
Hari yang di nanti-nanti oleh Aska akhirnya tiba juga. Hari ini,tepat saat jam makan siang Aska meluncur ke bandara untuk menjemput sang pacar. Ia berangkat dengan menyetir mobil sendiri,alasannya karena ia tidak mau waktu berduanya terganggu oleh siapapun.
Begitu sampai di bandara Aska langsung di sambut oleh wajah sumringah Chintiya yang ternyata sudah menunggunya sedari tadi. Selayaknya pasangan yang sudah lama terpisah keduanya lantas melepas rindu dengan saling berpelukan.
"Kenapa lama sekali? Aku menunggu mu dari setengah jam yang lalu,kau tau aku sangat kelelahan." Keluh Chintiya dengan nada sangat manja membuat Aska gemas.
"Maaf sayang,aku tadi harus mengurus pekerjaan kantor. Lalu saat berangkat ke sini agak terjebak macet. Tolong jangan marah,aku tidak bermaksud membuat mu menunggu. Aku minta maaf,apa kau marah?"
Chintiya memicingkan matanya mendengar permohanan maaf Aska."Kau benar-benar mau mendapatkan maaf dariku?" Tanyanya.
"Tentu saja sayang,apapun akan aku lakukan agar kau memaafkan ku? Katakan kau mau apa?"
"Benar kau akan mengabulkan apapun yang aku minta?"
"Apa selama ini aku pernah berbohong?"
"Baiklah,baiklah. Aku tidak minta banyak. Aku hanya mau tinggal di rumahmu selama dua minggu ini? Bagaimana?" Tanya Chintiya dengan wajah manja.
"Tidak masalah. Kau boleh tinggal di rumahku kapan pun kau mau. Kau kekasihku,siapa yang berani melarangmu?"
"Tapi sayang! Kau lupa kalau kau sudah menikah? Apa istrimu nanti tidak akan menganggu kita?"
Aska tampak berpikir sejenak. Ia benar-benar lupa jika kemarin ia sudah menikah dengan Sassya. Tapi sepertinya tak masalah,lagipula Sassya hanya ia anggap sebagai pelayan,bukan?
"Kau tenang saja,wanita bodoh itu tidak akan berani menganggu kita. Dia hanya ku anggap sebagai pelayan sayang,kau lah ratunya. Kenapa harus memikirkan dia? Kau dan dia sebanding sayang."
Aska berbicara sambil menarik pinggang Chintiya dan mengecup bibir gadis itu sekilas.
"Kau tau,aku merindukan bibir mu ini." Bisik Aska manja.
Chintiya membalas bisikan Aska tak kalah manja."Kau bisa menikmati yang lain juga,kalau kau mau aku akan memberikannya." Bisik Chintiya sambil mengusap dada bidang Aska dengan lembut.
Aska menggeram nikmat. Gairahnya terbakar,namun ia masih berusaha menahannya. "Jangan macam-macam sayang,kau tau aku tidak akan menyentuh sesuatu yang belum resmi menjadi milikku."
Tangan Aska menurunkan telapak tangan Chintiya yang masih setia mengusap dadanya.
Mendengar itu Chintiya jadi cemberut."Jadi maksud mu kau akan menyentuh istri mu itu? Begitu? Bukankah kalian telah resmi menjadi suami istri? Apa itu artinya kau tidak membutuhkan aku lagi?"
Chintiya merajuk dan nyaris menangis. Aska yang melihat itu panik dan langsung menarik gadis yang dicintainya itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan sayang? Mana sudi aku menyentuh tubuh menjijikannya itu,aku hanya bilang aku tidak akan menyentuhmu karena memang kita belum resmi. Tapi bukan berati aku akan menyentuh wanita bodoh itu,aku sama sekali tidak bernafsu melihatnya."
Aska berkata seolah-olah ia sangat membenci tubub Sassya. Padahal di hari pertama mereka bertemu saja,Aska sudah merebut ciuman pertama Sassya. Sepertinya pria satu itu butuh tembakan di kepalanya. Agar sadar.
"Benarkah kau tidak bernafsu melihatnya?" Tanya Chintiya dengan nada masih merajuk.
Aska mengangguk yakin."Aku hanya milikmu sayang. Setelah aku berhasil mendapatkan kepercayaan daddy sepenuhnya aku akan segera menceraikan wanita bodoh itu. Aku hanya mengingikanmu,bukan wanita lain."
Mendengar jawaban Aska yang sangat mantap dam-diam Chintiya tersenyum puas. Rencananya berhasil. Tujuannya pulang ke Indonesia bukanlah tanpa alasan,ia mau melihat langsung gadis yang Aska pilih dan ia juga harus memastikan jika gadis itu takkan menggantikan posisinya suatu saat.
"Jadi apa kita langsung ke rumahmu setelah ini?" Tanya Chintiya lagi.
Aska mengangguk."Tentu saja."
Dengan segera ia meraih tangan Chintiya dan membawa gadis itu menuju mobil. Di dalam mobil dengan romantisnya Aska memasangkan sabuk pengaman pada Chintiya,tak lupa keduanya berciuman singkat sebelum akhirnya melaju pulang menuju rumah Aska. Kedatangan Chintiya benar-benar membuat Aska lupa daratan.
♡♡♡
Perjalanan dari bandara ke rumah Aska memakan waktu hampir satu jam. Kini keduanya sudah tiba di kediaman Aska. Setelah keluar dari mobil Aska langsung menyuruh salah satu penjaga agar memanggil Sassya yang tinggal di paviliun agar segera ke rumah utama.
Tak berapa lama setelahnya Sassya pun datang. Gadis itu agak heran,karena setelah pulang dari hotel kemarin Aska belum menemuinya lagi. Lalu hari ini entah angin apa yang membuat Aska tiba-tiba ingin menemuinya.
"Maaf,permisi. Nona siapa? Dimana tuan Aska?" Tanya Sassya beruntun.
Chintiya yang sedang memainkan ponselnya sontak menoleh. Tatapan matanya bertemu dengan Sasssya,ia sedikit mengernyit.
"Kau yang siapa? Kenapa tiba-tiba ada di sini?"
Chintiya menjeda ucapan dan tampak memindai penampilan Sassya,gadis itu mengenakan seragam pelayan tapi anehnya Chintiya tidak merasakan aura pelayan dari wajah Sassya. Ia terlalu cantik untuk ukuran pelayan.
"K..kau pelayan di rumah ini?" Tanya Chintiya tak yakin.
Sassya mengangguk malas. "Tentu saja aku pelayan,nona tidak lihat pakaian ku ini? Apa masih harus di zoom agar keliatan?" Tanya Sassya kesal.
Chintiya melotot marah mendengar ucapan Sassya yang terdengar tidak sopan.
"Kau!!...."
"Jaga bicara mu bodoh!! Dia kekasihku,bersikap sopanlah kepadanya!"
__ADS_1
Aska datang dari belakang dan langsung membentak Sassya.
Sassya menoleh sejenak memperhatikan Aska yang tampak berjalan menuju sofa. Ia menghembusksn napasnya kasar.
"Oh ternyata dia kekasih tuan. Maaf saya tidak tahu,tapi asal tuan tahu. Saya tidak peduli siapa dia,urusan saya dengan tuan. Jadi saya tidak perlu tunduk pada orang lain,walaupun dia kekasih tuan." Jawab Sassya datar. Ingat dia mantan nona muda yang tidak suka diperintah jika tidak terpaksa.
Mendengar keberanian Sassys,Chintiya murka.
"Ternyata ini istri kontrak mu itu? Tidak buruk sih,tapi sepertinya dia harus di beri sedikit pengertian tentang posisinya di sini. Bagaimana menurutmu sayang?"
Chintiya menatap Aska dengan tatapan membujuk.
Aska mengendikkan bahunya acuh."Kau mau apakan dia,terserah kau saja. Mau kau suruh dia melakukan apa saja pun boleh,asal dia tidak mati dan tidak terluka parah. Aku masih membutuhkannya untuk misi kita." Jawab Aska tak peduli.
Chintiya tersenyum puas. "Kau dengar itu gadis bodoh? Sekarang berlutut di depan ku,cium kakiku dan minta maaflah!!" Suruh Chintiya penuh intimidasi.
Sassya terhenyak mendengar ucapan Chintiya.
"A..apa maksudmu? Aku tidak akan melakukan hal itu!!" Tolak Sassya mentah-mentah.
Mendengar itu Chintiya merajuk.
"Sayang! Lihat gadis bodoh itu! Dia berani menolak perintahku!" Chintiya hampir menangis saat mengatakan itu.
Aska yang melihat kekasihnya merajuk langsung menunjukkan sisi arogannya.
"Bodoh!! Kau dengar tidak kekasihku bilang apa? Sekarang berlutut dan minta maaflah dengan benar,kau masih mau melihar ibumu hidupkan?" Tanya Aska penuh ancaman.
Sassya menatap Aska tak percaya. Ia kira pria itu masih punya sedikit hati pada dirinya yang notabene sang istri,tapi ternyata tidak. Ia salah.
"A..aku..." Sassya menunduk menahan emosinya. Andai ancamannya bukan sang mama mungkin gadis itu akan melawan.
Perlahan Sassya beringsut mendekati Chintiya,tepat saat ia akan bersimpuh seseorang tiba-tiba masuk menghentikan aksi mereka.
♡♡♡
Otor : Haiii permisahhh. Bagaimana konflik awalnya? Apakah kalian gemes sama Aska? Ingin cubit ginjalnya? Kalau begitu silahkan!!
Asal!! Like vote komen jangan lupa
__ADS_1
Hehehhehehhe😂😂