
Malam hari,sepulang kerja. Dengan langkah riang,Aska berjalan ke dalam kamarnya. Sebotol obat yang sudah ia siapkan adalah alasan di balik senyum cerahnya.
"Bodoh!!" Panggil Aska pada Sassya di depan pintu kamar mereka.
Tak ada jawaban. Aska hanya mendengar bunyi gemericik air yang menandakan jika seseorang yang ia cari sedang berada di kamar mandi.
Sambil menunggu Sassya selesai mandi. Aska memilih menyandarkan kepalanya di headboard ranjang. Rasa lelah di tubuhnya membuatnya hampir terlelap jika saja suara pintu terbuka tidak mengganggunya.
(Catat ya guys!! Di kamar Aska itu kosong melompong tanpa sofa dll. Cuma ranjang. Karena yang lain sudah di evakuasi sama nyonya Ghatama. Ingatin juga kalau Azell lupa!)
"Ceklek."
Sassya muncul dengan masih menggunakan kimono mandinya dan handuk kecil yang membungkus rambutnya.
"Bodoh,kau sudah..."
Ucapan Aska terhenti saat ia menoleh dan berbarengan dengan itu,matanya menangkap lekuk tubuh Sassya yang terekspos dari balik kimono mandinya. Kimono yang sedikit pendek itu membuat Aska menelan ludahnya. Kaki jenjang Sassya menggoda iman ceteknya.
"S..selamat malam tuan..." Sapa Sassya gugup melihat tatapan liar Aska. Cepat-cepat ia berjalan ke arah walk in closet.
Namun di luar dugaan,saat hampir melewati ranjang tempat Aska berbaring. Pria itu tiba-tiba bangkit secepat kilat dan langsung menarik Sassya ke tepi ranjang. Kelakuannya yang tiba-tiba membuat keduanya terjerembab dan saling menindih. Dengan posisi Sassya di atas.
"Wow!! Jadi kau mau praktek gaya woman on top ya?" Tanya Aska dengan nada menggoda membuat pipi Sassya memerah.
"T..tuan saya harus ganti baju." Gugup Sassya.
Bukannya melepas,Aska yang sudah nafsu malah m31um4t bibir Sassya tanpa ampun hingga Sassya kesulitan bernapas. Pelukannya di pinggang Sassya pun semakin erat.
"T..tuan empphh." Tak sempat berbicara karena bibir Sassya kembali di bungkam setelah di beri jeda bernapas.
"Cup." Aska melepaskan c1um4n mereka dan di akhiri dengan sedikit k3cup4n gemas.
"Aku menginginkan." Bisiknya.
Tak mau membuang waktu lama,karena keinginan juniornya sudah meronta. Aska segera membalik tubuh Sassya hingga gadis itu sudah berada dalam kungkungannya.
Perlahan tapi pasti,simpul kimono Sassya sudah berhasil ia lepas dan dalam hitungan detik kimono tak berdosa itu sudah terlempar mengenaskan di lantai.
__ADS_1
"FU**k." Geram Aska saat melihat tubuh polos Sassya untuk yang ketiga kalinya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata. Aska dengan buasnya menyerang setiap jengkal tubuh Sassya. Hingga setelah merasa cukup melakukan foreplay tanpa ba-bi-bu lagi Aska langsung menyatukan tubuh keduanya dan untuk kali ini ia tak mendapat perlawanan apapun dari Sassya.
Walau bisa di lihat jika di sudut mata Sassya ada lelehan air bening yang menandakan jika gadis itu tengah menangis. Entah karena sakit atau karena marah dengan perbuatan Aska. Tak ada yang tau termasuk Askan
Tapi Aska juga tak peduli,toh juga ia puas karena bisa melampiaskan hasratnya pada wanita berstatus istrinya itu. Apapun perasaan wanita itu,bukan urusan Aska. Anggaplah Sassya hanya gadis pemuas hasratnya.
Lagipula sebagian orang memang bisa melakukan hal 'itu' tanpa cinta bukan? Begitu juga dengan Aska.
♡♡♡
Tubuh Aska bergetar hebat dengan napas memburu setelah berhasil mendapatkan pelepasan untuk yang kedua kalinya. Pria itu tersenyum puas melihat Sassya yang sudah terkulai lemas akibat permainan panas mereka yang berdurasi hampir dua jam itu.
Sebenarnya Aska masih enggan untuk berhenti. Jika tidak kasian melihat Sassya yang sudah tampak pucat,mungkin ia masih terus melakukannya sampai subuh. Tapi ia masih punya hati. Sedikit.
"Bangunlah. Bersihkan tubuhmu. Aku akan mandi di kamar lain." Aska berucap sambil melepaskan penyatuannya dengan Sassya dan berlalu memungut pakaiannya yang sudah terlepas dan kembali memakainya.
Melihat Aska sudah memakai pakaiannya,Sassya juga ikut memunguti kimono mandinya tadi dan memakainya kembali. Ia hampir beranjak ke kamar mandi jika suara Aska tak menghentikannya.
"Minumlah obat pencegah kehamilan yang sudah aku beli. Aku tidak ingin kau hamil,karena aku tidak menginginkan anak darimu." Ucap Aska frontal tanpa saringan.
"Nyatanya setelah mengambil keperawan ku kau tetap tidak menginginkan. Kau memang jahat tuan,lelaki paling jahat yang pernah aku temui." Lirih Sassya sambil menangis tersedu-sedu di bawah guyuran air shower.
Sementara di luar,Aska melengang acuh setelah melihat Sassya masuk ke kamar mandi tanpa menjawabnya.
"Persetan dengan perasaannya. Dia memang tak lebih dari wanita ****** yang menjual dirinya demi uang. Bukankah dia datang padaku sebagai penebus hutang untuk ibunya yang tua itu? Tidak ada yang salah jika aku memakainya,karena dia memang sama dengan ******-****** di luar sana."
Batin Aska sambil terus berjalan ke kamar mandi tamu yang berjarak dua ruangan dari kamarnya dan Sassya.
♡♡♡
"Kau sudah meminum obat yang tadi aku simpan di meja riasmu?"
Tanya Aska setelah masuk kembali ke dalam kamar dan mendapati Sassya sudah berbaring di atas ranjang dengan sprei yang sudah di ganti.
"Sudah tuan!" Jawab Sassya datar.
__ADS_1
Muak sekali rasanya mendengar pertanyaan Aska yang menggambarkan betapa menjijikannya diri Sassya di mata Aska.
"Apa aku seburuk itu tuan? Tidakkah ada celah sedikit?" Batin Sassya sendu.
Salahkah jika ia berharap pernikahannya dan Aska berjalan sebagaimana mestinya? Bahkan jika bisa,ia ingin Aska menjadi cinta terakhirnya sekaligus sosok pria yang akan menghiasi hari-harinya hingga tua nanti.
Ia sadar,sangat sadar jika hatinya sudah tertaut pada pria dewasa yang kini menjadi suaminya. Pria dewasa yang sudah merebut perhatiannya dengan segala kearoganannya yang justru membuat Sassya semakin tertarik.
Cinta memang aneh.
♡♡♡
Zee mengaduk-aduk coffe late buatan mamanya yang sejak setengah jam tadi ia anggurkan tanpa di seruput sedikitpun.
"Zee. Sassya udah di perawanin!!"
Ucapan Sandra kembali terngiang di dalam otak cantik Zee membuat gadis itu mendengus malas.
"Lagi-lagi gue kepikiran adik sialan itu." Batin Zee geram.
"Tapi kenapa?? Dia gak mau lo peduliin!! Sadar Zee!! Sadar!! Lo cuma MANTAN kakak tirinya. Gak usah sok care. Lo bukan siapa-siapanya Sassya. Paham!!" Zee menunjuk-nunjuk dirinya sendiri berharap otaknya paham jika ia bukan bagin dari Sassya jadi tidak perlu merasa terbebani.
Tanpa Zee sadari,di kejauhan ada seseorang yang mendengar semua ucapan Zee. Orang itu langsung mengambil inisiatif untuk nembantu Zee yang sedang perang batin melawan ego dan kecewa dalam dirinya.
"Sand! Bantu tante pantau setiap kegiatan Sassya dan laporkan semuanya sama tante. Ingat jangan sampai Zee tau."
Suruh orang itu pada Sandra,asisten anaknya yang juga akrab dengannya. Dia adalah Diana,mama Zee yang sedang berusaha membantu masalah Sassya dan Zee.
♡♡♡
Aku capekkkkk
Kirim kopi atau bunga sama kebunnya sekalian kek biar aku senang....
Lagi nihh like vote komen juga kencenginnn dongggggg
Sambil nunggu aku up..mampir yuk guys ke novel author kece satu ini....gas baca spoilernya...
__ADS_1