Tautan Takdir

Tautan Takdir
Melebur


__ADS_3

♡♡♡


Sepasang insan yang kini tengah di mabuk asrama tampak saling menatap dengan tatapan penuh cinta saat keduanya sudah sampai di dalam kamar.


Aska menurunkan Sassya dari gendongannya dan meletakkan Sassya di tepi ranjang kemudian menatap Sassya dengan tatapan dalam. Setelah itu Aska kembali berdiri dan berjalan ke sudut kamar sembari melepas jas dan kemeja yang ia pakai membuat tubuh polos bagian atasnya terpampang nyata.


Sassya meneguk ludahnya dengan tercekat melihat pemandangan di depannya ini. Kedua pipinya memerah,apalagi saat Aska berjalan kembali ke arahnya. Ia jadi tambah gugup dengan jantung berdetak kencang.


"Aku mau mandi terlebih dahulu,mau ikut mandi bersama atau tidak?" Tanya Aska dengan santainya membuat mata Sassya melotot.


"Tidak tuan terimakasih. Aku mandi sendiri saja nanti." Ucap Sassya dengan gugup tanpa berani menatap mata Aska.


Aska terkekeh kecil melihat kelakuan istrinya yang tampak menggemaskan. Ide jahil muncul bagai lampu di otaknya,ia ingin sedikit menggoda Aska. Sepertinya akan seru melihat bagaimana sikap Sassya yang malu tapi menggemaskan.


Pelan-pelan Aska mendekat dan akhirnya duduk persis di sebelah Sassya membuat lengan Sassya bersentuhan dengan lengan berotot dan polos milik Aska.


Merasa malu,Sassya menggeser posisi duduknya sedikit menjauhi Aska. Aska masih belum puas menggoda Sassya,jadi ia kembali menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Sassya. Bahkan dengan santainya Aska menarik pinggang Sassya hingga tubuh Sassya menempel ke dada polos Aska.


"Ayolah sayang. Kita mandi bersama,aku janji hanya membantu menggosok punggungmu. Tidak akan melakukan yang lebih dari itu." Goda Aska dengan gencar membuat Sassya menahan napasnya.


Tangan jahil Aska kembali merayap,dan kini sudah berada di balik reseleting gaun yang di kenakan Sassya. Tanpa permisi,Aska menurunkan reseleting gaun Sassya dan meraba punggung polos Sassya dengan gerakan lembut membuat Sassya merinding disko.


Detik berikutnya,Aska mendekatkan wajahnya ke wajah Sassya dengan tatapan yang seolah ingin melahap Sassya.


Satu tangannya beralih menarik tengkuk mereka membuat mata Sassya melotot.


"Jangan!!!" Teriak Sassya membuat Aska kaget dan memundurkan wajahnya.


"Kenapa kau berteriak?" Tanya Aska kesal sambil mengusap kupingnya yang terasa berdengung.


"T..tidak apa-apa. Aku...,aku hanya..."


"Hanya apa?" Tanya Aska sambil menarik kembali tubuh Sassya hingga keduanya kembali bersentuhan.


"Tidak ada tuan. Lagipula bukankah tuan mau mandi? Kenapa masih di sini? Sana mandi!" Sassya mengalihkan kegugupannya sambil mendorong pelan tubuh Aska. Namun Aska tidak bergerak sedikitpun.


Aska menatap Sasssya sinis."Barusan kamu memanggilku apa?" Tanya Aska dengan nada dingin.


Sassya menatap Aska takut. Tatapan Aska seperti ingin mengulitinya.


"Tuan maaf,tapi tuan saya.."


Perkataan Sassya di bungkam oleh sebuah ciuman lembut namun menuntut dari Aska.


Sassya terdiam tak bisa membalas sampai Aska melepaskan tautan mereka.


"Sudah ku bilang ubah panggilan mu. Aku suami mu bukan tuan mu! Jika kau masih memanggilku tuan maka aku akan menghukum mu!"

__ADS_1


"Tapi tuan,saya.."


Ucapan Sassya kembali terhenti saat Aska mencium bibirnya lagi dan kali ini di barengi dengan sedikit dorongan membuat tubuh Sassya terlentang dan berada dalam kungkungan Aska.


"Sudah ku bilang,jangan memanggilku tuan. Kamu sengaja memancing hukuman dari ku ya?"


Tanya Aska dengan tatapan menusuk ke dalam mata Sassya.


Sassya menggeleng pelan. "Saya tidak memancing. H..,hanya saja. Saya harus memanggil tu.."


"Mphhh.." Aska kembali membungkam bibir Sassya sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


"Jangan panggil aku tuan. Panggil aku dengan sebutan sayang,suamiku,my honey atau apapun itu. Asal jangan memanggil aku tuan,aku ini suamimu bukan majikanmu!"


Aska berkata ketus sambil menatap serius manik mata Sassya.


Sassya mengerja-ngerjab gugup di buatnya.


"S..sayang? Tapi tuan,aku.."


"Mpphh.."


Sekali lagi Aska membungkam bibir Sassya dengan ciumannya. Ciumannya begitu lembut hingga membuat Sassya terbuai dan tanpa sadar membuka rongga mulutnya membuat Aska bebas menjelajah.


Ciuman Aska merambat hingga ke leher putih Sassya,membuat Sassya melenguh tanpa sadar.


Setelah membuat tubuh Sassya polos tanpa sehelai benangpun. Aska kini beralih pada tubuhnya sendiri,ia tanggalkan celana yang masih melekat menutupi tubuhnya tak ketinggalan aset penutup terakhir yang melekat di tubuhnya juga ia lepaskan hingga tubuhnya kini juga polos tanpa sehelai benangpun.


Sassya melirik pelan ke arah suaminya yang kini kembali mendekat ke arahnya. Wajahnya merona saat melihat Aska yang sudah polos seperti dirinya.


Melihat ekspresi malu-malu Sassya,otak jahil Aska kembali beraksi. Ia menarik satu tangan Sassya membuat mata Sassya membulat. Aska meletakkan tangan munggil Sassya di atas benda pusakanya.


"Tuan...!! Apa yang kau lakukan?" Pekik Sassya sambil berusaha menarik tangannya.


Aska tersenyum licik. "Biasakan dirimu,kau harus mulai belajar membahagiakan suami dari sekarang." Bisik Sassya di bawah daun telinga Sassya membuat Sassya merinding.


"Tuan,a..aku tidak mau."


Sassya berusaha menarik tangannya namun di tahan oleh Aska.


Perlahan Aska menggerakkan tangan Sassya agar mengusap miliknya. Awalnya Sassya ogah-ogahan. Namun setelah merasakan unggas Aska semakin berkembang,Sassya justru penasaran dan mengeratkan cengkeramannya pada unggas tersebut membuat Aska melenguh dengan mata merem melek.


Napas Aska juga terdengar memburu membuat Sassya menatap Aska heran.


"Tuan,anda kenapa?" Tanya Sassya.


Aska menggeleng dan memilih mengalihkan gairahnya dengan cara mencium bibir Sassya.

__ADS_1


"****.."


Umpat Aska saat merasakan gairahnya semakin memuncak hanya dengan sentuhan tangan Sassya. Tanpa menunggu lama,ia pun melakukan penyatuan yang sempat membuat Sassya tersentak.


Aska mendiamkannya sebentar,sampai di rasa tubuh Sassya sudah siap menerima serangannya. Barulah ia melanjutkannya aksinya,dan mereka pun melakukannya lagi malam itu.


Setelah pergumulan panjang,Aska akhirnya ambruk di samping tubuh Sassya dengan napas terengah-engah. Sebelum benar-benar mengakhiri penyatauan mereka,Aska menyemoatkan diri untuk mengecupi seluruh wajah Sassya dengan sangat lembut.


"I LOVE YOU NONA MUDA GHATAMA." Bisik Aska dengan lembut dan penuh cinta membuat Sassya tersenyum haru.


♡♡♡


Di kamar lain..


Tak berbeda jauh dari yang terjadi di kamar Aska dan Sassya. Di kamar Chintiya dan Rama juga tengah ada permainan jungkat-jungkit yang sedang berlangsung.


Dan setelah melakukan dua gaya andalan tanpa membahayakan kehamilan. Rama akhirnya kembali menyemburkan benih untuk kedua kalinya dan ambruk ke sebelah sang istri.


Rama menatap wajah polos Chintiya yang tampak berkeringat dengan tatapan bangga sekaligus puas.


"Terimakasih sayang." Ucapnya penuh cinta sambil menarik Chintiya ke dalam pelukannya.


Chintiya yang masih mengatur napasnya,kini beralih menatap Rama dengan tatapan hangatnya.


"Aku yang seharusnya berterimakasih." Ucap Chintiya lembut.


"Terimakasih karena sudah mencintaiku dan mau memperjuangkan aku." Lanjut Chintiya lagi.


Rama mengangguk. "Sama-sama sayang. Itu memang kewajibanku,dan setelah ini aku pastikan aku akan mengisi seluruh ruang kosong di hatimu dengan kisah kita hingga nanti hanya nama aku di sana. Besok kita akan kembali ke Surabaya. Memulai semuanya dari awal di sana,bersama keluarga baru kita." Ujar Rama dengan raut sungguh-sungguh.


Rama mengecup kening Chintiya dengan cukup lama. Kemudian menatap mata Chintiya dengan dalam dan berkata.


"Aku Mencintaimu Nyonya muda Wijaya..,calon ibu dari anak-anakku." Ucap Rama membuat Chintiya meneteskan air mata bahagian dan menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Rama.


"I love you too,tuan muda Ramadika Wijaya."


♡♡♡


Tamat...??


Belum kok tenang aja, enam bab lagi...


Kita ngebucin dulu ya,baru kasih ending.


Stay reading guys...


Jangan lupa like vote komen...

__ADS_1


__ADS_2