
Sudah beberapa jam berlalu semenjak Sassya meninggalkan kediaman Aska. Kini wanita muda itu sedang dalam perjalanan kembali ke rumah lamanya.
Di luar dugaan,nyatanya Sassya tidak benar-benar pergi ke kampung bi Sumi. Ia memilih kabur dalam artian sebenarnya,rencananya nanti Sassya akan tinggal beberapa hari di rumah lamanya.
Setelah itu ia akan pergi ke luar kota. Ke tempat di mana hanya ada dirinya dan sang anak. Ia akan membuat identitas palsu,dirinya masih punya kalung pemberian papa William dulu dan harta berharga satu-satunya itulah yang akan Sassya gadai untuk membantukan melarikan diri.
Jadi sekarang,di sinilah Sassya berada. Menelusuri jalan raya yang mulai sepi karena hari sudah beranjak sore. Sebenarnya sedari tadi Sassya sudah lelah dan mau mencari kendaraan,namun jika ke terminal dan mencari bis. Ia takut keberadaannya di lacak.
Lalu jika naik taxi,terlalu mahal. Ia mau berhemat setidaknya sampai besok atau lusa. Sampai kalungnya bisa terjual,lagipula ia tidak benar-benar menjual kalung itu.
Ia hanya akan menggadaikannya sampai ia punya uang lagi untuk menebusnya. Jadi memang harus mencari pembeli yang mau di ajak kompromi dalam hal itu.
Setelah beberapa jam berjalan Sassya akhirnya tiba juga di rumah lamanya. Sassya sedikit takjub ketika melihat rumah tersebut sudah di rehab. Ia bisa menebak jika orang yang melakukan itu adalah Zee.
Mulai dari tampilan,hingga pekarangan yang dulunya penuh ialang kini sudah berganti dengan taman bunga yang indah.
"Zee benar-benar baik banget. Sampe rumah ini aja di perbaiki sama dia. Tapi cara masuk ke dalam gimana ya?"
Gumam Sassya bingung. Ia mengintip-intip dari celah pagar seperti maling. Pasalnya rumah itu sekarang di pagar dengan pagar besi setinggi dua meter dan juga di kunci.
Mata Sassya berkeliling mencari objek yang bisa ia pakai untuk masuk. Setelah berkeliling dengan matanya. Sassya akhirnya menemukan kursi taman yang ada di luar pagar,sepertinya hanya benda berat satu itu yang bisa membantu Sassya masuk ke dalam.
"Tap..." Sassya berhasil melompat masuk ke dalam dengan bantuan kursi taman.
Perutnya terasa sedikit sakit akibat di bawa melompat."Maaf ya dek. Bunda gak sengaja." Ucap Sassya pada perutnya,pelan-pelan ia usap perutnya yang masih rata itu. Dan setelah merasa cukup baik,ia pun mengangkat tasnya dan membawa nya masuk ke teras rumah.
Sampai di teras rumah,Sassya kembali di buat bingung. Pintu rumah di kunci dan ia tidak punya kunci untuk masuk ke dalam.
"Masa malam ini gue sama dedek tidur di luar. Kasian dong dedeknya." Gumam Sassya sendu.
"Biasanya dulu gue selalu simpen kunci di bawah pot bunga. Andai aja Zee ngelakuin hal yang sama." Sassya kembali bergumam membayangkan jika saja ada kunci di bawah pot tanaman hias,ia pasti sudah menggunakannya untuk masuk ke dalam.
Merasa tak punya pilihan lain,mau tak mau Sassya membuka tasnya. Mencari keberadaan jaket yang tadi di siapkan bi Sumi. Setidaknya benda satu itu bisa meminimalisir rasa dinginnya untuk malam ini.
Ia menyesal kabur tanpa membawa selimut,tadi ia percaya diri untuk pergi ke rumah lama karena mengira rumah lama mereka tidak di sentuh oleh Zee. Tapi ternyata dugaannya salah.
Jadi mau tak mau lah,malam ini ia harus kedinginan di luar rumah.
"Tes.."
Setetes air mata mendadak jatuh tanpa permisi di pipi Sassya. Hatinya mendadak sesak takkala ingatannya berputar pada kejadian dua tahun yang lalu,di mana ia pernah mengalami hal serupa. Tidur di luar rumah,tanpa pengangat ruangan bahkan selimut. Kali ini di situasi yang berbeda,namun di kondisi yang sama dan itu berhasil membuat Sassya merasa sesak.
"Kangen mama."
♡♡♡
__ADS_1
Keesokan harinya...
Sassya tampak sudah menelusuri jalan raya,jam masih menunjukkan pukul enam pagi dan suasana masih cukup sepi. Apalagi gang yang ia lalui memang merupakan jalan pintas yang hanya ramai di saat-saat tertentu.
Sassya sedikit bernyanyi kecil di dalam perjalanan. Hari ini rencananya,ia akan pergi ke toko perhiasan. Tujuannya adalah untuk menggadaikan kalung. Ia membawa tas selempang kecil yang di dalamnya terdapat handphone dan kalung miliknya yang nantinya akan ia gadaikan.
Ketika sampai di persimpangan jalan,Sassya tak sengaja melihat ada lima orang pria berpenampilan cukup sangar. Dari tampilannya saja Sassya sudah bisa menebak jika mereka adalah preman.
Buru-buru wanita itu berbalik,ia harus menyelamatkan diri sebelum di tangkap dan di jadikan bulan-bulanan oleh mereka.
"Hei nona!!"
Panggil salah seorang preman tersebut membuat Sassya makin mempercepat langkahnya.
Kejadian tak di duga,keempat preman itu malah berlari ke arah Sassya dengan kencang.
Menyadari kondisi berbahaya,Sassya juga ikut berlari. Namun kondisinya yang sedang hamil muda membuat perutnya keram hingga akhirnya ia terjatuh akibat tidak kuat menopang berat badannya.
"Yah dia jatuh..."
"Makanya jangan lari-lari neng..."
"Mau di temenin kok ngehindar..."
Makin ketar-ketir saja nyali Sassya saat melihat ke lima pria itu sudah mengelilingi dirinya.
Dengan posisi yang masih terduduk di aspal,Sassya mundur-mundur perlahan hingga punggungnya menabrak pembatas jalan.
"Auch.." Pekik Sassya ketika belakang tubuhnya berbenturan dengan batu bata.
"Eh neng..kenapa sakit ya?"
Salah seorang preman dengan beraninya mencolek dagu Sassya membuat wanita geram.
"Plak.." Sassya menepis tangan pria itu dengan kasar.
"Jangan sentuh gue!!"
"Pergi gak lo pada!!"
Dengan sisa-sia tenaganya,Sassya memukul-mukul kaki salah satu preman dengan menggunakan tasnnya.
Namun bukannya takut,mereka malah terkekeh karena tingkah Sassya di anggap lucu dan menggemaskan.
"Daripada mukul-mukul manja gitu,mending sini. Abang kasih belai-belai gratis,mau?"
__ADS_1
Tanya preman itu dengan tak sopannya. Ia bahkan meraih lengan Sassya untuk membantu gadis itu berdiri.
"**** boss."
Ujar preman lainnya dengan tatapan mesum.
Makin menjadi-jadi Sassya meronta. Belum lagi perutnya sakit,sangat tidak bisa di ajak kompromi dengan keadaannya saat ini.
Namun Sassya bukan gadis yang mudah menyerah. Ia gadis kuat.
"Brukk...." Sassya menginjak kaki salah satu preman tadi dengan kuat.
Dengan langkah terserer-seret Sassya segera berlari meninggalkan kelima preman tersebut. Saking terburu-burunya,salah satu sepatu Sassya lepas dan malangnya sepatu miliknya malah di pakai sebagai senjata bagi kelima preman itu.
"Bukk."
"Akhhh..."
Sassya menggerang sakit bersama dengan tubuhnya yang ambruk ke tanah. Sepatunya yang tadi terlepas ternyata di gunakan preman itu untuk melempar Sassya.
Lemparannya telak mengenai tengkuk Sassya membuatnya limbung.
Naas dari depannya,sebuah mobil melaju cukup kencang hingga...
"Citttt..."
"Brakk...."
♡♡♡
Otor : Tebak dong!! Sassya mati gak kira-kira?
Readers : Tamat dong ceritanya kalau si sasa koid. Masa pameran utama koid,gak manuk akal thor..."
Otor : masuk aja kalau gueh mau buat. Kan bisa di bikin imigrasi. Itu loh yang genrenya fantasi...
Readers : Transmigrasi thor!!! Gue cekek juga lu ya...
Otor : hehe...
♡♡♡
Mampir juga ya guys ke karya temenku ini...baca dulu blurbnya...
__ADS_1