambil mengangguk-angguk paham. "Ya udah kalau gitu non tunggu sebentar ya,bibi buatin sarapan dulu ke dapur."
"Eh..bibi gak perlu buatin sarapan lagi. Tadi sebenarnya Sassya udah buat sarapan bi,ada di meja saji dapur. Tinggal di bawa ke ruang makan aja."
"Oh,iyakah non? Non emang bangun jam berapa? Kenapa gak bangunin bi Sri dulu,duh. Bi Sri jadi gak enak ini,soalnya di rumah ini yang tugasnya masak-masak kan bibi sama Sumi. Apa bibi hari ini ganti shif bersih-bersih aja ya?" Tanya bi Sri karena merasa tak enak.
"Iya non,kok malah non yang masak sih. Kan bisa atuh,bangunin bi Sumi dulu kalau non laper. Non itu gak boleh kecapean,apalagi non kan lagi ham.."
__ADS_1
"Uhuk-uhuk.."
Sassya sengaja pura-pura tersedak teh yang baru saja ia minum membuat bi Sumi menghentikan ocehannya.
"Maaf non." Ucap bi Sumi tanpa suara setelah menyadari kesalahannya.
Sassya hanya memberi kode dengan mulut dan kepalanya.
"Jangan di ulangi!!" Begitulah maksud kode yang di berikan Sassya.
♡♡♡
Sekitar jam delapan pagi,Sassya sudah mulai berkemas di kamarnya. Dengan di bantu oleh bi Sumi. Sassya akhirnya selesai mengepaki beberapa lembar pakaian yang ia masukkan ke dalam tas berukuran sedang milik bi Sumi.
Bi Sumi kemudian menyerahkan sebuah papper bag berisi susu ibu hamil,handphone jadul dan juga uang untuk memenuhi kebutuhan Sassya setidaknya sampai ia berhasil datang ke kampung bi Sumi.
"Udah semua ya non?" Tanya bi Sumi begitu melihat Sassya sudah mengenakan jaket,lengkap dengan topi dan masker.
Sassya mengangguk."Udah bi. Yuk anterin Sassya ke halaman belakang,kunci gerbang belakang ada sama bibi kan?" Tanya Sassya memastikan.
Bi Sumi mengangguk."Aman non. Ayo,bibi bantu bawain tasnya non Sassya."
Tanpa di suruh,bi Sumi membawa tas milik Sassya dan mulai berjalan ke luar kamar.
Ia sedikit mengintip terlebih dahulu,sebelum benar-benar keluar. Takutnya ada pelayan yang atau penjaga yang berkeliling. Jadi harus waspada.
"Bi!" Sassya tiba-tiba menghentikan langkah bi Sumi yang hendak keluar.
"Emm. Sassya takutnya ada cctv tersembunyi deh bi,di luar ruangan ini. Gimana kalau kita buat alibi bi." Ujar Sassya memberi antisipasi.
"Alibi gimana non?"
"Bentar."
Sassya menarik bed cover dan juga selimut dari atas kasur dan memberikan selimut tersebut pada bi Sumi.
"Pake ini bi. Buat nutupin tas yang bibi bawa. Jadi mereka bakalan ngira kalau kita mau nyuci pakaian,nah nanti sampe halaman belakang. Baru deh Sassya kabur." Jelas gadis itu panjang lebar.
"Tapi bukannya tadi cctvnya udah kita matiin ya non?"
"Antisipasi bi. Udah deh. Pokoknya nurut aja,ayo keluar. Kalau terlalu lama di sini,bisa-bisa Sassya gak jadi kabur lagi."
Kedua wanita beda usia itu pun berlalu bak maling,keluar dari kamar Aska dan Sassya lalu berjalan menuju halaman belakang.
"Waktunya pergi. Selamat tinggal tuan suami."Batin Sassya.
♡♡♡
__ADS_1
Guys sebelum lanjut. Mampir ya ke novel temenku ini....