
Aska berdiri mematung di depan pintu rumah kedua orangtuanya. Sudah beberapa kali ketukan ia coba lakukan namun pemilik rumah seakan enggan membukakannya pintu.
Aska melirik jam di tangannya,baru pukul setengah sembilan malam. Ia yakin kedua orangtuanya itu pasti belum tidur,lantas kenapa tidak ada yang membukan pintu? Kemana mereka? Apakah mereka sengaja membiarkannya kedinginan di luar sini?
"Tidak. Itu tidak boleh di biarkan!" Batin Aska.
"Duk"
"Duk"
"Duk"
Sekali lagi Aska menghantamkan buku tangannya ke daun pintu. Bukan ketukan yang ia lakukan,tapi lebih ke arah gedoran.
Hingga beberapa menit berlalu,terdengarlah langkah kaki dari dalam rumah. Seorang pelayan akhirnya membukakan pintu untuk Aska.
"Selamat malam tuan muda. Maaf membuat anda menunggu." Ujar sang pelayan dengan wajah tertunduk menahan takut.
Aska mengangguk."Tak apa." Jawabnya singkat. "Di mana mommy dan daddy?" Tanya Aska selanjutnya.
"Tuan besar dan Nyonya besar ada di ruang keluarga. Perlu saya panggilkan?" Tanya pelayan paruh baya itu lagi,masih dengan kondisi menunduk.
"Tidak usah mbok Nah. Biar saya menemui mereka langsung."
Ujar Aska sambil berlalu pergi menuju ruang keluarga. Dari jarak sepersekian meter,Aska bisa melihat kedua orangtuanya tengah duduk dengan posisi bersandar di sofa tanpa menoleh sedikitpun padahal mereka sudah pasti mendengar langkah kaki Aska.
"Mom.." Panggilan pertama keluar dari mulut Aska.
Sang nyonya belum bergeming dari posisinya.
"Siapa yang datang pa?" Tanya Nyonya Ghatama sambil membolak-balik majalah yang ada di atas meja tanpa berniat melihat ke arah Aska.
Tuan Ghatama juga tampak cuek dengan kedatangan Aska.
"Tidak tahu. Tamu mbok Nah mungkin." Ujar tuan Ghatama dengan ekspresi cueknya.
"Oh,tamu mbok Nah. Ya sudah kalau begitu,tinggalkan saja. Tidak penting juga kan?"
Nyonya Ghatama berucap sambil menggandeng tangan suaminya agar pergi meninggalkan sang putra yang masih mematung bak orang bodoh.
Melihat kedua orangtuanya hendak pergi,kaki Aska refleks bergerak dan tangannya langsung mencekal pergelangan sang mommy dan menariknya sedikit kencang.
"Mommy!! Maafkan Aska." Ujar Aska sambil tetap menahan tangan mommynya agar jangan meninggalkannya.
"Mom.."
"Lepaskan tanganmu." Suruh nyonya Ghatama dengan datar.
Aska tidak menurutinya,malah semakin menggenggam erat tangan sang mommy.
__ADS_1
"Aska,lepaskan tangan mommy dan duduklah!!" Bentak nyonya Ghatama dengan lebih garang.
Aska segera menuruti perintah sang ibu sebelum ibunya itu berubah jadi siluman macan. Jadi dengan hati-hati Aska pun duduk di atas sofa dan kedua orangtuanya juga tampak kembali duduk dengan ekspresi datar mereka.
"Jelaskan!" Suara nyonya Ghatama kembali terdengar.
Aska menatap mommnya ragu.
"Bu..,bukannya mommy sudah tau semuanya? Lantas apalagi yang harus Aska jelaskan?"
"Semuanya Aska. Kamu ingin mendengarkan penjelasan secara langsung dari mulut kamu bukan dari nona muda Elis. Bisa?"
"B..bisa mom."
"Ya sudah. Jelaskan!"
"Mom,aku..,sebenarnya aku dan Sassya menikah karena sebuah kesepakatan." Ujar Aska memberanikan diri memulai penjelasan.
Hening,tak ada jawaban. Aska sedikit mendongak memperhatikan ekspresi kedua orangtuanya. Tak ada perubahana,keduanya masih memasang wajah dingin.
Aska menghela napas sebentar,sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Mom,dad. Aska tahu apa yang Aska dan Sassya lakukan itu salah. Aska sadar tidak seharusnya kami memanfaatkan status pernikahan untuk mendapatkan keuntungan dari pihak masing-masing. Tapi saat itu Aska juga sedang tidak punya pilihan,mom dan dad terus menuntut agar Aska segera menikah. Di saat bersamaan Aska di pertemukan dengan Sassya,dia membuat masalah yang memang membuat Aska rugi. Aska saat itu sedang kacau mom dan kedatangan Sassya layaknya musibah sekaligus anugrah yang mau tidak mau harus Aska manfaatkan."
Jelas Aska panjang lebar dengan ekspresi bersalahanya.
Bukannya senang dengan penjelasan sang anak,wajah nyonya Ghatama malah semakin sinis.
Tanya nyonya Ghatama memastikan.
Aska mengangguk cepat,namun sedetik kemudian ia menggeleng lagi.
"Aska dan Sassya sama-sama saling memanfaatkan. Aska saat itu butuh gadis untuk di jadikan istri karena dad hanya memberi Aska waktu dua hari,dan di saat bersamaan Sassya butuh Aska untuk membantu biaya rumah sakit ibu Melissa yang saat itu kondisinya sedang drop. Saat itu Aska sama sekali tidak tahu kalau Sassya pernah menjadi anggota keluarga William. Aska tidak bermaksud mencari masalah,Aska hanya memanfaatkan kesempatan dan mungkin itu yang di namakan dengan takdir. Pertemuan Aska dan Sassya itu takdir mom dan kami layak di persatukan."
Aska berucap sungguh-sungguh. Binar matanya juga menunjukkan kesungguhan dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Sayangnya sang mommy masih menampakkan raut sinis.
"Takdir katamu? Jadi menurutmu dengan kamu memaanfaatkan Sassya dan Sassya memanfaatkan kamu itu bisa di sebut takdir?"
Aska mengangguk cepat.
Nyonya Ghatama makin tersenyum sinis.
"Aska,Aska. Pikiran kamu dan Sassya sama-sama dangkal. Mommy kecewa pada kalian dan jika menurutmu pertemuan kamu dan Sassya itu adalah takdir maka sebagai ibumu,mommy mau merubah alurnya sesuai keinginan mommy,sesuai rencana mommy sedari awal."
Aska menatap mommynya bingung.
"Apa maksud mommy?"
__ADS_1
"Ceraikan Sassya dan menikahlah dengan wanita pilihan mommy!"
Sedetik..
Dua detik...
Tiga detik...
Aska terdiam memperhatikan mommynya dengan lekat. Mencari kebohongan dari setiap ucapan mommynya. Namun sia-sia. Mommynya terlihat sangat serius.
"Mom. Jangan bercanda,bukannya mommy sudah setuju dan menyukai Sassya? Kenapa Aska harus menceraikannya? Lagipula Aska sudah tidak menjalin hubungan dengan Chintiya,Aska benar-benar mencintai Sassya mom."
"Tidak ada cinta Aska. Kamu hanya terobsesi. Sekarang biarkan mommy yang mengatur semuanya,kamu hanya tinggal menurut dan menikah dengan gadis pilihan mommy." Tegas nyonya Ghatama tak mau di bantah.
Aska segera menggeleng.
"Ini gila mom. Aska tidak bisa dan Aska tidak mau. Istri Aska saat ini tengah hamil mom,Sassya hamil dan itu anak Aska."
Bantah Aska dengan memberi sebuah alibi yang ia yakini bisa merubah pola pikir gila mommynya itu.
Nyonya Ghamata tetap menggeleng.
"Itu bukan urusan mommy Aska. Itu kesalahan kalian dan Sassya juga pantas menanggungnya."
"Tapi anak itu tanggung jawab Aska."
"Hanya anak kan? Kau biss melakukan tanggung jawab dengan membiayai anak itu tanpa harus bersatu dengan ibunya. Simple kan Aska? Bukannya tujuan awal Sassya menikahi mu adalah karena uangmu? Karena kamu mampu membiayai perawatan ibunya kan? Berati sedari awal yang dia inginkan adalah uangmu bukan dirimu. Jad tidak ada salahnya jika kamu memberi uang kompensasi dan menikahlah dengan gadis pilihan mommy."
Aska menggeleng cepat.
"Aska tidak setuju dengan ucapan mommy. Sassya wanita yang baik,Aska sudah mengenal Sassya dan asal mommy tahu. Sassya tidak pernah berniat memanfaatkan Aska,Aska lah yang memaksa Sassya untuk masuk ke kehidupan Aska maka dari itu Aska mau bertanggung jawab."
"Sayangnya keputusan mommy sudah bulat Aska. Takdir yang kamu maksud itu tidak ada,mommy yang pegamg alurnya. Kamu hanya perlu mengikuti jalan ceritanya. Ceraikan Sassya dan menikahlah dengan gadis pilihan mommy. Itu alurnya dan kamu tidak bisa merubahnya."
Suara nyonya Ghatama benar-benar tegas dan tidak mau di bantah.
♡♡♡
Halo...
Masih ada orang??
Gimana ini??
Like vote komennya bagi dong...
Q : Thor ini gimana sih? Katanya udah mau end kok malah konflik lagi?
A : Ini namanya plot twist wahai readers tercinta😂. Sebenarnya aku juga gak nebak sih kenapa bisa melenceng sejauh ini. Padahal nih ya,dari alur yg aku buat. Endingnya tuh gak gini. Tapi eh tapi,seru kayaknya kalau di buat ribut lagi sebelum bener2 end.
__ADS_1
So nikmati aja dulu. Tinggal beberapa chapter juga. Hihi...