Tautan Takdir

Tautan Takdir
Kau Menyetujuinya??


__ADS_3

Sassya membaca setiap setail yang tertera dalam selembar kertas yang baru saja di sodorkan Alex padanya beberapa menit tadi. Beberapa kali keningnya berkerut,terkadang matanya melotot,kadang juga ia menggeleng-geleng. Sassya tak sadar jika ekpresinya menarik perhatian Aska dan mengundang senyum smirk di wajah pria tampan itu.


Setelah beberapa menit berlalu,Sassya akhirnya memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam map dan mulai menatap Aska dengan raut wajah kesal.


"Tuan,kenapa saya merasa jika semua syarat yang tertera di sana itu mengutungkan anda?"


"Memangnya kenapa? Aku yang buat,terserah padaku mau menyebutkan apa di situ. Apa kau lupa jika peranmu di situ hanya seorang pelayan berkedok istri."


"Tapi bukankah nanti pernikahan kita akan resmi secara negara?"


"Cih,apa menurutmu aku akan mengadakan acara pernikahan seperti yang ada di dalam otakmu itu?"


Sassya mengangguk dengan polosnya.


"Bodoh!! Jangan bermimpi,kau dengar ini baik-baik. Begitu kau tanda-tangani surat itu dan menyetujui kesepakatannya. Kita akan resmi menjadi suami istri. Tidak ada acara pernikahan,tidak ada resepsi,aku tidak membutuhkan itu."


"Lalu bagaimana kita bisa di sebut suami istri jika akta nikah saja kita tidak punya?? Memangnya orangtua tuan akan percaya??"


"Ckk...aku tidak sebodoh dirimu. Aku akan tetap mendaftarkan pernikahan kita secara resmi baik agama maupun negara. Tapi tidak ada acara pernikahan seperti yang ada di otakmu itu. Memang kau pikir apa yang tidak bisa aku lakukan?"


"Tidak ada,tuan bisa melakukan apapun."


"Jawaban yang bagus. Jadi bagaimana? Kau sudah setuju dengan kesepakatan kita?"


" 'Kesepakatan kita' yang mana yang tuan maksud? Bukankah di situ hanya ada persyaratan dari tuan sedangkan saya belum sama sekali membuat syarat apapun."


"Kau tidak perlu membuat syarat apapun, karena di sini aku lah aturan hidup yang harus kau patuhi."


"T..tapi tuan,kita kan hanya menikah kontrak. Aku hanya akan menjadi istrimu saat ada kedua orangtua mu selebihnya aku akan jadi pelayan di rumahmu,dan karena aku hanya pelayan bisakah tuan berjanji suatu hal padaku?"


Aska mengangkat kedua alisnya tanda bertanya."Apa maksud mu?"


"T...tuan tidak akan melakukan hubungan di luar konteks 'tuan dan pelayan'. Maksud saya tidak ada hubungan suami istri selayaknya 'suami istri'. Tuan mengerti maksud saya kan?"


"Aku mengerti!! Tapi kau jangan lupa jika aku adalah aturan hidup yang harus kau patuhi. Jadi jika suatu saat aku tiba-tiba "menginginkannya" kau tidak bisa menolak."


Sassya menggeleng dengan kedua mata melotot nyalang. Tangannya menyilang ke dada seolah melindungi dirinya.

__ADS_1


"Mana bisa begitu!! Tuankan tidak mencintai saya,kita hanya menikah karena keperluan masing-masing."


"Kau benar!! Aku memang tidak mencintaimu dan kita menikah karena saling membutuhkan,tapi aku adalah laki-laki normal yang memiliki nafsu."


"Kalau begitu tuan lampiaskan saja pada pacar tuan!!" Tantang Sassya dengan berani.


Tatapan Aska berubah nyalang." Kau!! Tau apa kau soal Chintiya,jangan menyebut pacarku dengan mulutmu itu. Lagipula apa gunanya aku punya istri kalau tidak bisa di sentuh??"


"Aku ini pelayan yang berkedok istri,tuan


jangan lupakan itu." Ujar Sassya membalikkan fakta yang beberapa menit lalu Aska sebutkan.


"Lagipula,aku heran tuan punya pacar tapi masih mencari wanita lain untuk di nikahi. Apa jangan-jangan pacar tuan tidak mau tuan nikahi,melihat sikap tuan yang pemaksa aku yakin pacar tuan pasti jijik punya suami seperti anda."


"Jangan lancang bodoh!! Kau mau aku..."


"Tuan sudalah." Alex memegang bahu Aska sembari menepuknya pelan. "Ini rumah sakit,tuan tidak mau kan di seret ke luar karena di tuduh membuat keributan."


Aska menggeleng.


"Duduk dulu tuan,saya yakin anda pasti haus. Mau saya belikan minuman ke luar?"


"Tapi tuan,bukankah kalian belum selesai bernegoisasi?"


"Aku tidak peduli,lagipula dia juga tidak punya pilihan lain selain setuju."


"Baiklah tuan,kalau begitu saya permisi dulu. Mari nona Sassya ikut dengan saya."


Sassya yang mendapat ajakan keluar langsung beranjak dengan semangat layaknya anak kecil yang mendapat permen dari ibunya.


♡♡♡


Di luar rumah sakit,Sassya langsung menarik tangan Alex untuk menunggunya karena memang lelaki itu berjalan di depannya.


"Eh,nona apa yang nona lakukan??" Tanya Alex dengan ekpresi sangat kaget.


Tak ayal respon Alex membuat Sassya ikut kaget. Pasalnya pria itu mendorong tubuhnya dengan sedikit kuat.

__ADS_1


"Kau itu kenapa? Aku kan hanya bermaksud mensejajarkan langkah kita. Jika kau tidak suka tinggal bilang 'menjauhlah' tidak perlu mendorongku seperti itu. Kalau aku jatuh bagaimana?" Tanya Sassya dengan nada yang benar-benar kesal.


Alex hanya meminta maaf dengan ekpresi datar." Lain kali jangan di ulangi nona,saya masih sayang dengan pekerjaan saya. Saya harap nona juga berhati-hati saat bersikap ke depannya. Jangan terlalu dekat dengan pria karena tuan tidak suka jika miliknya di sentuh orang lain."


"Sassya mengangkat kedua alisnya dengan tampang bingung. Apa maksud tuan??"


"Nona akan mengerti nantinya." Sahut Alex seraya berjalan kembali mendahului Sassya.


Sassya yang melihat kelakuan Alex jadi heran sendiri. "Apa maksud pria itu." batin Sassya.


Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering membuat Sassya mnghentikan langkahnya sejenak. Tertera nama Zee di layar handphonenya.


"Halo Zee." Sapa Sasya begitu panggilan tersambung.


"Kenapa lo nelpon tadi Sya?? Sorry ya gue baru sampe rumah,tadi karna di jalam hujan gue singgah dulu ke cafe buat ngopi."


Sassya terdiam sejenak,sebenarnya ia ingin menceritakan pada Zee perihal sang mama yang hari ini di rawat di rumah sakit. Tapi ia juga takut jika Zee tau,ia akan menyusul ke rumah sakit dan kalau Zee menyusul ke rumah sakit,Zee pasti akan bertemu dengan Aska dan ia akan tahu permasalahan di antara mereka.


"Sya." Panggil Zee heran karena Sassya tak merespon ucapannya.


"Eh,oh iya Ze. Gak papa hehe. Itu,anu...tadi sebenarnya mama pingsan,tapi lo tenang aja,udah di...."


"Pingsan? Mama Melissa pingsan?? Lo di mana sekarang? Di rumah? Gue ke sana sekarang juga.."


"Eh gak usah Zee. Udah malam,masih gerimis lagi. Ini gue di rumah sakit,tadi majikan mama yang nolongin kita. Besok aja deh lo ke sini. Gue kirim alamat rumah sakitnya."


"Beneran?"


"Beneran Zee!! Udah dulu ya,gue mau ke luar nih,beli makanan. Bye.."


"Tut"


Telepon dimatikan secara sepihak oleh Sassya,sebenarnya Zee penasaran dan khawatir dengan keadaan Melissa. Tapi di satu sisi ia juga baru sampai di rumah dan seluruh tubuhnya sangat capek. Butuh istirahat,lagipula Melissa sudah di bawa ke rumah sakit jadi Zee bisa sedikit lega.


Besok ia akan menemui mereka,sekaligus memberi kejutan berupa rumah yang tadi siang berhasil ia dapatkan. Tentu saja ia akan memberikan kepada mereka dalam bentuk kejutan.


♡♡♡

__ADS_1


Gak ada iklan di bawah ini....


Like,vote,komen ajalah yang di kencanginn.... Yaayaaya....


__ADS_2