Tautan Takdir

Tautan Takdir
Mencari


__ADS_3

Usai sarapan pagi,Zee kembali ke kamarnya. Di sana sudah tersusun rapi sebuah koper dan sebuah kantong kresek berukuran cukup besar. Ternyata para pelayan sudah menjalankan perintah Zee.


Karena merasa semuanya sudah beres Zee pun langsung bergegas mandi mandi dan bersiap-siap ke kantor. Hari ini ia harus menyelesaikan pekerjaan dengan cepat,karena nanti sore ia akan berkunjung ke rumah Sassya.


Sebelum ke meja makan,Zee memilih menelpon pembantu di paviliun untuk membawa kantong kresek yang berisi boneka-boneka Sassya agar di masukkan ke dalam bagasi mobilnya.


Setelah selesai menelpon,Zee langsung turun ke bawah dengan satu tangan membawa koper berisi pakaian-pakaian,sepatu dan make up milik Sassya yang ia bawa sebagian.


♡♡♡


"Loh sayang? Mau kemana?"


Zee menoleh ke arah sumber suara,tampak mama dan papanya juga tengah berjalan ke arahnya. Sepertinya mereka juga baru keluar dari kamar.


"Mau ke kantor lah,memangnya kemana lagi?" Tanya Zee sedikit heran dengan pertanyaan mamanya yang terdengar aneh.


"Kamu ke kantor bawa koper?" William ikut bertanya dengan nada heran.


Sedangkan Zee baru menyadari jika ada koper di tangan kananya.


"Ah ini....,itu pa...emmm,di sini tuh ada pakaian Zee yang kemarin-kemarin di beli. Tapi kan gak pernah ke pake,sayang aja gitu kalau di simpen di lemarin. Jadi Zee bawa aja,mau Zee kasih ke panti deh kayaknya."


Jawab Zee berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan itu baju milik Sassya dan akan mengantarkannya ke rumah Sassya. Bisa-bisa papanya marah lagi,Zee tau papanya belum bisa memaafkan perbuatan Sassya dan Melissa.


"Tapi bukannya itu koper yang semalam....."


"Iya ma ini koper yang Zee kemas semalam. Benar banget mama gak salah lihat,ini koper lama Zee. Kebetulan warna pink,waktu beli Zee salah pilih warna ha..ha..ha..."


"Udahkan pa,ma. Zee berangkat dulu,kalian tenang aja pokoknya semua aman,di sini gak ada narkoba hehe."


Zee berbicara gugup sambil mengedip-ngedipkan matanya pada Diana yang tampak keheranan melihar kelakuan putrinya yang seperti menyembunyikam sesuatu. Namun ia tidak mau mengorek lebih lanjut,baginya itu privasi Zee. Jika saatnya sudah tiba juga pasti Zee akan cerita,jika tidak maka biarlah tetap jadi privasi. Diana bukan ibu yang suka mencampuri privasi orang lain dengan paksa.


"Ya sudah,ayo bareng ke depan. Mama sama papa juga mau berangkat kerja ini." Ujar diana membuat Zee bernapas lega,setidaknya sang mama bisa diajak kompromi.


"Papa hari ini ke kantor?" Tanya Zee mengingat ucapan Diana tadi.


William mengangguk. "Papa ke kantor Davian,katanya dia mau ke luar kota nanti siang. Mungkin pulang besok,jadi papa handle kantor dia sementara waktu."


Jawab William,sedangkan Zee mengangguk paham. Papanya memang masih sering membantu Davian atau Zee dalam masalah kantor. Termasuk menggantikan keduanya jika salah satu dari mereka sakit atau ada urusan.

__ADS_1


Apalagi di kantor Zee,papanya masih selaku komisaris. Walau jarang ke kantor,William tentu masih memantau perusahaan miliknya yang kini dikembangkan oleh Zee.


♡♡♡


"Zee berangkat ma,pa!!" Pamit Zee pada pada kedua orangtuanya.


William mengangguk seraya mencium pucuk kepala Zee.


Diana yang berada di samping William pun melakukan hal yang sama.


"Iya hati-hati!! Jangan keluyuran Zee, pulang kerja langsung ke rumah."


Titah Diana setelahnya.


Kemudian Diana beralih pada Bella dan Jessie yang sudah berdiri di belakang Zee.


"Kalian juga,pantau putri Saya. Jangan sampai dia lepas pengawasan, Zee itu masih kecil. Bahaya kalau gak diawasin!!"


Zee hanya bisa memutar bola mata malas mendengar ucapan mamanya. Kecil dari sudut mananya coba,dia itu sudah dua puluh tahun bukan dua tahun.


"Lebay banget deh emak gue." Batin Zee.


"Udah deh ma gak usah lebay,Zee berangkat muaachhh." Zee mencium sekilas pipi Diana kemudian masuk ke dalam mobil dan berangkat ke kantor.


♡♡♡


Tentu saja kelakuan Zee membuat beberapa karyawan kantor bergidik heran,bahkan Jessie dan Bella ikut-ikutan heran. Tampaknya Zee salah minum obat tadi pagi,karena biasanya gadis itu hanya mengangguk dengan wajah datar jika ada yang menyapanya.


Hingga sampai di depan ruangannya Zee bukannya masuk ia malah berjalan ke ruangan ujung,dan membuka pintunya dengan bantingan yang sedikit keras.


"Gubrakk!!"


"Selamat pagi Sandra Amelia!!" Sapa Zee dengan wajah tak berdosanya, padahal jelas-jelas ia sudah membuat Sandra kaget.


Sedangkan Sandra yang di sapa malah menatap sinis." Ngapain lo ke sini? Informasi semalam masih kurang?"


"Sinis amat!! Suka-suka guelah,orang ini kantor gue."


"Iya nona Michelle,ini emang kantor lo. Tapi di sini ruangan gue,dan lo hanya akan datang ke sini kalau ada maunya. Iyakan?"

__ADS_1


"Yup,pinter banget lo." Jawab Zee cepat membuat Sandra memutar bola mata malas.


"Cepet sebutin,gue masih banyak kerjaan!!"


"Sandra yang cantik,bantuin gue ya diruangan. Kerjaan gue banyak banget sumpah,lo tau kan nanti sore gue mau ke alamat yang lo kirim semalam. Jadi gak ada salahnya lo bantuin gue,ya please!!"


Sandra menggeleng cepat.


"Gak buat kali ini. Lo selesain sendiri pekerjaan lo,lo lupa semalam lo kirim pesan buat gue biar gue handle rapat. Gue bahkan handle dua rapat sekaligus siang ini,belum lagi ini kerjaan gue udah numpuk lo kira lo doang yang sibuk?"


"Tapi kan..."


"Gak ada tapi-tapi,atau lo mau sekalian handle rapat?"


"Ish gue mana sempat,lagian kan ada  Marvin kenapa gak dia aja yang ngerjain kerjaan lo?"


"Bego banget ni orang,ya gak bisa lah nona Michelle. Marvin itu nanti nememin gue rapat,jadi dia harus selesain pekerjaan dia,nah kalau gue juga harus bantu lo terus yang ngehadirin rapat siapa? Arwah gue?"


"Ishh, ya udahlah. Gue kerjain sendiri!!"


Sandra tersenyum puas melihat raut wajah Zee yang tampak frustasi. Biasanya ia yang dibuat frustasi oleh Zee,tapi kali ini sepertinya dewi fortuna sedang tertidur sehingga tidak sempat memberi keberuntungan pada Zee.


"Jangan lupa tutup pintunya Zee!!" Teriak Sandra saat melihat Zee sudah melenggang keluar. Namun bukannya menutup pintu,Zee malah berpura-pura tidak dengar. Beruntungnya ada Bella dan Jessie yang mendengar teriakan Sandra.


♡♡♡


Sore hari,di kantor......


Zee merentangkan kedua tangannya selebar mungkin untuk neregangkan badannya yang terasa pegal karena seharian berkutat dengan tumpukan dokumen yang seperti tidak ada habisnya.


Bahkan gadis itu melewatkan makan siangnya saking sibuk bekerja.


"Tokk..tok....tok...."


Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan peregangan Zee. Gadis itu berteriak sedikit kencang menyuruh orang di luar sana agar masuk.


"Permisi nona,apa anda jadi pergi? Sekarang sudah pukul 3 sore,saya takut nanti nona terlambat pulang ke rumah dan tuan besar akan marah."


Zee melihat jam di pergelangan tangannya,benar saja jam tangannya sudah menunjukkan pukul tiga sore.

__ADS_1


Gadis itu segera beranjak dari dari kursi kebesarannya dan mengambil tas kecilnya kemudian berlalu ke luar ruangan diikuti dua bodyguardnya.


♡♡♡


__ADS_2