Tautan Takdir

Tautan Takdir
Periksa Kandungan


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Hari ini,adalah jadwal periksa kandungan bagi Sassya. Sesuai jadwal yang sudah di tentukan oleh dokter Zara,dokter yang selama ini mengontrol kandungan Sassya.


Sassya menatap sekali lagi pantulan wajahnya di cermin. Ia tersenyum kecil saat melihat penampilan rapinya. Saat tengah menyisir rambut panjangnya,tampak pintu kamar di buka.


Dari luar,mertuanya tampak masuk ke dalam dengan ekspresi hangatnya membuat senyum Sassya semakin mengembang.


"Ayo nak,sudah siapkan?" Tanya nyonya Ghatama sambil melangkah mendekati Sassya dan mengambil alih merapikan rambut Sassya dengan lembut.


Perlakuan lembut nyonya Ghatama semenjak dirinya hamil selalu berhasil membuat Sassya terharu. Sassya membalikkan badannya kemudian memeluk nyonya Ghatama dengan erat.


"Terimakasih mom. Terimakasih karena sudah memberi kesempatah bagi Aska dan Sassya untuk memperbaiki semuanya. Sassya benar-benar merasa berhutang pada mommy."


Ujar Sassya dengan nada haru sekaligus menyesal.


Haru karena sang mommy masih mau berlapang dada memaafkannya dan Aska. Dan menyesal karena dulu sudah mempermainkan sebuah ikatan pernikahan hanya karena sebuah ego.


Nyonya Ghatama membalas pelukan Sassya dan membelai lembut punggung Sassya.


"Jangan berkata seperti itu. Mommy tau bagaimana perasaan kalian berdua,mommy hanya bantu meluruskan jalannya saja. Semua ini murni terjadi karena kalian memang di takdirkan bersama,bukan karena mommy atau siapapun."


Nyonya Ghatama berkata dengan bijak. Tak lama setelahnya,Melissa tampak masuk ke dalam juga dengan senyuman cerahnya.


"Mama..." Sassya melepaskan pelukannya dari nyonya Ghatama dan kini berlari ke arah sang mama dan memeluk mamanya itu dengan erat.


"Mama,terimakasih karena sudah menjaga Sassya selama ini. Terimakasih karena sudah sabar meraway dan membesarkan Sassya dengan penuh kasih sayang bahkan ikut menemani Sassya sampai Sassya menemukan kehidupan baru Sassya. Sassya sayang sama mama." Ujar Sassya di sela-sela pelukannya.


Melissa tersenyum sambil menahan tangisan harunya. Ia juga membalas pelukan Sassya tak kalah erat.


"Sudah kewajiban seorang ibu untuk merawat dan menjaga anaknya sampai nanti ia menemukan tempat baru untuk tinggal. Bahkan sampai kamu menemukan tempat baru pun kewajiban mama belum selesai sayang,mama akan terus mendoakan kebahagiaan kamu dan akan terus begitu sampai ajal nanti menjemput mama. Jadi sekarang setelah semua masalah dan proses yang kamu lalui,tetaplah jadi Sassya yang mama kenal. Mama tau kamu wanita kuat dan akan jadi wanita terhebat dalam keluargamu nanti. Mama juga sayang,sangat-sangat sayang sama Sassya."


Melissa mengeratkan pelukannya membuat Sassya kembali menangis haru. Melihat adegan mengharukan antara ibu dan anak itu,mau tak mau nyonya Ghatama ikut melumer dan akhirnya menghamburkan diri untuk memeluk Sassya dan Melissa dengan rangkulannya.


♡♡♡

__ADS_1


Sassya akhirnya diantarkan ke rumah sakit oleh seorang sopir. Begitu sampai di sana,sudah ada Aska yang menunggunya. Aska memang berangkat ke rumah sakit dari kantornya tadi. Karena itulah Sassya berangkat ke rumah sakit di antar sopir.


Begitu turun dari mobil,Aska langsung menghampiri sang istri dan menggenggam tangan Sassya. Mengiringi Sassya berjalan menuju ruang praktek dokter Zara.


Sesekali Aska melemparkan senyuman pada beberapa petugas rumah sakit yang mengenalinya juga menyapanya. Ia mengeratkan genggamannya di tangan Sassya membuat perasaan Sassya semakih menghangat.


Sikap Aska saat ini benar-benar menunjukkan jika ia sangat mencintai Sassya. Terbukti dari caranya menggenggam tangan Sassya dan selalu menyempatkan matanya untuk menatap sang istri di sepanjang perjalanan.


"Tadi sebelum ke sini,kamu ada makan lagi gak?" Tanya Aska memastikan keadaan nutrisi sang istri terpenuhi.


Sassya mengangguk. "Tadi di buatin salad dari buah-buahan sama mommy dan mama. Aku juga di suruh minum susu lagi sama mommy,soalnya tadi pagi sempat muntah." Ujar Sassya.


Aska menatap Sassya khawatir.


"Parah gak mualnya?" Tanya Aska khawatir.


Sassya menggeleng. "Enggak parah kok. Aku cuma gak tahan sama aroma pewangi ruangan yang ada di dapur. Tapi tadi pewangi ruangangannya udah di ganti kok sama bibi,atas perintah mommmy. Jadi besok-besok aku pasti gak mual lagi." Jawab Sassya yakin.


Namun Aska belum sepenuhnya tenang. Saat di kantor saja ia terus kepikiran,apakah Sassya di rumah sudah makan,apa mualnya parah. Atau apapun itu,dan hal-hal itu menggangguk pikiran Aska.


"Ih,di rumah kan ada mama dan mommy. Mereka menjaga aku dengan baik tau,lagipula aku baik-baik saja selama ini. Hanya mual sesekali kan wajar." Ujar Sassya sambil menatap suaminya dengan tatapan lembut dan meyakinkan.


"Jadi jangan khawatir berlebihan ya sama aku,itu justru nanti bikin kamu gak fokus kerja. Nanti kerjaan kamu berantakan loh. Pokoknya nanti aku janji setelah ini,setiap kamu ke kantor aku akan rutin telpon atau chat kamu buat kasih tau aktifitas aku di rumah apa aja. Biar kamu gak perlu khawatir,gimana?"


Aska tak menjawab dan memilih merangkul bahu Sassya dengan erat. Ia belum sepenuhnya tenang,tapi mereka bisa melanjutkan pembicaraan ini nanti. Sepulang dari rumah sakit. Saat ini ia dan Sassya harus memeriksakan kandungan Saasya karena mereka sudah sampai di ruangan dokter Zara.


♡♡♡♡


Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan,dan dokter Zara menyatakan jika kandungan Sassya sehat. Sassya dan Aska pun akhirnya keluar dari ruangan dokter Zara.


Setelah tiba di mobil,Sassya kembali berbicara membahas masalah yang mereka bicarakan tadi.


"Sayang kamu denger sendiri kan tadi? Kandungan aku itu baik-baik aja. Jadi aku gak perlu harus ikut kamu ke kantor ya. Aku gak mau ganggu pekerjaan kamu." Ujar Sassya sambil mengeluarkan puppy eyesnya.


Aska menatap Sassya dengan lembut.

__ADS_1


"Iya kalau memang itu mau kamu. Tapi ingat satu hal,kamu itu bukan pengganggu dan gak akan pernah jadi pengganggu. Jadi jangan bilang diri kamu pengganggu pagi,kamu itu wanita paling penting di hidup aku jadi kewajibanki untuk menjaga dan melindungi kamu karena aku suami kamu."


Aska berkata sambil memasangkan sabuk pengaman milik Sassya. Tak lupa satu kecupan kecil ia tinggalkan di bibir Sassya membuat wajah dan pipi Sassya merah.


"Sayang ichh...!" Sassya memukul dada Aska dengan pelan.


Namun bukannya marah,Aska malah mengambil jemari Sassya yang tadi sudah memukulinya dan mengecup punggung tangan tersebut dengan lembut membuat Sassya kembali malu.


"Kamu ngegemasin banget sih." Gemas Aska sambil menjawil kedua pipi Sassya yang makin gembil semenjak kehamilannya.


Aska kini beralih pada perut Sassya yang mulai menonjol dan memberi kecupan hangat di sana.


"Baik-baik ya dedek. Jangan bikin mommy mual terus,kasian dong sama mommynya. Jangan ngubek-ngubek perut mommy. Nanti kalau kamu udah lahir,kita jaga mommy sama-sama ya." Ujar Aska berbicara pada perut Sassya seolah sang jabang bayi yang ada di dalam sana bisa mendengarnya.


Melihat kelakuan hangat Aska,tangan Sassya terulur mengusap rambut Aska. Perlakuan Sassya membuat Aska mengalihkan pandangannya ke wajah Sassya.


Detik setelahnya ia kembali mencium bibir Sassya. Kali ini dengan ciuman yang lebih dalam membuat Sassya terbuai.


Suasana mulai panas,padahal mereka sedang berada di parkiran rumah sakit. Ciuman baru berhenti setelah ada bunyi klakson dari arah belakang mereka.


Ternyata ada mobil lain yang mau keluar dan mobil Aska menghalangi jalannya.


Aska menyengir menatap wajah sang istri yang tampak semakin memerah.


Dengan gemas ia mengusap puncak kepala Sassya.


"Kita lanjutkan di rumah saja ya." Bisik Aska mesra,dan setelahnya ia melajukan mobil dengan santai tanpa peduli dengan wajah malu sang istri.


♡♡♡


Gak ada konflik lagi ya guys...


Sekarang kita happy-happy....


Jangan lupa like vote komen biar yang nulis tambah happy.

__ADS_1


__ADS_2