
Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam,saat Sassya dan Rafa tiba di mansion Dark Night. Perjalanan yang memang cukup jauh membuat bumil yang saat di jemput tadi sibuk marah-marah,kini tampak tertidur pulas.
Tak tega membangunkan tidur lelap Sassya,Rafa memilih membawa Sassya masuk dengan cara menggendong wanita itu.
♡♡♡
Kembali ke kedai es krim...
Sebuah mobil mewah berwarna merah,tampak berhenti tepat di depan kedai tersebut.
Rama yang tadinya masih berada di mobil tampak memperhatikan gerak-gerik mobil merah tadi sambil menunggu sang pemilik keluar.
Entah kenapa,ia merasakan sebuah magnet yang menariknya untuk terus memperhatikan mobil merah tersebut.
Pemilik mobil keluar. Seorang perempuan dengan dress mini berwarna gold tampak keluar dari dalam mobil,perempuan itu tampak menenteng beberapa kantong plastik yang kalau Rama perhatikan isinya adalah rujak buah.
Tapi bukan itu yang membuat Rama tertarik. Ada yang lebih menarik lagi,wajah perempuan itu cukup familiar di ingatannya.
"Tapi siapa?" Batin Rama sambil mencoba mengingat-ingat siapa perempuan yang kini tampak memesan satu cup ice cream tersebut.
Rama memejamkan matanya perlahan saat sebuah ingatan masuk ke otaknya,sebuah ingatan tentang kejadian satu bulan lalu. Di mana ia meniduri seorang gadis cantik di sebuah club dan ia sudah ingat sekarang.
"Gak salah lagi,dia pasti cewek yang gue cari-cari selama ini." Batin Rama lagi.
Sebuah ide licik mendadak bersarang di otak tampannya. Segera ia meraih teleponnya dan mengabari anak buahnya untuk mengambil mobilnya di kedai,karena ia akan menjalani aksinya malam ini juga.
Tepat setelah pesan terkirim,Rama pun bangkit dari tempat duduknya untuk membayar es krim. Tanpa memandang ke arah cewek incarannya tadi,Rama langsung buru-buru pergi dari tempatnya.
Begitupun dengan perempuan tadi setelah pesanannya datang ia juga langsung beranjak kembali ke mobil. Tanpa mengecek situasi di dalam mobil,wanita itu langsung menjalankan kendaraan roda empatnya itu meninggalkan parkiran kedai.
♡♡♡
Di sisi lain,Ada Aska yang sama sekali tidak bisa tidur. Setiap kali matanya terpejam,ia selalu melihat bayangan wajah Sassya yang sedang menggendong bayi dan tampak bahagia dengan seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Ia tidak paham kenapa ia berhalusinasi seperti itu,tapi hal itu cukup menganggunya dan membuatnya susah tidur.
"Aishh! Kenapa lagi-lagi aku berilusi aneh? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Sasa dan di mana wanita itu." Gumam Aska sambil mengusap kasar wajah lelahnya.
Kelopak matanya kian memberat namun ia juga tidak bisa tidur karena pikirannya kacau.
"Lama-lama aku bisa gila!!" Teriak Aska frustasi.
Geram dengan mata dan otaknya yang tidak bisa di ajak kompromi,Aska akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dan memilih pergi ke ruang kerjanya. Alangkah baik jika ia pergi menyelesaikan pekerjaan yang harus ia kerjakan besok.
__ADS_1
Jadi besok,ia bisa bersantai. Tidak bukan bersantai,lebih tepatnya besok ia akan menghabiskan waktunya untuk mencari perempuan kurang ajar yang berani membuat sistem otaknya terganggu.
♡♡♡
Chintiya baru saja tiba di apartemennya ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Rasa kantuk sudah sangat menyerang matanya hingga pandangannya pun setengah buram.
Ia kekenyangan setelah menghabiskan tiga porsi rujak buah dan dua cup es krim. Chintiya baru akan membuka pintu mobil ketika tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang,tubuhnya juga di kunci dengan sebuah pelukan membuanya membeku di tempat.
"Sttss."
Bulu kuduk Chintiya seketika berdiri. Bola matanya bergerak ke sana ke mari berusaha mencerna apa yang sedang terjadi,hingga satu menit kemudian.
Fungsi otak Chintiya kembali,ia pun berusaha meronta untuk melepaskan pelukan dari seseorang atau makhluk apapun yang kini ada di belakangnya.
"Stss..gue gak bakalan ngapa-ngapain lo." Bisik orang itu,namun bukannya tenang Chintiya malah semakin panik.
Di gigitnya tangan orang tersebut hingga bungkaman di mulutnya terlepas.
"Hosh..hosh.."
Chintiya mengatur napasnya yang terasa sesak akibat mulut dan hidungnya yang tadi tersumpal. Pelukan di perutnya belum mengendur,namun keberanian Chintiya sudah terkumpul. Kuda-kuda pertahanan pun sudah ia siapkan sebelum berbalik untuk melawan makhluk di belakangnya ini.
"Kamu..."
"Buk...buk....buk.." Sekuat tenaganya,Chintiya memukul-mukul dada manusia lancang di depannya ini.
"Hah..."
Chintiya melotot dengan napas ngos-ngosan setelah ciuman mereka terlepas.
"KURANG AJAR!! Siapa kamu?? Kenapa lancang masuk ke mobilku?"
Teriak Chintiya di depan wajah manusia berwujud pria yang kini tampak senyum-senyum di depannya.
Pria itu masih tersenyum sambil satu tangannya menyalakan penerangan di dalam mobil dan sekarang terpampanglah wajah keduanya dengan lebih jelas.
"Sudah ingat?" Tanya pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah Chintiya hingga hidung mancung keduanya hampir bersentuhan.
"Cabul!!"
"Plak..." Chintiya menampar pelan pipi pria tampan namun kurang ajar yang kini hanya berjarak 0,5 cm dari depan wajahnya.
"Ya ampun,kasar banget sih nih cewek. Liat wajah gue dong,masa lo gak inget sih! Liat baik-baik."
__ADS_1
Pria itu menangkup wajah Chintiya agar mau menatap wajahnya,Chintiya berusaha meronta namun di tahan oleh pria itu.
"Kenalin. Ramadika Wijaya! Cowok ganteng yang lo perkosa di club."
Pria bernama Rama itu dengan santainya mengucapkan kalimat yang hampir membuat Chintiya mati kejang-kejang di tempat.
"A..a..apa maksud kamu?" Tanya Chintiya pura-pura tak paham.
Padahal sekarang ia sudah ingat dan tau betul siapa manusia di depannya ini. Dia kan pria yang waktu itu merenggut kesuciannya saat di mana Chintiya berniat menjebak Aska tapi pagi itu kan Chintiya berhasil kabur lebih dahulu,lalu bagaimana bisa pria ini menemukannya?
"Alah,gak usah pura-pura lupa lo ya. Lo tau gak,gara-gara lo! Keperjakaan gue hilang. Pokoknya gue mau lo tanggung jawab!!"
Ujar Rama tak tau malu.
"Yang bener aja kamu! Di sini saya yang jadi korban,saya yang kamu perkosa. Lagipula sejak kapan ada teori laki-laki di perkosa? Harusnya kamu yang tanggung jawab!"
Chintiya melawan dengan berang. Tingkah laki-laki di hadapannya ini memang kelewat gila dan kurang ajar. Dan kalau di lihat-lihat lagi,Rama sepertinya masih di usia ABG berbeda dengan dirinya yang sudah berusia dua puluh empat tahun. Chintiya memang muda satu tahun di bawah Aska.
"Kalau lo mau gue tanggung jawab,kenapa pagi itu lo kabur? Lo bukan wanita bayaran kan? Harusnya lo gak kabur dong pagi itu. Gara-gara lo kabur nih ya,gue sampe harus ketahan di Jakarta selama sebulan buat nyari keberadaan lo. Jadi siapa yang salah? Gue atau lo?"
"Terserah!!"
Chintiya kembali berteriak dengan nada marah. Daripada meladeni laki-laki gila di hadapannya ini,lebih baik ia keluar dan beristirahat di kamar. Besok ia ada pemotretan.
"Tunggu..." Rama mengikuti Chintiya keluar dan menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
"Apa lagi?"
"Gue ikut lo!"
♡♡♡
Otor : Guys,maaf ngalor ngidul gini ceritanya...
Akohhh lagi badmood tapi maksain diri ngetik...alhasill...jadilah cerita tak guna ini....
Readers : awas aja kalau makin ke bawah makin gaje...gue sleding lu thor...
Otor : Sleding pake like vote komen ya....😂😂😂
Sambil nunggu otor up bab baru...mampir ya guys ke novel temen otor...sinopsisnya ada di bawah sini👇👇👇
__ADS_1