Tautan Takdir

Tautan Takdir
Banyak Perhatian


__ADS_3

"Udah mama tenang aja. Kan tadi Sassya udah jelasin kalau Aska itu memperlakukan Sassya dan anak yang ada di dalam kandungan Sassya dengan baik. Semua nyidamnya Sassya juga di turuti kok ma,mama gak usah kahwatir ya."


Ujar Sassya untuk yang ke sepuluh kalinya sebelum ia berpamitan keluar dari ruangan sang mama. Sassya berusaha meyakinkanMelissa yang tampak begitu khawatir karena melihat kedatangan sang putri yang seorang diri tanpa sang suami padahal jelas-jelas putrinya tengah hamil.


"Yakin kamu? Gak bohongin mama kan?"


"Ya ampun mama,gak percayaan banget sih sama anaknya. Apa perlu Sassya telpon suami Sassya biar dia jemput Sassya ke sini?"


"Emang suami kamu gak kerja? Kalau gak sih boleh-boleh aja. Biar mama yakin."


Sassya menepuk jidatnya kesal. "Mamaku sayang. Kan tadi Sassya udah bilang kalau Aska itu gak bisa nganter karena dia masih kerja,ya berati sekarang masih kerja dong ma. Makanya Sassya gak mau ganggu,tapi kalau mama nyuruh ya terpaksa."


Sassya berpura-pura merogoh tasnya untuk mencari handphone. Bertingkah seolah ia akan menghubungin Aska.


"Sayang,jangan." Cegah Melissa dengan raut sungkan.


"Gak usah di paksa kalau suami kamu sibuk. Mama juga enak sama suami kamu,nanti kesannya kayak mama ngeraguin dia lagi,mama takut suami kamu malah tersinggung. Lebih baik tidak usah di hubungi,kasian Askanya juga. Dia pasti sibuk banget kan?"


Sassya bersorak menang di dalam hatinya. Dengan tampang meyakinkan,ia kembali berkata.


"Aska tuh emang sibuk banget ma. Makanya itu,Sassya ngerepotin Zee aja. Zee kan kaki tangannya banyak. Gak kayak Aska,kaki tangannya cuma Alex. Soalnya kan Sassya udah berhenti kerja. Lagipula walaupun sibuk,setiap Sassya butuh. Aska pasti selalu ada kok,makanya sesekali Sassya mau jadi istri berbakti yang gak ngerepotin suami." Jelas Sassya dengan raut serius. Cocok kalau jadi artis sinetron.


"Iya juga sih. Ya udah deh. Kalau gitu,kamu boleh balik sama kakak kamu. Ingat jaga cucu mama baik-baik. Jangan sampai cucu mama kenapa-napa karena mommynya gak menjaga kandungan dengan baik,paham kan? Kamu juga jangan sampai kelelahan. Aska itu ngelarang kamu kerja,pasti biar kamu gak capek. Jadi kamu jangan bandel ya."


Titah Melissa pada Sassya yang hanya di simpan wanita itu di ujung kupingnya. Toh ngapain di masukkin,karena semua yang ia katakan pada mamanya tadi adalah kebohongan.


Andai mamanya tahu,jika saat ini dirinya sedang kabur dari rumah Aska. Mamanya mungkin sudah serangan jantung karena kaget.


"Ya udah ma,kalau gitu Sassya ke tempat mama Diana sama Zee dulu ya. Mau nyusul Zee sekalian pamitan sama mama Diana. Soalnya kan Zee harus balik ke kantor lagi. Gak enak juga kalau ngerepotin lama-lama."


"Iya,hati-hati ya. Bilangin Zee biar gak ngebut. Kamu kan tau dia hobi banget kesurupan Palentina Rosso kalau lagi bawa mobil."


"Iya mam. Bye...."

__ADS_1


Sassya memeluk Melissa sebentar,sebelum akhirnya keluar menyusul ke ruangan Diana.


♡♡♡


Sementara di ruangan Diana,Zee kini tengah memberi wewenang pada mamanya agar ikut menjaga rahasia hubungan Aska dan Sassya. Karena seperti yang Zee tau,mamanya ini juga ikut mencari informasi.


Jadi sedikit banyak,mamanya pasti memegang salah satu rahasia terbesar Sassya dan Aska.


Jadi Zee berusaha mewanti-wanti agar mulut mamanya tidak berubah jadi emak-emak rempong dan juga ember bocor.


"Bisa kan ma?" Tanya Zee sekali lagi.


Diana mengangguk."Tenang aja sayang,kalau sama mama. Rahasia kamu aman." Diana berkata sambil memperagakan gerak mengunci mulut menggunakan tangannya.


"Rahasia apa tante?"


"Eh.."


"Loh nak Sassya,ayo masuk sayang. Ini,mama sama kakak kamu lagi ngebahas kejutan buat ulang tahunnya Davian. Nah rencananya kita mau bikin suprise rahasia gitu,jadi yang tau cuma Zee,Clara,mama sama papanya Zee. Gitu sayang."Bohong Diana dengan lancar. Ibu-ibu satu ini juga bisa di nobatkan jadi aktris sinetron.


Sassya hanya ber'oh' ria untuk menanggapi cerita Diana. Lagi pula ia sudah tidak sedekat itu dengan kerabat inti William. Tak mungkin ia ikut campur terlalu dalam,ia cukup tahu diri.


"Ya udah deh,lo udah selesai ngobrol-ngobrol sama nyokap lo?" Tanya Zee mengalihkan pembicaraan.


Sassya mengangguk."Udah. Kebetulan mama juga masih ada kerjaan dan ini juga masih jam kerja lo kan? Kalau terlalu lama,gue juga yang gak enak."


"Okelah,berati lo mau langsung di anterin pulang nih?"


Sassya mengangguk."Gak ada urusan lain juga kan?"


"Iya gak ada." Jawab Zee singkat.


Setelah itu ia beralih pada Diana. "Zee pamit anterin Sassya ya ma. Abis itu Zee ke kantor lagi,mama jangan terlalu kelelahan kerjanya. Kalau sampai mama sakit,Zee bakalan marah loh. Zee bakalan suruh papa tutup toko kue mama,kalau mama terlalu forsir kerjanya."

__ADS_1


"Iya sayang. Udah deh,mama tuh bukan anak kecil." Diana berkata sambil mencubit gemas pipi Zee.


"Harusnya tuh mama yang wanti-wanti kamu. Coba liat kegiatan kamu,mana kuliah,ngurusin perusahaan. Kamu tuh yang harusnya banyak istirahat. Gak baik,mana masih muda lagi." Goda Diana lagi.


Zee hanya manyun mendengar sindiran sang mama.


Lain halnya dengan Sassya,wanita hamil satu itu justru merasa bersalah mendengar ucapan Diana. Ia merasa jika dirinya semakin menambah beban Zee dengan kehadirannya dan sang anak.


"Apa gue kabur lagi aja ya? Tapi kan gue gak punya modal. Tapi gue juga gak enak sama Zee,duh gimana ya?"


Batin Sassya resah.


"Sya. Ayo pulang,kenapa lo malah bengong?" Tanya Zee bingung. Ia sudah selesai berpamitan dan akan keluar dari ruangan Diana. Tapi ia malah mendapati Sassya bengong di tempatnya.


"Sya..!"


"Eh,iya...! Sorry,kenapa Zee?"


Zee menatap Sassya curiga."Lo ngelamin apa sih?" Tanyanya menyelidik.


"Gak. Gue gak ngelamunin apa-apa. Cuma tadi lagi gak fokus,gue tiba-tiba kepikiran ice cream. Lo keberatan gak kalau nanti kita singgah di minimarket?"


"Nanti kita mampir. Sekarang pamitan dulu gih sama nyokap gue,biar cepat kelar urusannya."


"Oh iya lupa." Cengir Sassya tak enak hati.


"Sassya pamit dulu ya tan. Maaf banyak ngerepotin,makasih juga ya kuenya tadi. Enak banget tan,Sassya sampai bungkus buat di bawa pulang. Makasih ya tan."


"Iya sama-sama. Hati-hati juga ya,jaga diri kamu dan kandungan  kamu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi mama. Ingat,anak kamu itu cucu saya juga. Jadi jangan anggap saya orang asing." Ujar Diana.


Mendengar ucapan Diana,Sassya mendadak terharu. Ia tak menyangka ibu tiri Zee ini bisa begitu perhatian padanya. Rasanya ia mendapatkan perhatian berlipat dari banyak orang yang selama ini tidak ia sadari.


"Makasih banyak tante." Ujar Sassya sambil menghambur ke pelukan Diana.

__ADS_1


__ADS_2