Tautan Takdir

Tautan Takdir
Penyelamat


__ADS_3

"Permisi tuan,nona."


Alex tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya.


Kedatangan Alex membuat semua yang ada di situ mengalihkan perhatian mereka.


"Kau? Kenapa tiba-tiba ada di sini? Bukannya siang ini ada rapat dengan perwakilan dari Libertix Company? Kau meninggalkan rapat ya?" Tanya Aska dengan nada tak suka. Kedatangan Alex menganggunya.


Alex menjawab tuannya dengan tenang.


"Rapatnya di tunda sampai besok tuan. Tadinya saya juga masih di kantor,namun nyonya besar tiba-tiba menelpon saya dan menyuruh mengantarkan ini pada nona Sassya." Alex mengalihkan pembicaraan sambil menunjukkan paper bag yang ada di tangannya.


Aska mendelik."Apa itu? Kenapa mommy menyuruhmu memberi barang pada wanita bodoh itu?"


"Saya tidak tahu tuan. Saya hanya di tugaskan untuk mengantar,bukan memeriksa barangnya."


"Ckk!! Menganggu sekali. Lain kalu,harusnya kau beri tahu aku dulu jika ingin kemari."


"Maaf tuan. Tapi saya memang biasa ke sini tanpa memberi tahu tuan kan? Apa kali ini tuan keberatan karena ada nona Chintiya?" Tanya Alex sambil melirik Chintiya yang tampak menatapnya geram.


"Ckk..terserah kau lah. Pokoknya lain kali aku mau kau menghubungi ku dulu jika ingin kemari,satu lagi. Jangan beritahu mommy ataupun daddy tentang kejadian barusan. Aku tau kau asisten yang di pilih langsung oleh daddy. Tapi aku juga punya hak untuk menghukum mu Alex,jadi kurangi sikap langcang mu mulai hari ini."


Alex hanya tersenyum tipis. Ancaman Aska bukanlah apa-apa baginya,kali ini ia berpihak pada seseorang yang kekuasaannya lebih besar dari Aska. Bukan bermaksud menghianati Aska. Tapi laki-laki itu hanya mencoba melindungi tuannya dari bahaya.


"Baik tuan,sekali lagi saya minta maaf. Sepertinya setelah ini saya juga harus kembali ke kantor,jadi apa masih ada yang mau tuan sampaikan?"


Aska menggeleng."Tidak ada! Kembalilah ke kantor,dan bila perlu kau bawa serta wanita bodoh itu. Aku malas melihatnya di sini." Aska menunjuk Sassya menggunakan bahunya.


Mendengar dirinya di suruh perti,Sassya senang bukan main. Itu artinya ia lolos dari hukuman bukan? Dengan segera Sassya beranjak mendekati Alex hendak meraih tangan pria itu,namun Alex dengan cepat menepisnya.


"Jangan macam-macam nona." Ujar Alex dengan suara pelan.

__ADS_1


Sassya langsung menunduk malu. Ia memang selalu lancang jika sudah berada di sisi Alex.


"Kalau begitu saya permisi tuan." Alex menundukkan kepalanya sedikit ke arah Aska,setelahnya ia memberi kode pada Sassya agar mengikutinya.


Tanpa berpamitan Sassya segera berlari keluar mendahului Alex. Pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Anda cukup beruntung hari ini,nona Sassya." Batin Alex.


♡♡♡


Di luar rumah,Aska langsung di sambut wajah sumringah Sassya yang sudah menunggunya di depan mobil. Gadis itu seolah tak sabar untuk di bawa pergi dari rumah Aska.


"Apa kau akan mengajak aku ke kantor denganmu?" Tanya Sassya antusias.


Alex menggeleng."Tidak. Kecuali nona gantu baju,baru aku akan mengajak nona ke kantor." Alex melirik penampilan Sassya yang masih mengenakan pakaian pelayan.


Sassya menghembuskan napasnya dengan berat."Aku tidak punya baju ganti tuan Alex. Aku tidak tahu kemana tuan Aska membuang semua bajuku kemarin,aku hanya punya beberapa seragam pelayan,pakaian dalam dan beberapa daster yang di beri pelayan lain tadi malam. Memangnya tuan mau melihatku ke kantor dengan menggunakan daster dan ****** ***** saja?" Sassya bertanya dengan konyolnya.


Alex yang mendengar penjelasan Sassya ikut menghela napas berat."Kalau begitu nona ikut saya dulu. Kita ke toko pakaian,saya tidak mungkin membawa nona ke kantor dengan pakaian pelayan seperti ini."


Sassya tertunduk sedih setelah mengatakan hal itu pada Alex. Ia sebenarnya tidak mau memberi tahukan hal ini pada siapapun. Tapi tidak di pungkiri ia sangat lapar,seharian ini ia banyak melakukan pekerjaan. Mulai dari memotong rumput di halaman,membersihkan kamar mandi,bahkan harus menyapu dan mengepel seluruh rumah sendirian. Aska melarang pelayan lain membantunya.


"Nona masuklah dulu. Sebentar lagi jam istirahat saya habis,kalau nona terlalu lama bercerita saya bisa terlambat ke kantor."


"Maaf tuan."


"Tak apa,masuklah ke mobil. Saya akan mengantar nona ke toko pakaian terlebih dahulu."


"Iya." Sassya beranjak membuka pintu mobil dan bermaksud duduk di kursi penumpang. Namun sesaat setelahnya ia keluar lagi dan mengetuk kaca mobil bagian depan.


"Apa lagi nona?" Alex yang sudah masuk sontak menurunkan kaca mobilnya.


"Tuan apa aku boleh duduk di depan? Tuankan bukan supir,jadi tidak enak kalau aku harus duduk di belakang sana."

__ADS_1


"Terserah nona saja." Alex berkata sambil menaikkan kembali kaca mobil miliknya.


Sassya segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Alex. Sepanjang jalan ia terus mengoceh,menceritakan banyak hal seolah Alex adalah kakaknya. Untung pria itu sabar meladeninya.


"Ngomong-ngomong tuan Alex,tadi ibu mertua menyuruhmu mengantarkan barang apa? Aku belum menerima barangnya darimu." Sassya melirik paper bag yang Alex taruh di jok belakang.


"Itu hanya paper bag kosong. Isinya kotak kue dan kuenya sudah saya makan." Jawab Alex dengan tampang tak berdosa.


Sassya melongo,menatap Alex tak percaya.


"K..kenapa tuan yang makan?"


"Terserah saya lah nona. Saya yang beli kuenya."


"Hah? Gimana? Gimana?" Tanya Sassya bingung.


"Bukannya tadi tuan bilang itu dari ibu mertua?"


"Saya berbohong nona. Tadi saya tak sengaja datang ke rumah tuan Aska. Hanya mau melihat bagaimana keadaan nona,tapi begitu melihat nona mau berlutut saya refleks memanggil." Jelas Alex.


"Karena tidak tahu mau memberi alasan apa,saya bilang saja kalau saya mengantar titipan nyonya besar."


"Ohhhh.." Sassya ber oh ria.


"Ternyata diam-diam tuan perhatian juga pada saya. Atau jangan-jangan..." Sassya menatap Alex dengan mata memicing."Tuan naksir dengan saya ya? Hayo ngaku!" Suruh Sassya seenak jidat.


"Sembarangan!! Saya masih waras untuk suka dengan gadis,bukan wanita yang sudah bersuami. Apalagi ini istri atasan saya sendiri."


Sassya langsung menekuk bibirnya mendengar jawaban Alex."Padahal aku berharap tuan suka padaku. Kalau tuan suka padaku,tuankan bisa membawaku pergi dari sini. Aku tidak mau tinggal dengan tuan Aska. Dia manusia batu yang tidak punya hati." Lirih Sassya sendu.


Tak ada jawaban dari Alex. Pria itu memilih cosplay jadi batu bernapas. Mau menjawab apa,toh juga sebenarnya ia datang ke sana atas perintah seseorang.

__ADS_1


__ADS_2