
Keesokan harinya,di kediaman Sassya...
Pagi-pagi sekali gadis itu tampak sudah sibuk berkutat dengan berbagai alat masak di dapur.
Keadaan memang banyak mengubah kehidupan Sassya,gadis yang dulunya manja dan tidak bisa melakukan apa-apa tanpa pelayan kini tampak sangat mandiri dan sederhana.
"Selesai." Ujar Sassya riang sambil memasukkan bawang goreng ke dalam bubur buatannya.
Karena Melissa yang belum sehat membuat Sassya memilih membuatkan bubur dan kebetulan semalam Zee memberinya uang untuk berbelanja. Selain itu gadis itu juga kemarin membelikan banyak barang untuk keduanya di rumah membuat Sassya semangat memasak.
Setelah membereskan bubur ke dalam nampan beserta air minumnya. Sassya beranjak ke kamar mamanya.
"Ma,Sassya masuk ya."
Ujar Sassya dari depan pintu, terdengar jawabab 'iya' dari dalam dan Sassya pun masuk.
"Makan dulu ma." Sassya meletakkan nampan di sebelah kasur mamanya.
Melissa yang tadinya berbaring pun duduk dengan di bantu oleh Sassya. Setelah memastikan posisi mamanya nyaman,Sassya mulai menyuapkan bubur pada Melissa.
"Biar mama makan sendiri aja Sya." Melissa mengambil alih mangkok dari tangan Sassya dan mulai makan sendiri.
"Kamu udah makan?" Tanya Melissa.
Sassya mengangguk." Udah ma,tadi makan dulu baru buatin mama bubur." Jelasnya.
"Nanti siang jadi ketemu Zee?"
"Jadi ma,rencananya sih jam 3. Tapi nanti Sassya berangkat lebih awal deh,Sassya sekalian pengen keliling-keliling dulu pake motor. Udah lama Sassya gak jalan-jalan."
Sassya menjawab dengan semangat.
Rasanya ia sudah tidak sabar menikmati kebebasannya setidaknya untuk hari ini. Sebelum ia kembali sibuk bekerja di toko kue milik mama Zee nantinya.
Tak terasa hari beranjak semakin siang. Setelah membantu mamanya mandi dan berganti pakaian,Sassya pun mulai bersiap-siap untuk menemui Zee.
Namun sebelum pergi ia masih menyempatkan dirinya untuk membuatkan mamanya makan siang serta tak lupa membereskan rumah.
Hingga sekitar pukul satu barulah Sassya berpamitan pada sang mama untuk berangkat menemui Zee.
♡♡♡
Jalanan yang tidak macet dan Sassya yang berangkat menggunakan motor membuat Sassya sampai satu jam lebih awal dari janjinya dan Zee.
Suasana taman hari itu ternyata cukup lengang ketika Sassya datang ke taman. Sassya pun memilih duduk di salah satu kursi sembari memakan camilan yang tadi sempat ia beli di supermaket. Tak lupa ia mengirimkan pesan pada Zee,memberitahu jika dirinya sudah menunggu di taman.
Namun sepertinya Zee sibuk,terbukti pesan Sassya hanya bercentang dua abu-abu pertanda jika Zee belum membuka pesannya.
__ADS_1
♡♡♡
Sementara itu di kantor Zee,gadis itu tampak tengah sibuk memeriksa beberapa berkas kemudian menandatanginya satu persatu. Hingga beberapa saat asisten pribadinya tampak masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Nih,sertifikat rumah yang lo minta."
"Sekalian ini surat bukti pembelian lahan di rumah Sassya sama nyokapnya yang sekarang."
Sandra yang baru saja datang,tau-tau langsung menghempaskan dua buah dokumen ke atas meja kerja Zee.
Jelas kelakuan Sandra membuat Zee mendelik sinis."Gue masih atasan lo ya di sini!! Kebiasaan deh,gak ada sopan-sopannya." Gerutu Zee.
Sandra memutar bola matanya malas. Jika ada orang yang harus kesal di sini,itu harusnya Sandra. Semenjak Zee bertemu Sassya pekerjaan Sandra bertambah dua kali lipat,jadi wajar jika gadis itu sengaja melampiaskan kekesalannya pada Zee.
"Gue gak mau lo suruh-suruh lagi ya hari ini. Kerjaan gue masih banyak banget gara-gara lo suruh gue nge-handle rapat kemarin. Hari ini lo juga nyuruh gue nyari rumah sama beli tanah,gue jadi heran kerjaan gue ini asisten lo atau babu lo?" Omel Sandra berapi-api.
Zee hanya bisa menyengir menunjukkan deretan gigi putihnya tanpa muka berdosa sedikitpun. Alhasil satu tampolan maut mendarat di kepalanya sebelum akhirnya Sandra keluar dari ruangan Zee di iringi lemparan vas dan bantingan pintu.
Baru kali ini ada orang berani nampol Zee.
♡♡♡
Sementara itu di taman,Sassya sendiri sudah mulai bosan menunggu Zee apalagi jam baru menunjukkan pukul setengah tiga sore.
Harusnya ia memang tak berangkat terlalu awal. Beginikan jadinya,ia sendiri yang kebingungan karena tak ada kegiatan dan tak ada yang bisa diajak ngobrol di taman tersebut.
Beruntungnya masih ada ponsel yang setidaknya bisa mengurangi kejenuhannya. Gadis itu memilih menscroll tiktok hingga akhirnya larut dengan vidio yang tengah di tontonnya.
Hingga akhirnya ketiga pria yang baru saja datang tadi berhenti berjalan dan berdiri tepat di hadapan Sassya.
Sassya yang tengah menunduk tak menyadari jika di hadapannya ada orang lain yang tengah memperhatikannya dari jarak dekat. Ia baru sadar ketika salah satu dari ketiga pria itu menyapanya.
"Permisi,apa benar anda nona Sassya Bellvara?" Tanya pria tersebut membuat Sassya mendongak kaget.
Di lihatnya seorang pria dengan stelan jas berwarna abu-abu dan kemeja putih yang terlihat dari balik jasnya tengah berdiri di hadapannya.
Di belakang pria tersebut ada dua orang pria lagi dengan seragam hitam yang bisa di pastikan kedua orang itu adalah bodyguard.
Sassya masih diam memperhatikan pria di depannya ini. Mencoba mengingat-ingat apakah mereka bertemu sebelumnya. Mengingat pria tadi menyebut namanya dengan lengkap Sassya menebak jika pria itu pasti mengenalnya.
Tapi sejauh yang Sassya ingat,ia tidak pernah bertemu pria di depannya ini. Jadi siapa dia? Kenapa bisa tau nama lengkapnya? Apakah mereka pernah bertemu? Lalu kenapa dia tidak ingat?
"Ekhmm. Nona mendengar pertanyaan saya barusan?" Tanya pria itu kembali karena Sassya tak kunjung menjawabnya.
Sassya mengangguk,"Maaf sebelumnya. Tapi apa kita saling kenal? Saya tidak merasa pernah bertemu dengan bapak?" Jawab Sassya kaku. Ia tidak biasa berinteraksi dengan orang asing begini.
"Nona memang tidak pernah bertemu dengan saya. Tapi nona pernah bertemu dengan tuan saya. Karena itulah Sasya kemari." Jelasnya.
__ADS_1
Sassya memiringkan kepalanya memastikan ia tak salah dengar. Pria di depannya kembali mengangguk meyakinkan Sassya.
"Tapikan saya gak pernah ketemu bapak,gimana ceritanya Sassya bisa kenal sama tuannya anda?"
Sassya mulai barbar karena mengira orang di depannya ini tengah mengerjainya.
"Karena itulah saya ke sini menemui nona. Tuan saya menyuruh saya untuk membawa anda menemuinya,ada hal yang harus kalian selesaikan." Jelasnya lagi.
Sassya menggeleng,"gue gak mau,lo ngerjain gue? Gimana ceritanya gue bisa kenal sama tuan lo sedangkan gue sama lo aja gak pernah ketemu."
Kali ini sisi bar-bar Sassya benar-benar keluar.
Pria tadi tampak menghela napas kesal. Jika saja tuannya tak melarangnya memberi tahu siapa yang akan di temui Sassya nanti,mungkin urusannya takkan serumit ini.
"Nona dengar,di taman ini hanya ada nona,saya,dan kedua bodyguard saya. Jadi jika saya membawa paksa nona,maka nona tidak akan bisa melawan apalagi meminta tolong."
"Jadi saya beri nona dua pilihan. Pertama,nona ikut saya baik-baik atau kedua,saya akan bawa nona secara paksa. Nona pilih yang mana?"
Pria di depannya ini tampak mulai menunjukkan taringnya sebagai ancaman.
Namun Sassya tampaknya masih keras kepala. "Saya gak mau dua-duanya. Saya di sini lagi nungguin kakak saya,eh bapak malah tiba-tiba datang dan ngaku kenal sama saya. Ngaco ajalah!!" Bentak Sassya ikut-ikutan kesal.
"Nona dengar,saya akan menjamin jika tuan saya tidak akan berbuat macam-macam terhadap nona jika nona mau menurut. Tapi jika nona tetap keras kepala menolak,saya tidak jamin apa tuan saya mau berbaik hatu melepaskan nona,atau mungkin tuan saya bisa saja membawa ibu nona untuk menggantikan nona. Jadi nona tinggal pilih saja,ikut saya atau??" Pria itu sengaja menggantung ucapannya.
Sassya melotot kaget ketika mamanya ikut di libatkan dalam masalah yang ia sendiri belum tau apa itu. Mau tak mau gadis itu akhirnya berdiri pasrah.
"Oke-oke gue ikut. Gak usah ngancam gitu,ingat ya!! Kalau sampai lo atau tuan lo itu macam-macam,gue jamin kalian gak bakalan lepas dari tangan kakak gue. Ingat itu!!"
Pria itu menarik sudut bibirnya ketika melihat Sassya akhirnya menyerah. Namun yang jadi pertanyaannya adalah. Kenapa Sassya menyebut 'kakak' hingga dua kali,bukankan dari info yang sudah ia dapat mengatakan jika Sassya adalah anak tunggal. Lantas siapa kakak yang ia maksud.
"Sepertinya anda hanya menakuti-nakuti saya nona. Tapi saya tidak jamin apa ancaman nona nanti bisa berlaku di hadapan tuan muda nanti. Tapi sikap pemberani nona harus di acungi jempol,saya yakin tuan muda pasti betah bermain-main dengan anda nanti."
"Apa lo liat-liat??" Bentak Sassya ketika pria di sampingnya ini terus menatapnya dengan tampang datar yang menurut Sassya sangat menyebalkan.
Pria tersebut menggeleng dan memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sementara itu Sassya hanya bisa meremas tangannya dengan gugup. Bohong jika ia tak takut,saat ini dirinya berharap jika Zee segera datang dan mencarinya. Ia takut jika orang di hadapannya ini adalah orang jahat.
Suasana di dalam mobil benar-benar hening. Di depan dua bodyguard tadi sama sekali tak berbicara begitupun dengan pria di samping Sassya yang kini tampak sibuk dengan ipadnya.
♡♡♡
Halo semua gimana part ini?
Komen dong kalau kalian ada saran,kritik,atau ungkapan buat otor.
Apa kalian suka dengan cerita ini?
Kalau begitu silahkan like dan masukkan ke rak favorit hehe.
__ADS_1
Kalau kalian suka authornya juga
Silahkan vote dan kasih otor tips berupa hadiah.