
Pembukaan hampir sempurna,Sassya juga sudah merasakan sakit yang sepertinya di luar kemampuannya. Rasanya separuh jiwanya sudah hilang dari raganya.
Ia hanya bisa meringis sambil menangis tanpa mampu berteriak lagi. Para tenaga medis juga sudah siaga membawa Sassya kembali berbaring di ranjang.
"Sayang kamu pasti bisa." Ujar Aska mencoba memberi semangat pada sang istri dengan mata berkaca-kaca.
Ia juga tak kuasa melihat betapa menderitanya perjuangan sang istri dalam melahirkan buah hati mereka.
Ia berjanji ada dua wanita yang sama sekali tak boleh ia sakiti di dunia ini. Ibu yang sudah melahirkannya juga sang istri yang saat ini tengah memperjuangkan buah cinta mereka. Kedua orang itu adalah wanita paling berharga yang harus Aska jaga bahkan dengan nyawanya.
"S..sa..sakit b..banget.."
Sassya kembali berbicara dengan napas tersengal dan nada terbata-bata. Selang oksigen sudah di pasangkan ke hidung Sassya. Sedangkan Aska masih berusaha menguatkan istri dengan sesekali mencium kening istri dan mengatakan kata-kata semangat di telinga sang istri.
Sesuatu teras pecah di bawah sana,bersamaan dengan dorongan rasa ingin mengejan. Dan dengan arahan dokter,Sassya menarik napas dalam kemudian mulai mengejan memberi dorongan pada sang bayi agar bisa keluar dari rahimnya.
"Satu...,dua...,tiga...,tarik napasnya bu." Ujar perawat memberi arahan.
Sassya menarik napasnya dengan dalam sembari memperkuat cengkeramannya di tangan Aska. Setelah itu Sassya di minta untuk mengejan,dan sesuai anjuran Sassya mengejan dengan cukup kuat.
Rambut sang bayi mulai keliatan namun kepalanya belum sepenuhnya keluar. Sassya kembali di beri aba-aba untuk mengejan. Percobaan pertam dan ke dua belum berhasil.
Namun ada dorongan terakhir yang sangat kuat dalam diri Sassya ketika percobaan mengejan untuk yang ketiga kalinya.
"Hyya...."
Sassya mengejan sembari berteriak kuat begitupun dengan Aska yang ikut berteriak karena jemarinya serasa patah oleh cengkeraman sang istri.
Tangis pecah seorang bayi laki-laki yang baru saja lahir ke dunia itu terdengar menggema di dalam ruangan bersalin.
"Terimakasih sayang.." Bisik Aska lirih di telinga Sasssya. Ia mencium kening Sassya dengan lembut dan cukup lama dengan napas yang sama memburunya dengan napas sang istri.
Senyum cerah para petugas medis tampak ikut menyambut kelahiran calon penerus perusahaan Ghatama tersebut.
Sementara di sisi lain Sassya dan Aska sama-sama tengah mengatur napas mereka yang masih tersengal karena proses panjang yang berlangsung tadi.
Dokter Zara meletakkan tubuh bayi munggil tadi ke atas dada Sassya dengan posisi kulit saling menempel. Bayi munggil tersebut di biarkan mencari sumber makanannya yang berada di dada sang bunda.
Melihat hal itu Aska yang baru selesai mengatur napasnya tampak menelan ludah gugup.
__ADS_1
"Itu kan dulu milikku." Batin Aska sambil meneguk ludahnya beberapa kali.
Sassya menatap ke arah sang suami dengan tatapan herannya.
"Kamu kenapa?" Tanya Sassya dengan suara nyaris berbisik.
Aska menggeleng. "Tidak kenapa-napa." Ujarnya gugup sambil mengalihkan pandangannya ke arah sang bayi yang sudah menemukan sumber makanannya.
"Anak kita lucu. Duplikat aku semua." Ujar Aska dengan bangga.
Sassya tersenyum kecil mendengar ocehan Aska. Memang benar apa kata Aska,bayi laki-laki yang ada di atas dada Sassya saat ini sangat mirip dengan Aska. Mereka bak dua kertas yang baru keluar dari mesin fotocopy.
Bayi kecil tersebut terus dibiarkan menyusu hingga di rasa telah kenyang,barulah dokter Zara mengangkat tubuh munggil tersebut dari dada Sassya.
Setelah ini bayi munggil itu akan di bersihkan,di timbang,di ukur dan di lakukan rangkaian kegiatan lainnya untuk kesehatan sang bayi ke depannya.
Setelah sang bayi di bawa ke ruangan khusus bayi,kini giliran para perawat yang membersihkan sisa-sisa persalinan Sassya tadi.
Sesekali Sassya meringis saat bagian bawahnya di bersihkan,Sassya juga bisa merasakan jika bagian bawahnya di jahit.
Kata perawat tadi,ada sedikit robekan yany membuat organ intimnya harus di jahit. Melihat sang istri meringis,Aska ikutan meringis. Tangannya kembali Sassya gunakan sebagai tumpuan saat rasa nyeri dan perih menyerang di bawah sana.
Setelah selesai merapikan sarang bermain Aska,kini Sassya di bantu bangun oleh perawat-perawat tadi untuk membersihkan diri.
Kamar yang saat ini di tempati Sassya ukurannya luas,sangat luas. Hampir menyerupai kamar mereka yang ada di rumah,fasilitas yang ada di dalam sana juga lengkap dan pastinya akan sangat menunjang kenyamanan penghuni kamar nantinya.
Bayi Sassya dan Aska yang tadi sudah di bersihkan juga ada di sana. Tengah di pandangi oleh kedua neneknya dengan tatapan kagum sekaligus gemas,apalagi saat melihat pipi bayi yang tampak sangat gembul tersebut.
"Bayi kalian lucu banget nak." Ucap nyonya Ghatama pada Sassya yang baru saja di antar masuk menggunakan kursi roda yang di dorong oleh Aska.
Aska mendorong kursi roda Sassya agar mendekat ke arah ranjang bayi. Kemudian menatap jumaya ke arah sang mommy.
"Anak Aska duplikat Aska kan mom?" Tanya Aska dengan tampang tengilnya.
Mommy Aska mengangguk setuju.
"Iya mirip kamu. Tapi mommy harap nanti kelakuannya tidak mirip kamu,ngeselin dan suka bikin mommy pusing. Amit-amit." Ucap nyonya Ghatama dengan tampang gelinya membuat yang ada di ruangan itu tertawa.
"Sayang,kamu makan dulu. Mama bantu suapin ya?" Ujar Melissa pada sang putri yang baru selesai berjuang melahirkan cucunya itu.
__ADS_1
Sassya mengangguk,perutnya saat ini memang sangat lapar dan butuh asupan. Dengan bantuan Aska,Sassya di dudukkan di ranjang sedangkan Melissa menyiapkan makanan dan membawanya ke hadapan Aska.
♡♡♡
Bersamaan dengan usainya kegiatan makan yang di lakukan Sassya,tampak beberapa orang masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka adalah Zee,Arkhan,Clara,Davian, Agatha,Nathan dan bayi perempuan mereka,ada juga Delice dan Kaivan,dan yang terakhir datang adalah Sandra dan Zergan.
"Sassya,selamat!! Akhirnya elu jadi emak.." Delice yang baru masuk pintu berteriak heboh sambil berusaha memeluk Sassya.
Teman-teman Sassya yang lain hanya bisa menatap Delice dengan tatapan biasa saja. Sudah tidak heran karena di dalam grup mereka,Delice dan Agatha adalah yang paling heboh.
"Makasih Liz.." Ujar Sassya sambil menyambut pelukan Delice dengan erat.
"Sakit gak sih rasanya?" Tanya Clara sambil berjalan mendekat ke arah Sassya.
"Sakitnya pas bayinya belum lahir doang Clar,pas udah liat bayinya. Rasa sakitnya langsung ilang semua. Tanya deh sama Agatha,dia kan yang lebih dulu lahiran."
Ujar Sassya sambil mengarahkan dagunya pada ibu muda yang kini tengah menggendong bayi laki-lakinya.
"Iya Clar,bener kata Sassya." Ujar Agatha menjawab sekenanya.
Ia masih fokus memperhatikan setiap lekuk wajah sang bayi yang kini ada di gendongannya.
"Bener-bener mirip laki lu Sya." Celetuk Agatha setelah cukup lama memandangi wajah sang bayi.
Zee dan Sandra tampak terpancing rasa penasaran. Dua wanita kaku ikut mendekat untuk melihat dengan jelas wajah si bayi.
"Iya mirip Aska." Ujar Sandra setuju.
"Jadi siapa namanya?" Tanya Zee ikut berbicara sambil mengelus-elus pipi bayi tersebut.
Aska dan Sassya saling pandang,sebelum bayi tersebut lahir. Aska dan Sassya memang sudah menyiapkan beberapa nama dan ada satu nama yang sepertinya sudah fix akan mereka gunakan.
"Gavriel Brata Ghatama." Ucap kedua pasangan suami istri dengan kompak dan senyuman cerah.
♡♡♡
Satu part lagi guys...
Setelah itu aku fokus sama novel baru aku yang judulnya
__ADS_1
"RUNTUH." Mampir ya...
Like vote komennya jangan lupa tinggalin...