Tautan Takdir

Tautan Takdir
Takdir Kita


__ADS_3

Aska mematung merasakan pelukan erat dari wanita yang pernah menghiasi hari-harinya selama tiga tahun yang lalu. Ia tidak menyangka setelah pertemuan terakhir kali ia akan di pertemukan lagi dengan sang mantan.


Tapi ini bukan momen yang tepat,kenapa di saat pertemuan mereka di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia mereka,malah Chintiya kacaukan dengan pelukan mautnya ini. Kenapa wahai takdir?


Aska membantin sambil memaksa agar Chintiya melepaskan pelukannya.


Pelukan Chintiya melonggar,kini wanita itu tampak tengah menunduk. Hampir saja Aska mengangkat dagu Chintiya dengan tangannya,namun di luar dugaan. Chintiya mendongak dan menyambar pipi kanan Aska dengan ciuman kilat.


"Terimakasih Aska."


Ucapnya santai sambil mengangkat kepalanya ke arah wajah Aska namun bola matanya ia arahkan ke arah lain agar tidak menatap Aska. Karena biasanya ia akan mual jika melihat wajah Aska.


Semua orang termasuk Aska dan Sassya masih tampak terdiam menunggu apalagi yang akan di lakukan oleh mantan Aska tersebut.


"As.." Lirih Chintiya lagi.


"Terimakasih untuk hubungan kita selama tiga tahun ini. Kamu menjaga dan menjaga aku dengan baik,meskipun kamu tau orangtua kamu menentang hubungan kita tapi kamu tetap mempertahankan bahkan mau melakukan hal apapun agar bisa bersamaku. Kamu rela menjalani pernikahan dengan orang yang saat baru kamu kenal dan dengan bodohnya aku justru membiarkanmu karena egoku."


Chintiya kini beralih menatap Sassya dan berjalan pelan ke arah Sassya. Setelahnya ia menarik pelan tangan Sassya agar mengikutinya,keduanya berjalan beriringan hingga kini posisi Sassya ada di hadapan Aska sedangkan Chintiya ada di samping Sassya.


Chintiya menarik tangan Sassya dan juga tangan Aska kemudian menyatukan keduanya hingga saling menggenggam.


"Sya,Sky. Kalian adalah takdir,takdir yang di pertemukan dengan cara yang tidak sengaja. Awalnya terdengar bodoh dan aneh ketika aku dengan teganya menyetujui ide orangtua Aska agar Aska menikah untuk mendapatkan impian kami. Tapi setelah melalui banyak hal hingga sampai di detik ini,aku sadar baik kau dan Aska. Aku dan Rama adalah sebuah takdir yang di pertemukan lewat cara proses rumit yang akhirnya mengantarkan kita ke sini."


"Teruntuk kamu Aska,sekarang dia adalah wanitamu yang harus kamu jaga." Chintiya menatap Aska dengan tulus sambil memendam rasa mualnya. Sesaat setelahnya ia menunduk karena takut mual di tempat.


"Jaga Sassya seperti tekadmu yang ingin memperjuangkannya. Aku sudah melepaskan kamu sepenuhnya sama seperti ucapanmu waktu itu."


"Dan teruntuk kau Sassya. Aku mengembalikan Aska padamu,anggap saja aku meminjam Aska selama tiga tahun yang lalu. Aku sudah ikut menjaga dan menghiasi hari-hari Aska selama tiga tahun yang lalu dan sebaliknya,kau menjaga Rama sebelum akhirnya ia di pertemukan denganku. Kita sepertinya memang di takdirkan untuk bertemu."


"Iya dan semoga lewat takdir yang luar biasa ini. Akan banyak kebahagiaan lain ke depannya."


Rama muncul di belakang ketiga orang itu dengan raut hangatnya. Ia menatap Aska,Sassya dan Chintiya secara bergiliran. Kemudian ia meraih tangan Chintiya dan menggenggamnya dengan erat.


"Sekarang tugasmu menjaga Chintiya sudah selesai. Giliran ku untuk membahagiakannya. Sebagai gantinya,aku juga punya amanah untukmu."


Rama menarik tangan Sassya keumdian menautkannya ke tangan Aska.


"Jaga sahabatku ini. Kau ingat,jika sekali lagi kau menyakitinya. Maka..."


"Aku sebagai sepupu yang baik siap menggantikan tugas Aska dalam menjaga Sassya."


Celetuk Ray dengan keras dari balik punggung Aska membuat semua tamu undangan tertawa.


Ucapan Ray membuat Aska hampir marah,namun Sassya dengan cepat menahan tubuh Aska dengan membalikkannya dan berisap memeluk Aska,namun karena gerakannya tidak terencana. Aska dan Sassya malah saling menempelkan bibir mereka membuat adegan ciuman tanpa aba-aba itu berlangsung live.


Seluruh tamu undangan bersorak riuh melihat adegan barusan. Belum usai keriuhan barusan,Rama yang tak mau kalah ikut menarik tengkuk Chintiya dan memberinya ciuman lembut.

__ADS_1


Hal itu membuat keriuhan bagi tamu undangan dan para jomblo yang tengah membaca cerita ini.


Sedangkan di barisan tamu undangan,tampak Delice di tutup matanya oleh Kaivano. Sedangkan Zee di tutup matanya oleh Arkhan. Dua gadis kecil yang sama-sama belum menikah itu tidak di anjurkan melihat adegan barusan,karena tidak baik untuk otak dan jantung.


Ciuman akhirnya berakhir setelah durasinya mencapai satu menit. Tampak wajah-wajah para pengantin itu memerah,entah karena malu atau malah tengah menahan nganu. Hanya mereka yang tau jawabannya. Saya mah tidak batin otor.


Kedua pasangan pengantin itu akhirnya berbalik,kembali menaiki pelaminan dengan cara beriringan.


Alunan lagu kembali terdengar bersamaan dengan pemasangan cincin sekaligus pengucapan janji suci yang nanti dan seterusnya akan mengikat mereka sampai maut memisahkan.


Selamat Aska Sassya. Rama Chintiya. Seluruh warga noveltoon termasuk otor mengucapkan semoga langgeng selamanya....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥(love sekebon.)


♡♡♡


Pesta mewah tadi akhirnya resmi berakhir. Saat ini seluruh tamu undangan kecuali keluarga dan kerabat dekat keempat mempelai. Semuanya sudah di bubarkan.


Zee,Sandra,Clara,Delice dan Agatha yang merasa Sassya sudah menjadi bagian dari persahabatan mereka pun akhirnya dengan haru memeluk Sassya secara bergiliran.


"Selama Sassya Bellvara Ghatama. Gue gak tau takdir apa yang buat dewi fortuna sebaik ini sama lo,tapi satu hal yang mau gue bilang. Lo wanita beruntung,semoga nanti kalau anak lo cowok. Anak lo jodoh anak gue,biar kita bisa besanan. Lumayan kan dapat besan orkay." Ujar Agatha dengan tampang tak berdosanya sambil mengusap perut buncitnya dan perut Sassya secara bergiliran.


Calon anak Agatha memang sudah di ketahui jenis kelaminnya adalah perempuan,melalui USG beberapa minggu lalu.


"Alah,anak lu nanti bakalan tua pea." Delice berkata sambil menoyor pelan kepala Agatha sekaligus mendorong pelan Agatha agar menyingkir dari depan Sassya.


"Selamat ya Sya. Langgeng terus dan gue sama istri gue kayaknya harus pamit. Takut dia kecapean." Ujar Nathan sambil memeluk pinggang Agatha dengan posesif.


Sassya mengangguk dengan senyuman tulusnya.


Usai menyalami Aska dan Sassy secara bergiliran. Tak lupa Agatha dan Nathan menyalami Chintiya dan Rama juga.


Adegan salam-salaman tersebut terus bergilir hingga sampai ke posisi Zee.


Sassya menatap sedikit takut pada gadis minum ekpsresi yang sayangnya adalah kakaknya itu.


Zee tidak terlihat akan mengulurkan tangan. Tapi ia justru mengangkat tangannya ke hadapan Sassya membuat Sassya memejamkan matanya bersiap menerima perbuatan Zee.


"Grep.."


Zee menarik Sassya ke dalam pelukannya dengan gerakan slowmotion nan lembut.


"Selamat adik. Sebagai kakak gue turut senang liat lo bisa sampai di titik ini." Ucap Zee membuat mata Sassya basah.


"Makasih Zee. Makasih kakak." Balas  Sassya sambil mengeratkan pelukannya pada Zee.


Zee tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Sassya dengan lembut.

__ADS_1


"Sama-sama. Udah jangan melow gitu." Ujar Zee setelah pelukan mereka terlepas.


Zee kemudian beralih pada Aska membuat Aska berinisiatif mengulurkan tangannya.


Aska kira Zee akan menyalaminya,namun di luar dugaan Zee malah menarik Sassya dan memaksa tangan Aska agar merangkul tubuh Sassya.


"Udah gak usah salaman. Buka puasa sana,kasian kan udah satu bulan juga." Celetuk Zee membuat mata Aska berbinar.


"Terimakasih kakak ipar."


Aska menarik tangan Zee dan mengecup punggung tangan Zee membuat Arkhan yang berada di belakang Zee meradang dan Sassya melotot tajam.


Adegan baku hantam hampir terjadi,untungnya Aska segera kabur sambil menggendong Sassya dan membawanya lari ke kamar yang sudah di siapkan.


Kini giliran Rama dan Chintiya.


Zee menatap keduanya dengan raut wajah yang cukup hangat. Ya walaupun tidak dekat,tapi mereka juga pasangan berbahagia yang wajib di beri ucapan selamat.


"Selamat tuan Ramadika dan Nona Chintiya." Ucap Zee formal.


Rama tersenyum tak kalah hangat begitupun dengan Chintiya. Mendapat ucapan langsung dari pemilik perusahaan terbesar se-Asia tentu menjadi momen langka yang di gadang-gadangkan oleh banyak orang.


Dan mereka salah satu pasangan beruntung karena bisa mendapatkan kehormatan tersebut melalui perantara Sassya.


"Terimakasih nona Michelle. Saya dan istri saya merasa sangat  tersanjung karena kehadiran nona Michelle. Sekali kami ucapkan terimakasih." Ucap Rama sungguh-sungguh dengan raut sopan.


Zee mengangguk."Teman Sassya adalah teman ku juga. Tidak perlu sungkan,suatau saat jika butuh bantuan atau punya keperluan jangan sungkan untuk menghubungi aku atapun teman-temanku."


Ujar Zee dengan bahasa santainya.


Rama kembali mengangguk cepat."Sekali lagi terimakasih nona Michelle."


"Simpan terimakasihmu itu untuk hal lain. Karena aku punya hadiah untuk kalian."


Zee beralih mengambil sebuah papper bag yang tadi di pegang oleh Arkhan kemudian menyerahkannya pada Chintiya.


"Pakai untuk nanti malam. Beri servis full pada suamimu." Bisik Zee membuat wajah Chintiya memerah saat menerima papper bag tersebut.


Rama menatap istrinya heran. Namun setelah membaca logo yang ada papper bag tersebut,ia mengerti kenapa istrinya malu.


Dengan senyum sumringah ia menatap Zee. Belum sempat ia berkata atau bereaksi untuk berterimakasih,Zee sudah lebih dulu mencegahnya.


"Tidak perlu mengatakan apapun. Kembalilah ke kamar kalian dan bersenang-senanglah." Ucap Zee sambil membalikkan tubuhnya dan menggandeng Arkhan menjauhi Rama yang sudah mengangkat Chintiya dan membawanya lari ke kamar mereka.


"Selamat bersenang-senang para pengantin baru..."


♡♡♡

__ADS_1


Like vote komen...


__ADS_2