
Aska menggendong Chintiya kembali masuk ke dalam rumah. Kedua matanya masih berapi-api menahan emosi. Ia bingung dengan perasaannya sendiri,di satu sisi ia menyesal sudah memarahi Sassya secara sepihak.
Tapi di sisi lain Aska juga geram saat melihat wajah Chintiya yang tampak berantakan karena ulah istri bar-barnya itu.
"Arghhh!!" Aska tiba-tiba menggeram,membuat Chintiya yang berada di dalam gendongannya kaget.
"Sayang,kamu kenapa?" Tanya Chintiya heran.
Aska menggeleng."Aku kesal sekali melihat kelakuan wanita bodoh itu. Apa yang dia lakukan sampai wajahmu luka-luka begini?" Aska mengalihkan perasaan bersalahnya dengan cara menanyakan luka cakaran di wajah Chintiya.
Mendapat perhatian dari sang kekasih membuat Chintiya kembali berulah.
"K..kau tau sayang,ini sangat sakit. Padahal tadi aku bertanya baik-baik padanya. Aku tak sengaja melihatnya memeluk Alex saat Alex akan pulang. Aku hanya bertanya apa mereka punya hubungan khusus. Tau-tau dia marah dan menamparku. Hikss..hikss.." Tangis Chintiya dengan ekspresi semelas mungkin.
"Apa kau bilang?? Wanita bodoh itu memeluk Alex?" Tanya Aska dengan berteriak.
"Eh,i..iya. Memangnya kenapa? Kenapa kau terlihat marah?" Tanya Chintiya sedikit ketakutan melihat ekspresi Aska.
Aska menggeleng."Aku hanya kesal!!"
"Kesal kenapa? Jangan bilang kau cemburu."
"Eh? Apa katamu?" Aska meletakkan Chintiya dan menatapnya lekat."Mana mungkin aku cemburu. Aku hanya kesal karena wanita sialan itu berani menggoda asisten ku. Coba bayangkan bagaimana jika Alex tergoda oleh kelicikannya. Kasian Alex." Kilah Aska beralasan.
Chintiya manggut-manggut."Iya juga ya. Kau benar sayang,lihat bagaimana jahatnya wanita itu. Aku yakin ia pasti akan menjebak Alex agar membantunya keluar dari rumah ini,mungkin ia mengiming-imingi Alex dengan tubuhnya. Bisa saja kan?"
"Kau benar!! Sepertinya gadis bodoh itu harus di beri sedikit pelajaran agar ia sadar sedang berurusan dengan siapa!"
Chintiya tersenyum licik."Ini kesempatan ku untuk balas dendam."Batinnya.
"Sayang bagaimana kalau kau beri dia hukuman yang sedikit lebih berat dari membersihkan gudang. Mungkin tetap mengurungnya selama dua hari dan jangan beri dia makan sepanjang besok sore. Bagaimana?"
Aska tampak berpikir sejenak." Tapi sayang,apa itu tidak terlalu berisiko? Bagaimana jika dia mati di dalam sana?"
"Ya ampun sayang. Hanya dua hari,itu tidak akan membuatnya mati. Lagipula di gudang mu masih ada pentilasi bukan?"
__ADS_1
Aska menggeleng."Tidak ada,gudang di belakang rumah benar-benar tertutup. Aku tidak tega mengurungnya di sana sampai dua hari. Aku takut dia kenapa-napa."
Mata Chintiya memicing sinis mendengar jawaban Aska."Kau tidak tega? Aska apa kau sudah tidak waras? Kau lihat wajahku! Lihat keadaanku malam ini. Dia bahkan tega membuatku sekacau ini dan kau malah membelanya. Kau sudah tidak mencintaiku lagi? Begitu?"
"T..tidak sayang. Bukan begitu,aku mencintai mu. Sangat mencintaimu. Tapi dia juga manusia sayang,aku tidak mungkin membiarkannya mati mengenaskan di sana. Apalagi statusnya masih istriku."
"Hanya dua hari Aska. Itu tidak akan membunuhnya!! Percayalah padaku!! Kalau kau tidak bisa melakukannya untukku,aku akan pulang ke Paris malam ini juga. Dan jangan menyebutku kekasihku lagi. Kau mau??"
"Tidak. Tidak. Baiklah,aku akan mengurungnya di gudang sampai lusa. Tapi bisakah kita membiarkan pelayan memberinya makanan barang satu kali sehari? Aku takut dia mati kelaparan di sana."
"Baiklah. Aku setuju,pelayan boleh memberinya makan. Tapi besok sorenya,biarkan dia kelaparan sepanjang besok. Anggap itu hukuman untuk gadis lancang sepertinya."
"Iya,ku rasa itu yang terbaik. Aku akan memberi tahu pelayan nanti. Sekarang kita bersihkan luka di wajahmu dulu,rasanya pasti sakit kan?"
"iya." Jawab Chintiya senang.
"Aku bahkan berharap besok kau sudah mati gadis bodoh. Hidupnya hanya benalu di hubungan ku dan Aska. Aku bersumpah,aku membencimu." Batin Chintiya.
♡♡♡
Suara tangisan Sassya menggema di dalam ruangan gelap tempat di mana ia akan menghabiskan malam ini.
Sepanjang hidupnya,ini kedua kalinya ia tidur di tempat yang tidak semestinya. Pertama saat ia dan ibunya di usir dari mansion,kedua hari ini. Di rumah suaminya sendiri.
"Mamah,Sassya takut. Sassya kedinginan!" Lirih gadis itu pilu sambil berusaha menghangatkan badannya dengan cara memeluk erat kedua lututnya..
Selain gelap,ruangan ini juga penuh debu membuat Sassya sesak napas. Rasa-rasanya ia ingin mati saja. Kepalanya terasa pusing dan telinganya sudah berdengung sedari tadi.
"Non!!"
Mata Sassya yang tadi hampir terpejam kembali terbuka saat mendengar suara seseorang memanggilnya dari luar.
"Nona muda!! Apa anda masih di dalam?? Tolong jawab saya!!" Suara seorang pelayan terdengar khawatir dari luar pintu.
Sassya yang masih memiliki sisa tenaga memilih merangkak menuju arah suara dengan cara meraba-raba lantai memastikan tempatnya berpijak karena ruangan itu benar-benar gelap.
__ADS_1
"B..bibi..ini Sassya bi. Tolong bukain pintu,Sa..ssya gak bisa na..fas bi." Lirih Sassya tersendat-sendat.
Setelah berjuang dengan sekuat tenaga,Sassya akhirnya sampai juga di depan pintu. Sekuat tenaga ia menggedor-gedor pintu berharap seseorang di luar sana membantunya.
"Pintunya di kunci dari luar nona. Kuncinya ada pada tuan,saya tidak bisa membantu nona keluar. Tapi sebagai gantinya saya akan menemani nona di sini sampai besok pagi." Ujar pelayan itu dengan nada sangat bersalah.
Sassya kembali menangis tersedu-sedu. Ia tidak ingin terlihat lemah,tapi ia juga tidak cukup kuat untuk mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Bibi!! Sassya takut." Lirih Sassya.
Ia berusaha melebarkan matanya,mencari celah cahaya. Namun tidak ada satupun celah yang ia lihat.
Di saat seperti itu,ia jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu. Saat dirinya dan Zee berusia sepuluh tahun. Ibunya melakukan hal ini pada Zee,mengurung Zee di gudang semalam sampai Zee pingsan.
Saat itu Willian dan Davian sedang keluar negeri,Sassya tau jika ibunya mengurung Zee di gudang. Namun karena ibunya mengatakan itu hukuman untuk Zee,Sassya pun tidak membantu Zee hingga keesokan harinya Zee harus di larikan ke rumah sakit karena mengalami hipertemia.
Tangis Sassya semakin menjadi-jadi. Ia merasa seperti mendapat karma dari masa lalunya saat ini.
Apa ini hukuman?
Apa ini balasan atas kejahatannya dan ibunya dulu?
Lalu bagaimana dengan ibunya saat ini?
Apa dia juga merasakan hal yang sama dengan yang Sassya alami?
Kepala Sassya semakin pening ketika kilasan-kilasan terus berputar di otaknya. Dengan pasrah ia meringkuk di depan pintu dan memejamkan matanya. Berharap esok segera datang dan ia bisa cepat-cepat keluar dari tempat laknat ini.
♡♡♡
Kita sakitin dulu ya Sassya nya. Maaf kalau feelnya kurang dapet. Aku tuh sebenarnya kurang tega nyiksa karakter utamaku
Huaaa. Aku terlalu melow untuk jadi jahatt
Maafin dedek Azell ya😭😭😭😭
__ADS_1