
Setelah memastikan Zee benar-benar sudah kembali. Sassya segera merapikan barang belanjaannya ke dalam kulkas dan setelahnya masuk ke kamarnya,menutup pintu dan langsung membaringkan dirinya di tempat tidur.
Suasana mansion cukup sepi. Anak-anak Dark Night sepertinya sedang sibuk bekerja. Mereka memang tidak menganggur,sebagian ada yang punya perusahaan,ada juga yang mengelola bengkel dan restoran milik Dark Night,dan sebagian juga ada yang mengelola cafe Santuy milik Zee.
Paling hanya Rafa dan Bara yang tinggal tetap di mansion. Mereka bukannya tidak bekerja,hanya saja mereka bekerja dari rumah. Rafa dan Bara bekerja sebagai programmer di perusahaan Teknologi yang pusatnya berada di luar negeri. Bara di bagian App Developer sedangkan Rafa di bagian Data Analyst. Sudah di pastikan dua orang ini memiliki IQ di atas rata-rata.
Lalu perawat dan dokter Zara? Mereka hanya akan datang jika di panggil. Sama halnya dengan ahli gizi yang di tugaskan oleh Zee.
Di saat sedang berbaring,ingatan Sassya kembali melayang pada kejadian di minimarket tadi siang.
#Flashback On
Saat di minimarket.
Sassya berniat membelikan coklat untuk Zee,coklat yang dulu sering ia berikan pada Arkhan pacar Zee. Semasa ia kuliah dulu ia memang sangat gencar mengejar Arkhan dengan memberinya coklat.
Jadi sekarang ide jahil Sassya kembali muncul. Ia berniat membelikan coklat untuk mengerjai Zee dan Arkhan.
"Grep.."
Sebuah tangan mendahului Sassya yang hendak mengambil coklat
Sassya menoleh,orang itu juga. Hingga detik berikutnya,kedua orang itu saling tunjuk dengan eskpresi kaget.
"Rama!"
"Sassya!"
Kedua kompak menyorakkan nama satu sama lain.
"Ngapain di sini? Stalking ya lo?" Tanya Rama seenak jidat.
Sassya berdecak kesal."Lo kali yang stalking. Liat dong gue bawa troli yang isinya camilan,itu artinya gue belanja. Bukan ngikutin lo. Lo sendiri ngapain di sini?"
"Gu..gue? Ya belanjalah." Ujar Rama tampak gugup. "Lo sendirian?" Tanya Rama mengalihkan pembicaraan.
Sassya menggeleng."Gak. Gue sama kakak gue. Tapi dia nunggu di mobil,biasa. Menghindari kerumunan." Jelas Sassya.
"Lo sendiri?" Tanya Sassya lagi.
"Gue..,sebenarnya gue ke sini ngikutin calon istri gue." Ujar Rama gugup tapi tak menutupi apapun.
Kedua alis Sassya menukik dengan raut penasaran tingkat tinggi.
"Oh ya? Lo ke sini ngikutin calon istri lo? Si wiskas? Jadi lo udah ketemu sama si wiskas? Kapan? Mana orangnya?" Tanya Sassya beruntun.
Rama menghela napas malas mendengat pertanyaan Sassya yang sudah sepanjang rel kereta.
"Liat ke arah meja kasir. Calon istri gue lagi ngantri di urutan ke lima." Tunjuk Rama ke arah meja kasir di mana ada beberapa pembeli yang masih antri untuk membayar.
__ADS_1
Sassya mengikuti arah telunjuk Rama dan meneliti satu persatu pembeli hingga matanya membulat saat melihat wanita yang di maksud Rama.
"C..Chintiya?" Ucap Sassya tersendat.
Rama menoleh kaget."Kok lo tau nama calon istri gue?" Tanyanya heran.
Sassya menatap Rama dengan perasaan campur aduk.
"J..jadi maksud lo? Si wiskas itu dia? Chintiya?"
"Ya iya. Dia,cewek yang gue tidurin di club itu ya dia." Ujar Rama sedikit belibet.
Sassya menggeleng tak percaya. "Apa jangan-jangan kita jadi korban malam itu ya?" Ujar Sassya sambil menatap Rama serius.
Rama menatap Sassya heran."Korban apaan sih? Gak lagi ada bencana loh Sya."
"Rama gue serius." Bentak Sassya kesal.
"Asal lo tau..."
Sassya mulai mengulas kembali kejadian malam di mana Aska di hukum oleh kedua orangtuanya,berlanjut ke waktu di mana Aska meminta bantuannya agar bisa berkencan diam-diam dengan Chintiya.
Lalu malamnya Alex mengantarkan Aska pulang dalam keadaan mabuk hingga akhirnya kesucian Sassya di renggut paksa oleh Aska.
Sassya curiga jika saat kejadian itu,sebenarnya Aska dan Chintiyalah yang akan bercinta. Namun karena di kacaukan oleh Alex,kedua manusia itu jadi salah sasaran hingga berakhir meniduri dan tidur dengan orang lain.
"Kesimpulan gue sih gitu Ram. Menurut lo gimana?" Tanya Sassya setelah usai bercerita.
"Sya,gue belum terlalu paham sama cerita lo. Tapi sebagian udah gue tangkep. Gue butuh kejelasan,ini kartu nama gue. Di dalam nya ada nomor telepon gue,nanti malam lo chat gue. Kita perlu bahas hal ini sedetail mungkin."
"Tapi sekarang,gue harus ke Chintiya." Ujar Rama memutuskan obrolan sambil menyodorkan sebuah kartu nama miliknya ke tangan Sassya.
#Flashback Off
♡♡♡
"Huh.."Sassya menghembuskan napasnya dengan kuat.
"Dunia kenapa sesempit ini sih. Dari sekian banyak orang di dunia ini,kenapa gue selalu ketemu sama orang-orang dari masa lalu gue yang niatnya pengen gue hindarin,kemarin Zee,terus Rama dan terakhir tadi. Chintiya. Nanti siapa lagi yang bakalan gue temuin."
Gumam-gumam kecil keluar dari bibir Sassya.
Sebersit rasa ingin menghubungi Rama. Ia harus menjelaskan semuanya sekaligus ingin mendengar pendapat Rama.
Dengan sigap ia bangun dari tempat tidurnya untuk mencari kartu nama yang tadi ia simpan di dalam saku jaketnya.
Saat Sassya ingin mengambil handphone untuk menyalin nomor ponsel Rama,telinganya mendadak menangkap bunyi gaduh di ruangan depan.
"UDAH GUE BILANG LO GAK BOLEH MASUK!!"
__ADS_1
"GUE GAK PEDULI SIAPA LO!"
"GAK ADA YANG BOLEH MASUK KE SINI TANPA SEIZIN KAI DAN QUEEN,DAN ITU TERMASUK LO!"
Sassya menajamkan pendengarannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana. Karena terlalu penasaran,Sassya memutuskan keluar. Ia ingin melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi di depan mansion.
"IZINKAN SAYA MASUK!!"
"SAYA HARUS BERTEMU ISTRI SAYA!!"
Langkah kaki Sassya terhenti bersamaan dengan tangannya yang baru akan memutar knop pintu.
Jantungnya terpacu cepat. Ia kenal,sangat kenal dengan pemilik suara berat tersebut.
Tak mau menganggap dirinya halu,Sassya lantas berjalan cepat menuju halaman depan.
Dari ruang tamu Sassya bisa melihat Rafa dan Bara yang tengah menghalangi seseorang yang sepertinya memaksa masuk. Orang itu adalah Aska.
Melihat suami sekaligus ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya itu,rasa rindu tiba-tiba menyeruak di dalam dada Sassya.
Tanpa berpikir dua kali,ia dengan bodohnya melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan...
"Krett.." Sassya menyibak pintu selebar-lebarnya membuat Baravdab Rafa terbelalak.
"Sassya!!"
"Sasa."
Dua bentakan dan satu sapaan syahdu terdengar memasuki indra pendengaran Sassya.
"Lo ngapain keluar sih?" Tanya Rafa geram.
Sassya menggeleng.
"G..gue,"
Sassya menghentikan ucapannya karena kedatangan sebuah mobil.
Semua mata tertuju pada mobil tersebut,termasuk Aska. Pria itu mengernyitkan alisnya menunggu sang pemilik keluar.
Hingga setelahnya...
♡♡♡
Otor : Siapa tuh yang datang? Antara mamanya Zee,Zee,Alex,Rama dan Chintiya,or.......
Tebakkkk dong.....😂😂
Aelahhh sok misterius banget ya gue wkwkwk
__ADS_1
Like vote komen biar gak penasaran....