Tautan Takdir

Tautan Takdir
Menemui Ibu Mertua


__ADS_3

Pagi ini,Sassya di antar oleh taxi ke kediaman mewah sang mertua. Sesuai permintaan Aska semalam,hari ini ia akan membantu Aska menjelaskan perihal hubungannya dan Aska juga perasaan mereka.


Tentu saja kedatangan Sassya ke rumah Aska tanpa sepengetahuan Melissa. Sassya berangkat setelah mamanya berangkat bekerja. Karena kalau sampai mamanya tahu,tamatlah riwayat mereka.


Sebenarnya semalam Sassya sempat ingin menolak untuk membantu Aska. Namun setelah di yakinkan oleh Aska bahwa pria itu mencintainya dan benar-benar ingin bertanggung jawab. Sassya akhirnya luluh dan memberi Aska kesempatan satu kali lagi untuk Aska memperbaiki semuanya. Sayangnya kali ini Sassya juga harus terlibat dalam urusan memperjuangkan hak rumah tangganya.


Dan kali ini juga,bisa di pastikan Sassya tidak bisa meminta bantuan siapapun.


♡♡♡


Setelah turun dari taxi,Sassya akhirnya tiba di depan pintu rumah Aska dengan di antar oleh satpam penjaga rumah.


Sebelum masuk,Sassya memilih mengetuk pintu walau daun pintu saat itu tengah terbuka lebar.


"Tok..,tok.."


Terdengar dua kali ketukan dan tak lama setelahnya,salah satu pelayan di rumah Aska muncul.


Ia menatap Sassya dengan ekspresi antara kenal dan tidak.


"Non? Oh,non Sassya bukan?" Tanya pelayan itu dengan nada agak ragu.


Sassya mengangguk."Iya bi,saya Sassya."


"Istrinya den Aska?"


"Iya bi."


"Ah begitu,silahkan masuk non. Mau bertemu ibu atau bapak?"


"Kalau bisa keduanya bi."


"Baiklah. Mari bibi antar,tuan  dan nyonya ada di halaman belakang." Ujar wanita paruh baya itu lagi,sambil menunduk hormat dan sedikit menyingkir membiarkan Sassya lewat.


Sesampainya di halaman belakang,kedua orang tua Aska tampak tengah menikmati teh di pagi hari. Pembantu yang mengantarkan Sassya tadi memilih pamit,dan kini tinggalah Sassya dengan perasaan campur aduk.


Ragu-ragu Sassya berjalan mendekat hingga akhirnya sampai di depan kedua mertuanya itu.


"Ekhem." Sassya berdehem,membuat kedua orangtua itu akhirnya sadar dengan kehadiran Sassya.

__ADS_1


"Selamat pagi,mom,dad." Sapa Sassya sebiasa mungkin.


Mommy Aska tampak enggan menoleh,hanya tuan Ghatama yang tampak menoleh dengan senyumnnya.


"Pagi Sassya,silahkan duduk." Ujar tuan Ghatama ramah.


Sassya mengangguk dan segera duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan kedua mertuanya itu.


"Ada apa nak? Tumben kamu ke sini pagi-pagi. Ada yang mau di bicarakan?" Tanya tuan Ghatama to the point,namun masih dengan nada ramah.


Sassya mengangguk jujur.


"Sebenarnya begini mom,dad. Maaf sebelumnya kedatangan Sassya ke sini mungkin sedikit mengganggu,tapi tujuan Sassya ke sini karena Sassya ingin menjelaskan dengan sebenarnya mengenai hubungan Sassya dan Aska. Sassya tau,mom dan dad pasti sudah mendengar penjelasannya dari Aska dan Sassya rasa..."


"Cukup. Tidak usah kamu jelaskan lagi." Potong nyonya Ghatama dengan nada dingin.


"Saya sudah mendengarkan penjelasan tentang awal mula hubungan kalian dari Aska dan saya rasa itu sudah cukup. Baik versi kamu maupun versi Aska tidak ada bedanya. Sama-sama salah." Tegas nyonya Ghatama.


"Dan karena kamu sudah terlanjur ada di sini,maka sekarang ada hal yang harus saya sampaikan secara langsung pada kamu." Ada jeda sebentar saat nyonya Ghatama menyesap teh miliknya.


"Jujur Sassya,sebagai ibu mertua kamu dan sebagai orangtua Aska. Saya kecewa dengan tindakan kamu dan Aska. Perbuatan kalian sama-sama tidak bisa di benarkan,kalian saling memanfaatkan satu sama lain dengan memanfaatkan status pernikahan dan itu murni salah Sassya. Saya rasa kamu pun tau kalau tindakan kalian sudah salah sejak awal,benar bukan?"


"Mom,sekali lagi Sassya meminta maaf atas kesalahan yang Sassya dan Aska buat. Tapi sebelumnya,apa Sassya boleh memastikan satu hal? Apa benar mommy akan menikahkan tuan Aska dengan wanita pilihan mommy kendati mommy tau bahwa saat ini Sassya tengah mengandung anak tuan Aska?"


Sassya memberanikan diri untuk berbicara langsung ke intinya.


Nyonya Ghatama menatap Sassya lekat.


"Aska sudah memberitahumu masalah ini rupanya. Baguslah,karena memang hal ini yang tadi ingin saya bicarakan. Dan ya,ucapanmu benar. Saya ingin menikahkan Aska dengan wanita pilihan saya."


"Kendati pun saya saat ini tengah hamil?" Tanya Sassya memastikan.


Nyonya Ghatama mengangguk.


"That's right Sassya. Lagipula tujuan kamu dan Aska menikah hanya untuk mendapatkan tujuan kalian masing-masing bukan? Aska sudah mendapatkan perusahaan daddynya dan kamu sudah mendapatkan biaya perawatan untuk ibumu. Kalian sudah impas,jadi pastinya kamu tidak keberatan kan dengan keputusan saya?"


Tak terlihat rasa bersalah atau rasa kasihan sedikitpun dari raut nyonya Ghatama.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal tanggung jawab Sassya. Jika memang itu yang kamu khawatirkan. Tenang saja,saya sudah memikirkan hal itu dengan matang,Aska akan tetap bertanggung jawab memenuhi kebutuhan kalian berdua,sampai anak itu lahir. Setelah anak itu lahir,nanti kita pertimbangkan lagi,apakah dia akan ikut denganmu. Atau ikut dengan Aska. Simple kan?"

__ADS_1


"Mom! Aku dan Sassya saling mencintai. Mommy tidak bisa menjodohkan aku."


Aska tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan raut emosinya. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebelah Sassya yang tampak menunduk menahan tangis.


"Aska? Kenapa kamu ada di sini? Di mana Shiva?"


Nyonya Ghatama menatap putranya heran.


"Aku mengantarkan bocah itu pulang ke rumah orangtuanya."


"Mom dengarkan aku,aku dan Sassya saling mencintai. Bahkan saat ini Sassya tengah mengandung calon anak kami,mommy tidak mungkin setega itu. Memisahkan Aska dari istri dan calon anak Aska dengan wanita lain,mustahil mom."


Nyonya Ghatama memberenggut sinis.


"Nothing imposible Aska. Kalian saja bisa dan tega membohongi kami,kenapa mommy tidak bisa melakukan hal serupa?"


"Mom,tapi ini beda ceritanya." Ujar Aska kekeh.


Kini perdebatan bukan lagi antara Sassya dan mommy Aska. Tapi justru Aska sendiri yang turun tangan. Sedangkan tuan Ghatama? Jangan di tanya,dia hanya penonton.


"Tidak ada yang beda Aska. Mommy hanya meniru permainan kalian,bukankah itu adil? Lagipula mommy kasihan padamu,PD sekali dirimu mengatakan kalau kamu dan Sassya saling mencintaimu. Memangnya kamu punya bukti apa? Bukankah sedari awal kaian menikah karena simbiosis? Tidak menutup kemungkinan kan kalau kedepannya kalian akan saling meninggalkan. Jadi sebelum itu terjadi,lebih baik mommy menjodohkan kamu dengan orang yang tepat."


"Omong kosong." Pungkas Aska cepat.


"Sayang,katakan pada mommy kalau kita saling mencintai. Aska mencintai Sassya,dan Sassya juga. Benarkan sayang?"


Aska menatap Sassya penuh harap.


Sassya mengangkat kepalanya dan mengangguk perlahan.


"Itu benar mom. Dulu perasaan itu memang belum ada,tapi sekarang saya yakin kalau kami saling mencintai. Dan sebagai wanita yang masih berstatus istri Aska,saya tidak bisa membiarkan suami saya menikah dengan wanita lain."


♡♡♡


Potong and see u next part.


Mau aku lanjutin obrolannya di sini,nanti kepanjangan. Aku yg rugi.


Kalau bisa di jadiin dua bab. Kenapa enggak? 😂

__ADS_1


Jangan lupa like vote komen...


__ADS_2