
Suasana haru sekaligus sedih menghinggapi ruang hati Sassya sepagi ini. Masih di dalam pelukan bi Sumi,Sassya menumpahkan seluruh perasaan campur aduknya dengan cara meneteskan air mata.
"A...aku sebenarnya belum siap bi." Ujar Sassya sambil terisak-isak. Perasaannya berubah menjadi sangat sedih.
Entah kenapa semua rencananya tadi mendadak blank. Ia ingin egois kali ini,tapi bagaimana dengan Aska? Pria itu pasti tidak mau menerimanya. Sudah pasti.
Sassya melepaskan dekapan bi Sumi. Di tatapnya ke tiga buah tespeck tadi untuk yang ke sekian kalinya. Positif. Ia hamil,anak Aska.
"Padahal Sassya minum terus loh bi obat yang tuan kasih. Kenapa bisa jadi ya?"
"Emm,mungkin karena non minum setelah ngelakuin itu kali. Mungkin juga rahim non Sassya emang subur." Ujar bi Sumi asal tebak. Masalahnya pembantu satu itu memang sudah menjanda dan juga tidak bisa punya anak. Jadi ia tidak tau apa-apa soal kehamilan.
"Menurut bibi Sassya harus cek ke dokter gak bi? Buat nyari tau usia kehamilannya."
"Emm,saran bibi sih ya. Sebaiknya non Sassya jalanin rencana non Sassya dulu. Maaf ya ini non,bukannya apa-apa. Saya takut kalau non masih di sini,akan bahaya buat non sama kandungan non. Apalagi tuan kan minta jatahnya tiap malam,iyakan non?"
"Gleg..." Sassya menelan kasar ludahnya mendengar ucapan bi Sumi."Gak salah sih bi. Tapi gak sefrontal itu juga,malu ama pembaca dan otornya."Batin Sassya.
"Bi..tapi bibi gak lupa kan sama yang kemarin Sassya omongin? Itu loh bi masalah uang." Ujar Sassya sedikit jaim.
Bi Sumi mengangguk."Aman non,tabungan bibi mah empuk kalau buat non Sassya. Non tuh udah kayak anak bibi sendiri. Dari non datang,bibi tuh emang udah sayang sama non Sassya. Tapi masalah mamanya non Sassya gimana?"
"Nah itu dia bi. Masalahnya kan selama ini Sassya sama Aska selalu kunjungan dua kali seminggu ke rumah mama. Nah nanti kalau Sassya kabur,gimana ya bi?"
"Emm,gimana kalau non buat rencana gini deh non. Sebelum pergi,non ajak tuan Aska ke rumah mamanya non Sassya dulu. Nanti di sana,non buat seolah non bakalan sibuk dan mungkin bakalan jarang berkunjung nanti sewaktu-waktu kalau memang non perlu berkunjung."
"Non hubungi bibi,nanti bibi bantu biar non ketemu sama ibunya non tanpa tuan Aska tau. Tapi saat itu resikonya non harus bisa kasih tau ibunya non kalau non sama tuan Aska memang ada masalah. Gak ada solusi lain non. Kecuali ibunya non tinggalnya di luar negeri."
Sassya manggut-manggut mendengar penjelasan bi Sumi yang panjangnya sudah seperti jalan tol. Sepertinya ia memang harus menyusun rencana matang,mulai plan a,b,c,dan seterusnya. Pasalnya kali ini ia minggat dengan membawa dua nyawa,nyawanya dan nyawa sang anak yang kini bersemayan dalam perutnya. Jadi harus pintar kucing-kucingan.
"Biarin aja dah si otor mumet mikirin alur". Batin Sassya sambil tertawa jahat.
♡♡♡
__ADS_1
Tiga hari berlalu setelah Sassya mengetahui jika dirinya kini sedang berbadan dua. Ia juga kemarin sudah mengajak Aska berkunjung ke rumah mamanya,dan sesuai rencana. Sassya berhasil membuat mamanya percaya jika ia akan sibuk akhir-akhir ini. Jadi kemungkinan berkunjung dua kali seminggu akan sulit.
Aska yang mendengar rencana Sassya sedikit heran. Namun karena tidak merasa curiga pada apapun,ia memilih mengiyakan saat Sassya meminta persetujuannya. Lagipula bukankah itu bagus? Jadi jatah malam minggunya bisa nambah empat kali lipat. Kira-kira begitulah batin Aska saat itu.
♡♡♡
Malam ini berbeda dari hari biasanya. Tak ada semangat sedikitpun dalam diri Sassya. Berat sekali rasanya melaui malam ini.
"Belum juga pergi,masa udah nyesek gini." Batin Sassya sambil mengamati setiap sudut ruangan kamarnya dan Aska. Hatinya terlalu nyeri membayangkan hari esok.
Besok pagi-pagi sekali,ia akan pergi dari rumah ini dengan di bantu oleh bi Sumi.
Apakah ia akan merindukan pelukan Aska?
Apakah ia akan merindukan momen di mana Aska memarahinya?
Apakah ia akan merindukan momen benci sekaligus cinta pada pria yang kini akan menjadi ayah dari calon anak mereka?
"Fix! Gue bulol banget kali ini." Batin Sassya sambil menangis. Akhir-akhir ini ia mudah menangis.
Melihat Aska datang,Sassya buru-buru mengusap kedua sudut matanya yang masih basah. Namun bukannya berhenti menangis,ia malah makin menjadi-jadi terisak saat Aska mulai mendekat.
"Hei..."
Aska mempercepat langkahnya saat menyadari ada yang tidak beres dengan sang istri.
"Sasa,kenapa? Kenapa tiba-tiba menangis? Kau sakit?" Aska segera mengecek subu tubuh Sassya mengira jika wanita itu demam atau bagaimana.
Sassya menggeleng."T..tuan,boleh aku memelukmu?" Tanya Sassya pada Aska dengan tatapan memelas.
Aska mengernyit."Memeluk? Kenapa tumben sekali?"
"sebetar saja. Apa boleh?"
__ADS_1
"Kau yakin hanya peluk?" Aska berkata sambil mengerling nakal. Menggoda sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan saat menangis.
"Kenapa dia seperti candu ya?" Batin Aska.
"Tapi aku kan belum putus dengan Chintiya. Ngomong bagaimana kabar Chintiya. Semenjak kembali ke eropa dia belum menghubungi ku lagi. Aneh."
Batin Aska lagi.
"Tuan..." Sassya mengerecutkan bibirnya marah. Namun itu malah membuat Aska semakin gemas dan langsung melahap bibir Sassya tanpa ampun.
Tangannya sudah bergeliya. Namun segera di hentikan oleh Sassya. Gadis itu malah melingkarkan tangan kecilnya ke tubuh kekar Aska dengan kepala tersandar di dada Aska.
Ia menghirup aroma tubuh Aska sedalam-dalamnya. Ia pasti akan merindukan aroma maskulin pria satu ini.
"Bagaimana bisa aku menjauh,jika aroma tubuh tuan saja membuatku rindu." Batin Sassya. Pelukannya semakin erat.
"Tuan." Sassya melepas pelukannya dan menatap Aska dalam. "Bisakah malam ini tuan bersikap romantis?"
Aska semakin bingung dengan tingkah aneh Sassya. "Sebenarnya ada apa denganmu? Kau terlihat sangat aneh malam ini. Seperti bukan dirimu,kau mabuk?"
Sassya menggeleng."Boleh?" Tanyanya.
Aska menggaruk tengkuknya yang mendadak merinding melihat kelakuan aneh Sassya.
Tumben-tumbenan wanita itu berani menunjukkan sisi manjanya. Aska sangat tau jika Aska adalah wanita yang paling anti menunjukkan sisi manjanya pada dirinya.
Baru malam ini lah Sassya bertingkah seolah ia akan pergi.
Namun karena tak mau di buat pusing oleh kelakuan Sassya. Terpaksa Aska menuruti kemauan Sassya. Di mulai dari permintaan Sassya yang menyuruhnya menyanyikan layu 'Melukis Senja milik Budi Doremi',di lanjutkan dengan mengusap kepala Sassya hingga gadis itu tertidur.
Intinya malam itu tak ada kegiatan panas apapun.
♡♡♡
__ADS_1
Sambil nunggu aku lanjut up. Mampir dulu ya ke novel temen aku ini. Baca dulu sinopsisnya....