
Hawa dingin mulai meraba tengkuk Sassya begitu ia masuk ke dalam cafe tersebut. Aneh sekali,padahal di dalam pengunjung sangat ramai tapi Sassya malah merasa takut,seolah saat ini ia tengah berada di kuburan yang sepi tapi banyak hantunya. Cafe Santuy berubah jadi horor permisah.
Sassya meraba tengkukny yang terasa dingin,hingga tangannya menyentuh sebuah kalung. Lagi-lagi napasnya tercekat,tangannya turun untuk mengusap bandul kalung yang di rangkai dengan inisial namanya tersebut. Kalung itu adalag satu-satunya kenangan sekaligus harta paling berharga yang saat ini ia punya. Tak sadar tangan Sassya menggenggam erat bandul kalung tersebut.
"Mau duduk di mana??" Tanya Rama pada Sassya.
"Terserah." Jawab Sassya pendek.
Matanya liar mencari objek yang sedari tadi membuatnya takut sekaligus penasaran. Di sisi lain ia ingin bertemu,di sisi lain ia juga takut jika mereka sampe ketemu.
"Kita duduk di sini aja ya."
Rama tiba-tiba menarik Sassya untuk duduk di meja kosong yang tak jauh dari pintu masuk.
Sassya menurut saja,ia segerabmenaruk salah satu kursi untuk diduduki.
Sebenarnya selain takut Sassya juga agak risih juga saat ini. Pasalnya beberapa pengunjung cafe ada yang memperhatikannya dengan intens dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Mungkinkan mereka mengenal dirinya? Jika iya,biarkan saja. Mau bagaimana lagi,mungkin seantero kota pun tahu masalahnya dan ibunya dua tahun yang lalu,mau bersembunyi di lobang semut pun ia tak kan bisa mengembalikan image nya lagi. Semuanya sudah terlanjur buruk.
"Lo mau pesan apa??" Tanya Rama mengagetkan Sassya yang tengah menunduk.
Sassya mencoba untuk relax,ia mengambil alih buku menu di tangan Rama. Sejenak ia terdiam ketika melihar harga makanan dan minuman yang cukup mahal,ia jadi ingat masa lalu. Dulu harga makanan segitu bukanlah masalah,bahkan ia bisa dalam seminggu saja ia bisa mengganti mobil dua hingga tiga kali saking sultannya.
Lalu sekarang,melihar daftar harga makanan saja sudah membuatnya minder.
"Pesan oi,jangan ngelamun." Rama menarik sedikit buku menu yang menutupi wajah Sassya.
Sassya hanya bisa menyengir kuda. Setelah itu ia pun memilih menu makanan yang ingin di pesan. Sambil menunggu makanan keduanya sedikit mengobrol,namun saat Sassya menoleh ke samping. Ia tak sengaja melihat pemandangan yang membuat napasnya tercekat.
Di sana,di ujung ruangan dengan jarak dua meja ada beberapa gadis yang sangat ia kenal. Mereka di sana juga tampak tengah mengobrol,entah karena merasa di perhatikan atau bagaimana,salah satu dari mereka menoleh.
"Glegh" Sassya menelan ludahny dengan susah payah seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ram,gue ke toilet dulu ya. Kebelet,lo tunggu sini bentar."
Tanpa menunggu jawaban Rama,Sassya langsung saja berdiri dari mejanya dan pergi menuju toilet membuat Rama sedikit heran.
"Kayaknya dia udah hapal tempat ini." Batin Rama.
♡♡♡
Di dalam toilet,Zee yang sudah selesai mencuci muka tampak mengelap wajahnya
menggunakan tisue yang ia bawa di dalam tas kecilnya.
Setelah selesai barulah ia mengambil tasnya yang tadi ia tinggalkan di pinggir wastafel dan beranjak keluar.
__ADS_1
"Brukk....."
Betapa kagetnya Zee,ketika ia membuka pintu ada seseorang mau masuk dengan buru-buru.Malangnya yang jatuh malah orang itu,bukan Zee.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Zee dengan tangan terulur hendak membantu wanita itu bangun.
Namun anehnya,wanita itu malah bangkit dengan buru-buru dan lari meninggalkan Zee yang hanya bisa melongo karena bingung.
"Napa tu orang? Kayak maling aja pakai kabur segala." Guman Zee heran.
"Apa beneran maling ya??" Otak Zee mendadak overthingking.
Dengan masih diliputi tanda tanya,Zee melanjutkan langkahnya keluar dari toilet. Tapi netranya menangkap sebuah kalung yang terjatuh tak jauh dari tempat wanita itu tadi jatuh.
Zee langsung memungut kalung tersebut dan mengamatinya. Di kalung tersebut terdapat bandul bertulis "SyaBell" yang di rangkai menggunakan berlian kecil membuat Zee mengernyit. Ia yakin kalung ini pasti dibuat khusus karena kalung tersebut terbuat dari berlian mahal,yang Zee yakin tak sembarang orang mempunyainya.
"SyaBell? Kenapa familiar banget?"
Ingatan Zee seketika berputar pada suatu kejadian.......
"Liat,papa beliin aku kalung baru!! Kamu gak ada kan? Iyalah kamu kan bukan anak kesayangan papa. Kasian banget,kamu pasti pengen kan?"
"Mama kalung aku bagus kan,papa yang bikinin khusus buat aku."
"Ini hadiah ulang tahun dari papa,karena sekarang umur kamu sudah sepuluh tahun."
..........
"Sassya?" Gumam Zee lirih. Ia tercenung sejenak.
Beberapa detik setelasnya,otak Zee mendadak kembali ke fungsinya. Ia ingat sekarang!! Itu kalung mantan adik tirinya,berati ada kemungkinan yang menabraknya tadi adalah.....
Zee berlari sekencang mungkin, bahkan gadis itu melewati meja teman-temannya dan terus berlari hingga keluar cafe.
"Shitt!! Kemana dia." Guman Zee kesal sambil terus mondar-mandir di depan cafe. Matanya tak tinggal diam,menyorot ke segala arah berharap bisa menemukan gadis itu.
Dari arah belakang Zee,tampak kedua bodyguardnya ikut keluar. Begitupun dengan keempat temannya.
"Nona muda ada apa?"
"Kenapa Zee?"
"Kenapa sih ini?"
"Lo ngejar apaan?"
Zee tak menggubris pertanyaan bodyguard maupun teman-temannya. Ia masih sibuk celingak-celinguk menatap ke sana ke mari,tingkahnya membuat Agatha kesal. Hingga akhirnya calon mama muda itu menampol kepala Zee dengan cukup keras membuat Zee meringis.
__ADS_1
"Agatha diem!! Gue lagi nyari Sassya!!" Bentak Zee kesal.
"Sassya siapa? Si ulat keket itu??" Tanya Agatha tak yakin.
Zee mengangguk.
"Lah ngapain lo nyari Sassya?" Tanya Delice heran.
"G..gue ketemu orang yang mirip Sassya. Gue yakin banget itu dia. Ini kalung dia,gue nemu ini di lantai tempat dia jatuh tadi."
"Ya terus? Lo mau balikin kalung dia? Kenapa gak dibuang aja?" Delice berujar sinis.
Sedangkan Zee menggeleng pelan, kemudian menoleh pada Sandra.
"Lo,cari info apapun tentang Sassya. Selengkapnya dan secepatnya. Gua tunggu sampai besok!!" Perintah Zee pada Sandra,yang hanya dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.
"Lo mau kemana?" Tanya Delice,Agatha dan Clara berbarengan saat melihat Zee berjalan menuju mobilnya.
"Pulang,kalian lanjutin aja."
♡♡♡
Sementara itu di dalam sebuah mobil,Sassya tampak masih ngos-ngosan. Rama yang di sampingnya sampai bingung sendiri.
"Lo kenapa sih?? Abis ketemu setan??" Tanya Rama agak kesal. Bagiamana tidak kesal,mereka sudah memesan makanan dan minuman namun belum juga di cicipi Sassya sudah menariknya agar keluar cafe.
Sia-sia sudah uangnya,karena makanan tersebut sudah di bayar tapi belum di makan.
"Gue ketemu yang lebih seram dari setab." Jawab Sassya setelah berhasil mengatur napasnya.
Kedua alis Rama terangkat dengan raut wajah tak percaya."Serius Sya,kita udah pesan makanan loh,rugi kalau gak di makan."
"Elah,tinggalin ajalah. Mau mati ini gue." Sassya menepuk-nepuk dadanya dengan cukup keras.
Tak lama setelahnya gadis itu menangis. Membuat Rama tambah heran.
"Papa,Zee,bang Vian,Sassya kangen."
♡♡♡
Otor : Teruntuk kalian yang di SOA kemarin yang benci Sassya sekarang damai ya sama Sassya. Kasian anak orang satu itu,otor aja pengen meluk dia sampai gak bisa napas.
Reader : Gimana dah thor,katanya kasian. Malah di peluk sampai gak bisa napas.
Itu btw thor si Sassya nanti jodohnya sama sapa dah,bingung gue.
Otor : Kagak tau!!
__ADS_1